Dimuat Kompas Jawa Barat rubrik Forum, Senin 22 September 2008
Menata Jalan Braga
Oleh Jamaludin Wiartakusumah
Kawasan jalan Braga yang legendaris, seperti juga kota Bandung
sendiri, dibangun pada masa kolonial Belanda, ketika kondisi kota
masih lebih sederhana dan populasi yang masih sedikit dibanding
sekarang yang lebih kompleks. Dahulu jalan itu demikian populer karena
kualitas arsitektur pertokoan dan produk yang dijualnya melebihi
kawasan komersial lain. Namun, kemudian, kehadiran kawasan komersial
di kawasan lain telah membuat Braga ketinggalan jaman. Walaupun di
Braga sekarang terdapat apartemen dan pusat pertokoan di bawahnya yang
disebut Braga Citywalk, tapi tampaknya belum berhasil menghidupkan
seluruh kawasan Braga kembali menjadi kawasan populer Bandung,
sebagaimana diceritakan Haryoto Kunto dalam buku-bukunya mengenai Bandung.
Rencana Pemerintah Kota Bandung mereka ulang atau revitalisasi kawasan
Braga tampaknya akan menemui berbagai kendala terutama daya dukung
kawasan itu yang dibanding kawasan komersial lain sudah tidak lagi
sesuai dengan kondisi kota Bandung sekarang. Tanpa perubahan, kalau
perlu radikal, misalnya dengan merubah kawasan Braga menjadi superblok
yang akan merubah total wajah Braga, kawasan itu rasanya sulit untuk
dapat bersaing dengan model kawasan komersial kontemporer seperti mal
atau plasa. Belum lagi kawasan pemukiman seperti Dago dan Riau yang
berubah menjadi kawasan komersial bentuk baru, menjadi pesaing baru
dengan komoditas yang lebih populer. Kawasan komersial baru memiliki
fasilitas yang kurang dimiliki Braga seperti pepohonan peneduh, lahan
parkir yang luas, desain toko yang kontemporer serta produk yang
populer seperti factory outlet (FO), distro dan café serta restoran
dengan desain mutakhir. Bila keukeuh ingin direvitalisasi, Braga
harus sanggup tampil menyesuaikan diri dalam bentuknya yang sama
sekali lain dan unik.
Kawasan Klasik
Rencana mengganti aspal di jalan Braga dengan batu seperti kawasan
kota tua di Eropa tampaknya berangkat dari pandangan bahwa Braga
dipandang sebagai representasi wilayah klasik kota. Kualitas klasik
Braga harus diimbangi dengan upaya mengembalikan unsur nostalgia
kawasan itu, misalnya dengan mengembalikan fasade toko yang telah
berubah ke model aslinya seperti gaya Art Deco. Dengan begitu, nuansa
klasik Braga secara visual akan kembali muncul.
Untuk menjaga gengsi jalan Braga sebagai pusat pertokoan produk
berkualitas tinggi seperti jaman dahulu, toko-toko di sana tentunya
harus menjual produk-produk merek terkenal yang eksklusif khas gaya
hidup urban yang mungkin sebagian berupa produk impor. Hotel yang ada
di ujung jalan Braga harus dibuat menjulang dan berbintang agar
kualitas kawasan tersebut kembali terangkat. Bila di New York ada
Fifth Avenue, di Los Angeles ada Rodeo Drive, diharapkan di Bandung
ada Braga. Sebagai kawasan legendaris, Braga dapat saja diformat
sebagai kawasan campuran antara pertokoan dengan pusat-pusat
kebudayaan seperti museum dan ruang publik lainnya.
Untuk memberi bobot kawasan antik yang tinggi pada kawasan Braga
barangkali di Braga layak dibangun sebuah museum Kota Bandung, dengan
berbagai objek yang mengisahkan perjalanan sejarah kota Bandung. Di
Braga juga tampaknya tempat yang ideal untuk berdirinya gedung âHall
of Fameâ kota Bandung yang mengoleksi nama-nama warga Bandung bersama
prestasinya yang menjulang dan mengharumkan Kota Bandung dalam
berbagai bidang mulai dari kesenian, ilmu pengetahuan, agama,
olahraga, wiraswata, dan prestasi kebudayaan lainnya. Salah satu calon
daptar itu adalah para pemenang Anugrah Kota Bandung dan juga pemain
legendaris Persib. Format gedung ini barangkali dapat digabung dengan
museum lilin (wax museum) yaitu patung dari lilin tokoh-tokoh terkenal
sebagaimana terdapat dikota-kota Eropa tetapi untuk konteks Hall of
Fame Bandung ini khusus tokoh-tokoh yang memberi warna pada sejarah
Kota Bandung dan Jawa Barat umumnya.
Etalase Industri Kreatif
Alternatif lainnya adalah memanfaatkan potensi dan karaksteristik kota
Bandung yang mulai dikenal sebagai kota kreatif termasuk julukan kota
mode paling dinamis di negeri ini. Berlainan dengan pendekatan klasik
di atas, upaya menyulap kawasan Braga menjadi kawasan kreatif, antara
lain di samping toko yang menjual produk kreatif seperti kriya yang
bersifat souvenir khas Bandung, juga dengan merubah produk yang dijual
toko di kawasan itu dengan komoditas khas Bandung yang sekarang sedang
trend yaitu FO dan distro, yang tentu saja dilengkapi dengan fasilitas
lain seperti café atau restoran. Dengan model ini, wajah toko-toko di
Braga dapat dikemas dalam gaya desain kontemporer seperti postmodern
yang mengacu pada gaya art deco.
Toko-toko buku di kawasan Braga harus dibuat lebih populer dengan cara
seperti yang dilakukan komunitas toko buku anak muda seperti
menyediakan sarana untuk berbagai kegiatan yang berhubungan dengan
dunia buku seperti tempat peluncuran buku baru, bedah buku, temu muka
dengan penulis, dan seterusnya. Gedung Asia Afrika Cultural Center
(AACC) di ujung selatan jalan Braga saya kira tempat yang ideal untuk
berbagai kegiatan yang menunjang kegiatan seperti itu. Intensitas
kegiatan di gedung itu harus dibuat lebih kontinyu dengan variasi
kegiatan lain yang dikemas lebih menarik dan populer.
Adapun bekas kantor Gas Negara sangat ideal untuk dibuat menjadi ruang
publik seperti Museum Kota Bandung, Hall of Fame Kota Bandung atau
tempat berbagai kegiatan budayawan atau seniman termasuk bermacam
pameran karya seni. Sekarang beberapa toko di jalan Braga telah
bersalin rupa menjadi toko lukisan yang semula digelar di trotoarnya..
Beberapa café yang sekarang ada di Braga umumnya hanya buka pada malam
hari. Café jenis ini membuat sebagian wajah Braga pada siang hari
tampak mati. Café-café tersebut harus diformat agar juga buka pada
siang hari agar jalan Braga juga tampak hidup di siang hari.
Dewasa ini berbagai komunitas tumbuh subur di kota Bandung. Salah satu
komunitas sepeda motor besar, Brotherhood, telah bermarkas di Braga.
Kehadiran komunitas anak muda di kawasan ini adalah potensi yang dapat
membangkitkan kawasan Braga menajdi lebih hidup dan dinamis. Kawasan
parkir di Braga yang terbatas dapat terbantu dengan adanya kawasan
parkir di tepi Sungai Cikapundung di samping Gedung Merdeka.
Tentu upaya ini harus didukung dan melibatkan pemilik toko di kawasan
tersebut. Upaya ngawawaas kawasan Braga tidak akan berhasil tanpa
dukungan penuh pemilik toko karena sesungguhnya upaya revitalisasi itu
tentunya untuk meningkatkan arus pengunjung ke kawasan Braga, baik
lokal, warga Jakarta kala liburan, maupun wisatawan mancanegara. Di
sisi lain, masyarakat urban sekarang memberi apresiasi tinggi terhadap
kualitas suatu tempat. Mereka akan bersedia datang untuk sesuatu yang
unik dan khas di suatu kawasan. Nyanggakeun!
Jamaludin Wiartakusumah
Dosen Desain Itenas