Menggagas Sunda di Jagat Maya

MENYEBUT "kasundaan" bisa berarti bahasanya, laku tindaknya, asal-asulnya,
keseniannya, dan macam rupanya yang termaktub di dalam sejarah. Namun,
seperti diketahui, sejarah itu sendiri belum terbongkar semua.
Naskah-naskah yang berasal dari berabad-abad lalu belum tuntas diteliti.
Malah, ada sebagian yang mulai rusak tak terbaca.

Revitalisasi dan pelestarian budaya lokal hampir bisa dikatakan sebagai
tindakan yang tidak ada henti. Pelbagai upaya, cara, dan tindakan dilakoni
budayawan, seniman, ilmuwan, dan masyarakat awam terhadap budaya, yang di
dalam budaya tersebut tinggal jati diri mereka sesungguhnya.

Seperti yang diungkapkan oleh Dr. Endangcaturwati, Kepala Pusat Penelitian
dan Pengabdian Masyarakat STSI, tanggung jawab terhadap budaya Sunda
adalah tanggung jawab orang Sunda itu sendiri.

Sebab, kata dia, kebudayaan itu berkembang dan lahir dari masyarakat.
Kebudayaan lama yang berkembang bisa saja tergeser oleh kebudayaan baru.
Artinya, sepanjang pelaku masih menggunakannya. "Tetapi, ada filosofi di
dalam kebudayaan lama yang tidak bisa dihilangkan," ujarnya.

Lantas bagaimana menjawab tantangan di dunia digital hari ini? Dunia
digital, atau ringkasnya orang menyebut internet memang fenomena luar
biasa di abad ke-21. Tesis dunia tidak berjarak, ingin dibuktikan oleh
internet. Koneksitas itu pun mengandung misi diplomasi budaya tanpa
melalui jalur negara.

Orang Sunda di kota besar sudah akrab dengan internet. Kalau ukurannya
fasilitas mailing list (komunitas di dunia maya), bisa disebut Komunitas
Urang Sunda di Internet (KUSNet) serta Ki Sunda, sebagai contoh. Selain
milis, situs-situs pribadi dengan bahasa dan isi kenaan sastra, cerita,
gambar tentang Sunda juga lumayan bermunculan.

Milis KUSNet, misalnya, memajang deskripsi milis sebagai forum komunikasi
masyarakat yang ada di dunia. Di milis itu anggota bisa berdiskusi serius
dan santai. Bisa juga melempar karya sastranya untuk dikritik. Deskripsi
yang hampir sama ada di milis Ki Sunda.

Sewaktu berbincang dengan Kampus, moderator KUSNet, Jamaludin, menyebut
milis sebagai "rumah". Milis ini seperti rumah bagi mereka yang sudah
melanglang buana dan ingin kembali. Minimal, menemukan orang yang masih
berbahasa Sunda.

Apa yang mereka cari ketika menemukan KUSNet?

KUSNet adalah pertemuan orang-orang Indonesia di mana pun mereka berada.
Ada yang dari Korea, di Amerika, Jerman, dan lain-lain. Ada orang
Cicalengka tapi sekarang jadi warga New York. Dia, seperti orang Sunda
yang "puasa nemu Lebaran".

Milis ini jadi ruang pertemuan/bulu perindu/obat kangen. Orang bisa
mengekspresikan kesundaannya. Dan, dari milis ini jadi penanda bagaimana
potensi orang Sunda di mana-mana.

Sebelum ada internet, agak susah memang berkumpul seperti ini. Paling
tidak dengan organisasi/kumpulan orang Sunda di suatu wilayah. Dengan nama
paguyuban orang Sunda anu.

Apakah yang dilakukan orang Sunda ketika berkumpul di dunia maya?

Tidak ada yang khusus, selain media ngobrol pake bahasa Sunda. Selain yang
dilakukan dengan ngobrol, apa yang dilakukan KUSNet pada akhirnya jadi
tempat untuk mengembangkan fund raising.

Dari mulai membantu orang sakit, membantu korban bencana di Pangandaran,
memberikan sumbangan ke korban letusan Papandayan, dan membantu
pengetahuan orang Sunda dengan bantuan buku-buku. Kami sudah buat Yayasan
Perceka. Programnya membuat perpustakaan ke desa-desa dan memberi
beasiswa. Buku-buku yang diberikan bertema bacaan anak-anak, terutama yang
berbudaya Sunda, juga budaya-budaya di tempat lain.

Apakah ada semangat "chauvinis"?

Tidak. Karena yang mengemuka adalah ekspresi budaya yang sifatnya
asal-usul. Ekspresinya masing-masing berbeda. Ada yang serius, bercanda,
agamis, dan lain-lain. Tidak harus jadi "chauvinis". Yang kritis terhadap
Sunda itu sendiri juga banyak.

Ada perdebatan menuju sarkasme?

Ada kuncen (moderator) yang bisa mencegah atau bahkan mengusir dia dari
milis.

"Digitalisasi" Sunda

Banyak ragam dilakukan orang di internet. Begitu pula banyak misi yang
dibawa seseorang ke dunia maya. Orang Sunda di Internet juga melakukan hal
yang sama. Apa yang terjadi di KUSNet merupakan konsensus yang disepakati.
Menjaring orang misi awalnya. Selanjutnya menggarap potensi yang dimiliki.

Termasuk pada akhirnya lempar-melempar ide untuk mengomputerisasi aksara
Sunda terwacana di milis. Dan, forum dunia maya menyediakan cara yang
praktis untuk memperbincangkannya. Hal yang agak susah dilakukan jika di
dunia fisik. Terutama mengumpulkan orang untuk berbicara tentang tema
tersebut.

Dadan Sutisna, seorang anggota Tim Aksara Sunda untuk Unicode, mengatakan,
komputerisasi aksara itu adalah salah satu cara memulai eksistensi
kesundaan. Setelah aksara, digitalisasi buku-buku sunda adalah misi yang
segera harus dilakukan.

Dadan, yang dua kali menerima penghargaan kebudayaan dari Yayasan Rancage,
memulainya dengan cara autodidak. Ia memulai melakukan digitalisasi
buku-buku sunda terbitan Kiblat, di mana ia bekerja, dalam beberapa tahun
terakhir. Selain itu, ia pun mulai mengusung ide-ide baru tentang aplikasi
perangkat lunak sebagai media bahan ajar kasundaan.

Apa cita-cita Anda terhadap Sunda?

Saya pikir sudah seharusnya orang Sunda memiliki kamus digital. Kamus
digital yang praktis dan versi multimedia. Misal, bagaimana membedakan
macam-macam kata yang susah diterjemahkan dengan kata-kata. Misal,
sinonim, ngajleng, ngajret, luncat, dan lumpat.

Apa yang mungkin diberikan dunia digital terhadap Sunda?

Dokumentasi. Ini bakal jadi rujukan untuk mengembangkan apa pun. Kalau
kita sekarang sedang mengangkat aksara sunda. Kita perlu buku-buku
digital. Ada beberapa buku, termasuk terbitan Kiblat yang sudah
didigitalisasi. Dari situ saya ingin punya database kasundaan. Upaya ini
bisa meringkas perpustakaan Sunda. Perlu kamus digital. Bahwa urusan basa
Sunda tidak hanya sastra. Tapi ke depannya perlu juga kamus Sunda
kedokteran atau ekonomi. Itu adalah khazanah yang mesti dibongkar.

Bagaimana Anda melihat keberkaitan pengajaran bahasa Sunda dengan
perkembangan teknologi mutakhir?

Soal ketinggalan atau tidak dengan etnis lain, bukan sesuatu yang utama.
Yang jelas, belum ada yang fokus untuk mengembangkan keteknologian Sunda.
Semua orang punya urusan masing-masing.

Pengajaran masih di titik konvensional. Tidak ada perbedaan pengajaran
bahasa Sunda sejak zaman sekolah saya sampai sekarang. Belum ada upaya
untuk menyambungkan kondisi kemajuan teknologi, kesukaan anak-anak, dengan
pengajaran bahasa Sunda. Misal, anak-anak suka dengan game. Jika game itu
bisa dimasukkan ke dalam pengajaran tentu bisa menarik perhatian lebih.
Syaratnya tentu pengajarnya harus melek teknologi.

Guru bahasa Sunda yang sudah menelusuri budaya digital maka pasti akan
lebih inovatif. Kadang-kadang ada alat tidak ada bahan. Tapi kadang ada
alat dan bahan, tapi tidak bisa mempergunakannya.

Di mana masalahnya? Keengganan atau apa?

Ada tiga yang berkaitan; alat, bahan, dan yang menggunakan. Ketiganya
harus berimbang. Dinas Pendidikan di suatu waktu harus sudah mulai
memperkenalkan IT. Jangan cuma yang dibahas kurikulum lagi. Karena prospek
IT di Indonesia sangat menjanjikan. ***

agus rakasiwi
[EMAIL PROTECTED]

---------
mj

http://geocities.com/mangjamal
http://mangjamal.multiply.com



Kirim email ke