sae pisan artikelna kang,nuhun
memang bener pengalaman spiritual mah sangat personal, beda-beda unggal
jalma  tiasa ditepakeun
in the end it's your own struggle, it's your own fight
unggal-unggal jalma tanggel waler  kana kalakuan masing-masing

2008/10/8 oman abdurahman <[EMAIL PROTECTED]>

>   Sakumaha biasana, kalawan gaya komunikasina anu kentel sareng "khas"
> anjeunna, Kang Jalal ngorejatkeun urang sadaya ku seratanana. Namung,
> lain wae tulisanana komunikatif, rujukan sareng dasar-dasar elmuna oge
> kiat kang Jalal teh. "Para Perampok Tuhan" netelakeun yen dina
> beragama atawa ngalaksanakeun agama, nepi ka mana wae oge tetep akal
> sehat kedah dikapayunkeun. Kesadaran sareng iketan oge kaimanan
> (karana) intelektual, langkung sae tinimbang karana emosional atawa
> komunal. Paingan, dina Alqur'an, kecap "aql" (akal) sawalasna dina
> wangun kecap gawe alias kata kerja.
>
> Seratan Kang Jalal (aslina ti Cicalengka anjeunna teh) ieu tetep
> relevan dugi ka iraha wae oge. Sok komo jaman ayeuna anu ummat Islam
> seueur keneh katipi atawa kaperdaya ku kelompok-kelompok sempalan anu
> ukur ngulinkeun emosi masyarakat. Pamugi urang sadaya henteu mengpar,
> oge teu ngamengparkeun sareng henteu tiasa dipengparkeun tina jalan ka
> Gusti Alloh. Amin.
>
> manar
>
> 2008/10/8 Waluya <[EMAIL PROTECTED] <waluya2006%40yahoo.co.id>>:
>
> > Nyanggakeun artikel lenyepaneun pangpangna keur "urang kota" nu biasana
> sok
> > halahab ku karohanian. Tina Kolom Majalah Tempo, 33/XXXVII 06 Oktober
> 2008
> > :
> >
> > Para Perampok di Jalan Tuhan
> > Djalaluddin Rahmat
> > Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia
> >
> > Sects and Errors are synonymous. If you are a peripatetic and I am a
> > Platonist, then we are both wrong, for you combat Plato only because his
> > illusions offend you, and I dislike Aristotle only because it seems to me
> > that he doesn't know what he's talking about.
> > Voltaire, Philosophical Dictionary
> >
> > "Aku tidak bisa melepaskan diri dari bayangan guruku. Ia masuk dalam
> > mimpi-mimpiku. Pada suatu malam aku pernah terbangun. Aku duduk dalam
> > lingkaran. Di situ ada guruku, Nabi Muhammad, Tuhan, dan Yesus. Guruku
> > menyebutku Hafshah, salah seorang istri Nabi Muhammad. Aku pernah melihat
> > Nabi Muhammad datang kepadaku; memanggilku dengan mesra. Pendeknya,
> kemudian
> > terjadilah pergaulan suami-istri antara Hafshah dan Nabi Muhammad.
> Beberapa
> > saat setelah itu, aku baru sadar bahwa Hafshah itu aku dan Nabi Muhammad
> itu
> > adalah guruku itu," Helen, bukan nama sebenarnya, mengadukan nasibnya
> > kepadaku.
> >
> > Helen sarjana dan profesional. Ia cerdas dan kaya. Ketika ia mulai
> tertarik
> > pada hal-hal spiritual, kawannya membawanya ke pengajian tasawuf. Ia
> > diperkenalkan kepada seorang ustad. Bukan ustad terkenal. Tampaknya ustad
> > itu tidak mengisi pengajian umum. Ia memusatkan pengajarannya pada
> komunitas
> > khusus dengan tema khusus. Di seluruh alam semesta, hanya dia yang
> mempunyai
> > pengetahuan khusus, ilmu makrifat. Ia mau berbagi ilmu makrifat itu hanya
> > kepada manusia-manusia pilihan yang ingin berjumpa dengan Tuhan. Dengan
> > mengamalkan ritus-ritus tertentu-berzikir, berpuasa, dan bersemadi-Helen
> > berhasil melihat Tuhan. Berkali-kali sesudah itu, ia mengalami "trans".
> Ia
> > bukan hanya berjumpa dengan Tuhan. Ia juga dapat berkencan dengan para
> nabi.
> >
> > Makin "dalam" pengalaman rohaniahnya, makin bergantung dia kepada sang
> > ustad. Helen yang cerdas kehilangan daya kritisnya ketika ia mendengar
> > kalimat-kalimat gurunya. Ia berikan apa pun yang dimintanya, mulai waktu,
> > uang, kendaraan, rumah, sampai kehormatannya. Ia sudah menjadi sujet di
> > hadapan juru hipnotis. Semua dilakukannya di bawah sadar, sampai ia
> > disentakkan oleh salah satu kuliah psikologi. Sebuah buku dengan judul
> > Saints and Madmen menyadarkan dia bahwa gurunya dan juga dia bukan orang
> > suci, tapi orang gila. Ia bukan mengalami pengalaman rohaniah, tapi
> gangguan
> > mental. Sayangnya, kesadaran itu muncul setelah ia kehilangan banyak.
> >
> > Tak terhitung banyak orang seperti Helen. Manusia modern yang jenuh
> dengan
> > materialisme gersang. Ia merindukan pengalaman rohaniah. Ada yang kosong
> > dalam jiwanya. Kekosongan itu tidak bisa diisi dengan seks, hiburan,
> kerja,
> > bahkan ajaran-ajaran agama yang dianut oleh kebanyakan masyarakat. Ia
> ingin
> > getting connected dengan Yang Ilahi. Ia sudah kecapaian dengan logika dan
> > angka. Ia ingin meninggalkan dunia yang dingin dan kusam menuju alam yang
> > hangat dan cemerlang. Ia ingin mendapat-sebut saja-pencerahan rohaniah.
> Ia
> > tidak mendapatkannya dalam institusi-institusi agama.
> > Dalam kerinduan spiritual itu, muncullah guru. Ia menawarkan pengalaman
> > rohaniah yang "instan". Kalau kamu sudah kecapaian dengan logika dan
> angka,
> > masuklah bersama guru ke dalam dunia rasa dan percaya. Bunuh rasionalitas
> > dan tumbuhkan spiritualitas (seakan-akan keduanya bertentangan). Dengan
> > memanipulasi ajaran-ajaran esoterik dalam setiap agama, guru
> > menegaskan-sambil mengutip Rumi-"di negeri cinta, akal digantung".
> >
> > Kalau akal sudah digantung, terbukalah peluang bagi guru untuk
> memanipulasi
> > pikiran para pengikutnya. Aku menemukan bahwa teknik-teknik menggantung
> akal
> > yang dilakukan para guru itu sepenuhnya melaksanakan nasihat Dostoyevsky
> > dalam The Brother of Karamazov: "Ada tiga kekuatan, dan hanya tiga, yang
> > dapat menaklukkan dan melumpuhkan semangat para pemberontak ini. Yang
> tiga
> > itu ialah mukjizat, misteri, dan otoritas." Tentu saja hampir tidak ada
> di
> > antara para guru itu yang membaca Dostoyevsky.
> >
> > Mukjizat sebenarnya adalah kumpulan dari halusinasi, ilusi, dan delusi.
> Guru
> > menciptakannya dengan "merusak" otak pengikutnya melalui ritual yang
> > aneh-aneh. Salah satu teknik yang paling populer dan paling efektif
> adalah
> > pengurangan waktu tidur (sleep deprivation), apalagi bila dibarengi
> dengan
> > tidak makan (food deprivation). Dalam keadaan normal, otak kita
> > mensintesiskan "pil tidur alamiah" sepanjang waktu bangun kita. Sesuai
> > dengan ritme biologis, kita tidur pada waktu malam. Karena deprivasi
> tidur,
> > pil tidur alamiah itu berakumulasi dan bermetabolasi menjadi
> produk-produk
> > beracun. Lalu timbullah mula-mula gangguan mood-pergantian antara euforia
> > dan depresi. Menyusul gangguan mata yang menimbulkan halusinasi (melihat
> > cahaya dan benda-benda bergerak), delusi, dan puncaknya disorganisasi
> > pikiran (sederhananya, gangguan jiwa). Seperti pengurangan tidur, guru
> juga
> > menciptakan pengalaman rohaniah dengan upacara, seperti latihan masuk
> kubur,
> > gerakan kolektif yang berulang-ulang, atau penggunaan obat-obat kimiawi.
> > Murid mengira mereka mengalami pengalaman gaib. Ahli neurologi
> menyebutnya
> > kerusakan otak (brain damage).
> >
> > Karena pengalaman rohaniah yang mereka alami, mereka merasa dibawa ke
> alam
> > gaib. Di sekitar kehidupan guru berkumpul berbagai misteri. Guru pemilik
> > ilmu-ilmu yang sangat rahasia. Guru malah mengembangkan bahasa sendiri.
> > Istilah-istilah agama diberi makna baru. Perjalanan bersama guru adalah
> > perjalanan menyingkap tirai-tirai kegaiban. Murid tidak bisa menyingkap
> > rahasia itu tanpa bimbingan guru. Seperti kata Dostoyevsky, dengan
> > menggabungkan mukjizat, misteri, dan otoritas, bertekuklah jiwa-jiwa
> kritis
> > ke kaki sang Pembawa Pencerahan.
> > Helen sekarang sadar bahwa ia telah jatuh kepada perampok di jalan Tuhan.
> > Hati-hati, dalam perjalanan menuju pencerahan jiwa, Anda akan disabot
> oleh
> > apa yang disebut Jean Marie-Abgrall sebagai Soul-Snatchers, para pencuri
> > jiwa. Helen masih berjuang menyembuhkan luka-luka jiwanya; sebenarnya
> > kerusakan dalam otaknya. Aku menganjurkan dia untuk berobat ke psikiater.
> Ia
> > menolaknya.
> >
> > Lama aku kehilangan Helen. Secara kebetulan, aku menemuinya dalam satu
> > acara. Aku menanyakan mengapa ia tidak lagi mengontak aku. Ia menarik aku
> ke
> > tempat sepi. Dengan muka yang penuh ketakutan, ia berbisik: gurunya sudah
> > tahu bahwa ia telah melaporkan keadaannya kepadaku. Ia mendapat ancaman.
> Ia
> > diperingatkan agar memutuskan semua hubungan dengan masyarakat di luar
> > komunitasnya.
> >
> > Bersamaan dengan hilangnya Helen, Juliet Howell, peneliti sufisme urban,
> > muncul lagi di hadapanku. Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ia
> > mewawancaraiku perihal tasawuf di masyarakat kota. Waktu itu aku
> > menyelenggarakan kelas-kelas tasawuf di daerah elite. Kali ini ia
> bertanya
> > tentang pengalamanku membina tasawuf. Ia juga bertanya tentang yayasan
> > kajian tasawuf yang aku kelola. Aku bilang aku sudah tidak lagi berurusan
> > dengan tasawuf. Ia bertanya tentang muridku yang paling "sufi". Aku
> jawab,
> > "Ia
> > sudah mencapai makrifat setelah belajar dikuburkan hidup-hidup." Howell
> > mendesak bagaimana caranya membedakan gerakan tasawuf yang benar dengan
> > gerakan para perampok di jalan Tuhan. "Gunakanlah ukuran UUD dan UUS,"
> > jawabku, "apabila Anda menemukan gerakan itu ujung-ujungnya duit atau
> > ujung-ujungnya seks, Anda sudah disimpangkan dari jalan Tuhan. Ada dua
> juga
> > yang membedakan saints dengan madmen: bila setelah mendapat pengalaman
> > rohaniah, Anda merasa diri Anda rendah dan bergairah untuk menyebarkan
> kasih
> > ke seluruh alam, Anda adalah orang suci. Bila Anda merasakan diri Anda
> lebih
> > saleh daripada semua orang dan Anda hanya bergairah untuk mengasihi guru
> > Anda, Anda adalah orang gila. Anda sudah masuk perangkap Soul-Snatchers.
> > Gitu aja, kok repot!"
> >
> >
>  
>

Kirim email ke