Yayat Sudrajat, Ketekunan Tukang Las Baja


KOMPAS/AGUSTINUS HANDOKO / Kompas Images
Yayat Sudrajat
Rabu, 24 September 2008 | 03:00 WIB
AGUSTINUS HANDOKO

Sebelumnya Yayat Sudrajat tidak pernah membayangkan bahwa hari-hari sulit
bersama mata las selama tahun 1992-1997 akan berakhir indah. Kerja keras
dan ketekunan, dengan modal Rp 400.000, telah mengantarkan Yayat menjadi
salah satu bos perusahaan penyedia suku cadang sepeda motor dari Kecamatan
Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Saya memulai usaha dari bengkel logam seluas 4 x 7 meter. Ketika itu saya
mengerjakan pesanan pisau dari tetangga,” ujar Yayat membuka pembicaraan.

Seperti halnya pemilik bengkel logam lainnya, Yayat tak canggung mengelas
sendiri baja untuk membuat berbagai produk yang dipesan konsumen.

Yayat menggunakan modal awalnya untuk membeli satu mesin pres manual dan
sejumlah bahan baku logam. Di bengkel logam miliknya, Yayat terlibat
langsung dalam setiap tahap pengerjaan pesanan kendati ada dua pekerja
yang membantunya. Bagi Yayat, hanya dengan terlibat langsung dalam
pekerjaan, kualitas produk akan terkontrol.

Karena terlibat langsung dalam pengerjaan pesanan, tidak jarang Yayat
mengalami kecelakaan kerja, seperti terjepit jari tangannya, tertimpa pipa
logam, bahkan tersundut api las.

Ia jugalah yang mencari pesanan, membeli bahan baku, menggambar pola,
hingga mengantarkan pesanan agar produk yang dibuat sesuai dengan
keinginan pemesan. Semuanya dilakukan karena Yayat ingin produknya
sempurna.

Kesempurnaan produk itu pulalah yang membuat bengkel logam milik Yayat
dikenal orang sehingga pesanan pun semakin banyak. Bengkel logam milik
Yayat makin terkenal ketika dipercaya oleh pabrikan mobil Daihatsu untuk
memproduksi pijakan kaki (footstep).

Saat keuntungan dari bengkelnya di Desa Cibatu, Cisaat, terus mengalir,
Yayat tidak tergiur menggunakannya untuk melengkapi isi rumah. ”Keuntungan
itu sebagian besar saya gunakan untuk menambah modal dan membeli bahan
baku. Setelah saya yakin bahan baku cukup untuk satu periode berikutnya,
sisa keuntungan baru saya serahkan kepada istri untuk kebutuhan rumah
tangga,” ceritanya.

Saking ”pelitnya”, Yayat baru membeli televisi untuk keluarganya setelah
dua tahun usaha bengkel logam miliknya itu berjalan.

Pada 1997 Yayat memanfaatkan peluang dengan mengambil program Astra Modal
Ventura (AMV) berupa pinjaman dalam bentuk aset sebesar Rp 300 juta. Yayat
dan dua pekerjanya kemudian pindah ke Sentra Industri Kecil Sukabumi
(Sentris) yang dibangun Astra di Desa Cibatu.

”Setelah pindah ke Sentris, produksi makin baik sehingga pesanan juga
semakin banyak. Namun, secara tak terduga krisis moneter menghantam negara
kita dan sektor industri kolaps,” kata Yayat yang juga terkena dampak dari
krisis moneter 1998 tersebut. Padahal, di Sentris saat itu ada 40 perajin
logam yang mengambil program AMV.

Terjerat utang

Ketika krisis moneter menghantam Indonesia, dampaknya terasa sampai di
lokasi industri kecil kerajinan logam di Cisaat. ”Waktu itu pesanan dari
konsumen berhenti. Padahal, saya harus mencicil utang kepada Astra sebesar
Rp 2 juta per bulan. Perkiraan saya mengenai kondisi ekonomi saat itu
benar-benar meleset jauh,” ceritanya.

Yayat, seperti halnya para perajin logam lain di Sentris, hampir
kehilangan akal untuk keluar dari utang yang membelit mereka.

Pada 1999 Astra melikuidasi aset milik para perajin logam karena kredit
mereka telah macet selama satu tahun. Semua aset milik Astra ditarik,
tetapi Astra juga mengganti semua biaya yang telah dikeluarkan oleh para
perajin selama mengikuti program AMV.

Dari penggantian biaya dari Astra, Yayat mendapatkan dana sebesar Rp 62
juta. Uang itu kemudian langsung ia belikan dua mesin pengepres logam
semiotomatis.

”Saya tetap yakin ’jalan’ saya ada dalam usaha logam. Walaupun pernah
jatuh, saya tetap yakin bahwa usaha logam masih memiliki peluang,” ujar
Yayat.

Keputusan Yayat itu berbeda dengan keputusan banyak perajin lainnya. ”Dari
40 perajin yang semula ada di Sentris, sekarang hanya tinggal 11,”
katanya. Sebagian dari para perajin itu menggunakan penggantian biaya dari
Astra untuk hidup mereka sehari-hari dan kini bisa dikatakan habis tak
berbekas.

Pilihannya ternyata tidak keliru. Pada 2000 industri transportasi massal
jalan raya kembali bergeliat. Peningkatan aktivitas ini membuat perusahaan
karoseri bus kewalahan menerima pesanan sehingga sebagian suku cadang
harus dipesan kepada para perajin logam di Cibatu.

Yayat yang sempat kembali menekuni pembuatan perkakas rumah tangga setelah
mendapat penggantian dari Astra kemudian juga terjun dalam pembuatan suku
cadang bus tersebut.

Jatuh-bangun

Selama kurun waktu 2000-2004 industri bus amat menjanjikan bagi para
perajin logam. Yayat bahkan berani menambah pekerja sampai menjadi 40
orang.

”Saya juga menambah beberapa mesin lagi untuk kebutuhan operasional
pabrik,” katanya.

Tidak disangka, badai krisis kembali menerpa sektor usaha pengolahan logam
yang digeluti Yayat dengan bendera PT Barkah Jaya Mandiri itu. Pada 2004
industri karoseri bus terpuruk ketika maskapai penerbangan baru tumbuh bak
cendawan pada musim hujan dengan tawaran harga tiket yang amat murah.

Pabrik pengolahan logam yang dirintis Yayat kembali oleng. Dalam
keterpurukan usaha, ia kemudian memutuskan untuk terjun dalam pembuatan
suku cadang sepeda motor. Padahal, ketika itu industri tersebut belum
menampakkan prospek yang bagus. Yayat mengerjakan pesanan dari vendor
sepeda motor Yamaha.

Pilihan yang diambil Yayat ternyata tidak keliru. Dalam waktu yang relatif
singkat industri sepeda motor booming sehingga pesanan suku cadang pun tak
surut hingga sekarang.

Kondisi itu ”memaksa” Yayat menambah jumlah pekerja di pabriknya menjadi
120 orang. Omzetnya pun rata-rata hampir mendekati Rp 1 miliar setiap
bulan.

Dari jatuh-bangun usaha yang ia rintis itu pula Yayat bisa mengambil
pelajaran yang baginya sangat berharga. ”Kalau kita jujur dalam
mengerjakan segala sesuatu, usaha kita akan tetap lancar,” ujarnya
berfilosofi.

Yayat memang benar, ketidakjujuran itulah yang belakangan ini menjadi
masalah besar di Indonesia. Akibatnya, berbagai persoalan yang ada bisa
dikatakan tak kunjung teratasi.

mj

http://geocities.com/mangjamal
http://mangjamal.multiply.com



Kirim email ke