--- On Tue, 9/16/08, Harie Hardiansyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Harie Hardiansyah <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [kampus-tiga] Zakat Langsung Tunai
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Tuesday, September 16, 2008, 12:14 PM
"....salawat. ...salawat. ....!" aku bergegas ke ujung jalan kala teriakan itu
semakin ramai. "...pasti ada yang meninggal... !" pikirku. Tanpa pikir panjang,
aku masuk ke dalam rombongan pengiring keranda mayat, ikut bersama belasan
teman seumuran. Buat aku yang kala itu berumur 6 tahun, orang meninggal berarti
rezeki, tak ada rasa sedih, tandanya uang jajan akan bertambah (kecuali yang
meninggal saudara).
Mataku liar memburu seseorang, ya...aku mencari Mang Amay, orang yang selalu
ditugaskan membagikan sedekah kubur atau uang salawat. setengah kilo aku
berjalan dari rumah ke pemakaman, langkah kakiku semakin mendekat, tapi belum
ku lihat juga Mang Amay. Anak-anak lain pun mulai resah, bahkan sebagian
memutuskan berbalik langkah pulang ke rumah.
Ternyata dia ada di depan gerbang makam, tak seperti biasanya dia naik becak.
ku lihat dia membawa beberapa dus kantong kresek. aku sudah bisa menebak,
isinya pasti setengah liter beras, sebutir telur dan uang seribu rupiah. wah,
yang meninggal pasti orang berada. lazimnya, uang salawat cuma recehan cepe,
paling banter lembaran uang lima ratusan.
Doa kubur hampir selesai, puluhan orang bergegas memburu ke tempat pembagian
salawat. aku pun merangsek ke dalam barisan. kali ini butuh sedikit perjuangan,
jika sedekah bernilai besar, yang antri pun semakin banyak. Setelah berdesakan,
akhirnya kantung kresek berpindah tangan. saat keluar barisan aku lihat
beberapa temanku menenteng katung kresek lebih dari satu. ternyata mereka dua
kali mengantri. sontak saja aku titip kresek ku, aku berlari kembali masuk
antrian, berharap dapat sedekah ganda. perasaan agak was-was, takut ketahuan
Mang Amay yang galak. Karena tingkahku yang gugup, Mang Amay mengenaliku,
bukannya sedekah yang ku dapat, malah getokan di kepala. Sungguh Apes.......
Matahari tepat di kepala, panas menyengat tak terasa sedikit pun, meski kaki
pun tanpa alas. Senang betul aku hari ini, bisa memberikan beras dan telur buat
dirumah. uang seribu, sudah pasti jadi milikku. Betapa tidak, uang seribu kala
itu bernilai sangat besar, soalnya uang jajan mengajiku hanya seratus rupiah
saja. terbayang, aku bisa jajan sepuluh kali dari biasanya. Es mang bakri,
pempek Ceu iyam, batagor Kang Suhe, dan Es Sirop wa Atun, akan ku lahap hingga
habis.......
Kenangan itu yang pertama kali terlintas kala melihat tragedi zakat pasuruan,
sungguh miris. Secara naluriah siapapun akan senang jika mendapat sesuatu
secara gratisan. Anak kecil yang tanpa beban pun akan berusaha mendapatkan
sebanyak-banyaknya, tak peduli apapun caranya. Apalagi seorang ibu yang harus
ikut menanggung hidup keluarganya, tak mudah menghadirkan uang 30 ribu ke
rumah, bisa jadi uang makan 3 hari. Makanya tak mengherankan pembagian zakat
tersebut layaknya parade kemiskinan. Bagi banyak orang kaya, cara seperti itu
adalah simbol status yang akan menaikkan prestise keluarganya di masyarakat.
Siapa yang tak bangga, selama puluhan tahun ribuan orang datang meminta
sedekah.
Harusnya, zakat berdampak hikmah bagi para mustahik, tahun depan tangannya akan
diatas, tak lagi dibawah. tapi logikanya jadi berbalik, meminta sudah jadi
tradisi. bukan tak mungkin, ada banyak warga sekitar rumah hajah saichon yang
tak pernah absen mengantri zakat setiap tanggal 15 ramadan dari tahun 1975, itu
artinya sudah 33 tahun, 33 kali ia mengantri dan berdesakan jadi mustahik.
Bahkan, anak, cucu dan cicit nya pun mengikutinya mengantri. Mudah-mudahan,
peristiwa ini jadi awal perubahan, warga yang trauma mengantri akan berusaha
keras merubah hidupnya jadi lebih baik, pola pikir mereka akan berubah pula,
memberi lebih baik daripada menerima. Semoga, para korban tragedi zakat
pasuruan mendapat tempat yang layak di sisi ALLAH SWT. Amin.
" bagaimana kualitasmu, begitulah kamu akan diperlakukan "