Beras Ketan Gunakan Pewarna Ditemukan di Pasar Kawasan Gegerkalong Kota Bandung
BANDUNG, (PR).- Penggunaan pewarna tekstil pada makanan maupun bahan pangan yang dijual di pasar masih ditemukan. Salah satunya, pasar di kawasan Gegerkalong Kota Bandung, dengan ditemukannya jenis beras ketan hitam yang menggunakan bahan pewarna tekstil. Salah seorang konsumen, Letkol (Purn.) Satiman mengaku kebingungan ketika mendapati air beras ketan hitam yang dicucinya berwarna hitam pekat. Semula, dirinya menganggap hal biasa saat air cucian beras berwarna hitam keunguan. "Tapi, sampai dicuci delapan kali juga, airnya tidak juga bersih. Malah, sedikit berbuih dan warna airnya cuciannya menghitam," ujarnya, ketika ditemui di kediamannya di Kompleks Perumahan Angkatan Darat (KPAD) Gegerkalong Jln. Sentosa No. 101 B, Jumat (26/9). Satiman membeli beras ketan hitam untuk keperluan membuat tape ketan sebanyak 4 kg persiapan Idulfitri seharga Rp 10.000,00/kg. Sesaat setelah dicuci, sebagian bulir beras ketan berubah menjadi putih. Saat disentuh oleh tangan, warna kehitaman langsung menempel pada kulit dan sulit dibersihkan meski menggunakan sabun. Bercak-bercak warna hitam pun menempel pada kulit tangan. Khawatir mengandung zat berbahaya, Satiman pun berusaha merendam beras ketam tersebut selama dua hari. "Setelah dicoba dicuci lagi, tetap saja warnanya hitam. Selain itu, ada lapisan mengilap di atas airnya, saya khawatir kalau beras ketan itu diwarnai," katanya. Satiman yang memiliki gangguan mag pada pencernaannya menunda pembuatan tape ketan. "Kalau diteruskan, saya khawatir malah berdampak pada penyakit mag saya. Akhirnya, saya enggak jadi bikin tape ketannya," ungkapnya. Kemerahan Jika memang terbukti ketan tersebut diwarnai, Satiman meminta para pedagang agar tidak meneruskan penjualannya. "Saya enggak menuntut ganti rugi sama pedagangnya, hanya minta kalau memang beras ketan itu dibuat jadi hitam lebih baik enggak usah dijual lagi soalnya bisa ngebahayain buat masyarakat. Untungnya cuma sedikit, tetapi bikin orang jadi sakit," katanya. Sampel beras ketan hitam lalu dibawa ke Dinas Pertanian Kota Bandung. Saat diperiksa lewat rapid test di laboratorium, hasilnya menunjukkan beras ketan tersebut diwarnai menggunakan pewarna tekstil. Hal tersebut terlihat dari larutan indikator yang berubah warna menjadi kemerahan. Kepala Dinas Pertanian Kota Bandung Dedi Mulya menyayangkan temuan tersebut. "Tingkat permintaan beras ketan hitam dan sejumlah bahan pangan lainnya memang meningkat menjelang Lebaran. Akan tetapi, seharusnya pedagang tidak menggunakan cara-cara tidak baik untuk meningkatkan penjualan," ujarnya. Bahan pewarna tekstil termasuk dalam bahan tambahan pangan (BTP) yang berbahaya dan dilarang digunakan dalam makanan sesuai Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor: 1161/Menkes/PER/X/1999. Biasanya, pewarna tekstil mengandung rhodamin B (pewarna merah). Dedi mengingatkan bahaya penggunaan bahan pewarna tekstil pada kesehatan. Bila tertelan ke dalam tubuh, bahan pewarna tekstil itu akan menyebabkan penyakit radang tenggorokan dan gangguan lambung. Bahkan dalam waktu lama berpotensi menimbulkan kanker. Dia mengakui sulit mengawasi para penjual produk pangan di pasaran. Mereka kebanyakan tidak tahu risiko kesehatan yang bakal ditimbulkan dengan mengonsumsi makanan yang menggunakan zat pewarna tekstil dan hanya berorientasi pada keuntungan semata. "Tapi, temuan ini akan ditindaklanjuti oleh petugas dengan mengecek ke pedagang," ujarnya. (A-158)*** Cita: http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php

