ti rubrik Kampus Pikiran Rakyat poe Kemis 16 Oktober 2008

Upaya Digitalisasi "Ki Sunda"

 http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=37401

"Kaganga Cajanya tadana pabama yarala wasaha" adalah alfabetis aksara
Sunda. Aksara ini akan dikenal dunia sebentar lagi!

AKSARA merupakan rekaman sejarah. Simbol-simbol dan cara penulisannya
menandai tahap kehidupan manusia, sejarah. Di sana ada cerita manusia
dengan manusia, manusia dengan alamnya, dan manusia dengan Tuhannya.

Ada ribuan aksara di dunia. Misal, orang Jepang masih mempergunakan aksara
Hiragana dan Katakana. Begitu juga dengan aksara Hangul oleh bangsa Korea
dan tentu saja, aksara Arab di Timur Tengah. Namun di sisi lain dunia, ada
banyak aksara yang hampir hilang ditinggal pemakainya atau terdesak suatu
aksara yang telah mendunia, Latin.

Itu termasuk aksara-aksara dari suku-suku tradisional Indonesia yang
mengalami stagnasi atau bahkan hampir punah. Nyaris punah karena aksara
tersebut akan hilang bersama melapuknya media yang didiaminya. Media
tulis, yang terbuat dari kertas, kulit, dan daun apakah bisa bertahan
lama?

Juga, pembacanya. Berapa banyak masyarakat modern dari etnis Sunda, Jawa,
Bugis, Bali, dan Rejang yang bisa membaca aksara kuno masing-masing
etnisnya? Ambil contoh di Sunda, tinggal sedikit yang bisa membaca.
"Aksara orang Sunda tidak lebih dari sepuluh jari yang bisa membaca dan
menerjemahkannya," ujar Undang Ahmad Darsa, dosen dan peneliti pada
Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.

"Loka jagatdita"

"Tempat mempelajari kesejahteraan dunia" inilah arti Loka Jagatdita.
Istilah ini tertera di papan nama Gedung Jurusan Planologi, Institut
Teknologi Nasional. Tahun 2005, papan nama gedung Itenas mulai mengambil
istilah dari bahasa Sunda Kuno. Hampir semua gedung dinamai dengan istilah
dari bahasa Sunda kuno. Aksara yang tertera juga bukan hanya Latin. Ada
aksara Sunda kuno tertera di dalamnya.

Ekspresi untuk memasyarakatkan aksara Sunda ini juga dilakukan oleh
komunitas Mahanagari lewat produk kaus mereka. Eskpresi kaus mereka
mencantumkan alfabet sunda kuno Ka-Ga-Nga. Oktober tahun lalu, ungkapan
cinta budaya lokal tecermin lewat pameran lukisan "Aksara Sunda" di
Yayasan Pusat Kebudayaan, Jln. Naripan, Kota Bandung. Masyarakat Kuningan,
Jawa Barat, menghiasi papan nama jalan mereka dengan aksara Sunda kuno.

"Inilah kreativitas dan juga upaya melestarikan aksara yang menjadi milik
orang Sunda," ujar Tedi Permadi, pengajar di Universitas Pendidikan
Indonesia. Tedi juga salah seorang anggota termuda saat menjadi bagian Tim
Pengkajian Aksara Sunda.

Tiga abad. Selama itulah aksara ini tenggelam. Aksara ini hanya tercantum
dalam naskah-naskah lama juga di batu-batu prasasti. Aksara yang
menandakan kreasi orang Sunda mengabadikan pengetahuan dan pengalaman
manusia, tenggelam setelah abad ke-16. "Ada yang menyebut aksara Sunda itu
meminjam aksara Jawa yang disebut hanacaraka/cacarakan," ujar Undang yang
bertahun-tahun menerjemahkan naskah kuno Sunda. Orang Sunda memang tidak
murni memiliki aksaranya sendiri. Campur dan pengaruh dari aksara budaya
bangsa lain turut memengaruhi. Katakanlah aksara Pallawa dari India.
Menurut data sejarah, orang Sunda melewati tujuh jenis aksara yang terbagi
dalam beberapa masa.

Dari bukti-bukti itu, orang Sunda diketahui punya budaya tulis sejak abad
ke-5 Masehi, pada masa Kerajaan Tarumanagara. Hal itu tampak pada prasasti
yang dimuat dalam buku berjudul Versvreide Geschriften; Inschripties
vanden Indichen Archipel.

Sekitar zaman Kerajaan Sunda, antara abad ke-8 sampai dengan abad ke-16,
ditemukan peninggalan berupa naskah berbahan lontar, nipah, kepala, dan
belahan bambu. Naskah-naskah yang diketemukan saat ini usianya cukup tua.
Berasal dari abad ke-14 hingga abad ke-16 Masehi. "Jumlah naskah itu
ribuan yang tersebar di masyarakat. Baru sedikit yang baru bisa dibaca dan
diterjemahkan," tutur Undang.

Bahwa orang Sunda memiliki karakter aksaranya sendiri diungkapkan oleh
Karel Frederik Holle. Dia seorang Belanda yang memiliki perkebunan di
daerah Garut. Dia juga seorang konsultan untuk pemerintah Hindia-Belanda.
Jasa Holle terhadap Sunda dimulai ketika ia bekerja sebagai juru tulis
pada 1846. Sambil mempelajari bahasa dan budaya Sunda, ia membuka-buka
naskah kuno dan mempelajari prasasti. Ia bisa mengumpulkan sekitar 171
naskah berbahasa Sunda.

Elis Suryani N.S., mantan Ketua Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra
Unpad, menjelaskan Holle mula-mula merintis penggarapan naskah-naskah
lontar dari wilayah Sunda. Holle mengatakan lontar-lontar yang diteliti
berisi teks dalam aksara dan bahasa Sunda buhun. Salah satunya, Carita
Parahyangan (1882).

Sejak itu, mulai abad ke-19, upaya transliterasi, terjemahan, kajian isi,
dan linguistik diteruskan oleh banyak ahli. Sebut saja nama-nama seperti,
C.M. Pleyte dan Dr. J. Noorduyn dari Belanda. Seterusnya nama-nama ilmuwan
lokal seperti, Poerbatjaraka, Atja, Saleh Danasasmita, Ayatrohaedi, Edi.
S. Ekadjati, Undang A. Darsa, dan Tien Wartini.

Dari buku Direktori Aksara Sunda untuk Unicode, terbitan Balai
Pengembangan Bahasa Daerah Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, penemuan
naskah-naskah Sunda selanjutnya hingga abad ke-20 telah dicatat dalam
beberapa laporan berupa buku katalog naskah yang dikerjakan oleh Juynboll
(1899, 1912), Poerbatjaraka (1933), Pigeaud (1967-1968, 1970), Sutaarga
(1973), Ekadjati dkk. (1988), Viviane Sukanda-Tessier & Hasan Muarif
Ambary (1990), dan Ekadjati &Undang A. Darsa (1999).

Naskah dan aksara ini memiliki keterhubungan. Tanpa jasa ilmuwan menggali
naskah-naskah berbahasa Sunda, aksara Sunda kuno bisa jadi tidak
ditemukan. Dari data Undang, ada 12 naskah lontar dan nipah Sunda kuno
yang ditangani menggunakan aksara dan bahasa Sunda kuno. Ada 8 lainnya
yang memakai aksara Buda dengan bahasa Sunda kuno dan Jawa kuno. Masih ada
sekitar 2.000 naskah yang berhasil dikumpulkan tapi belum terbaca.

Dikomputerisasi

April 2008, aksara Sunda resmi masuk ke standardisasi Unicode versi 5.1.
Unicode ini adalah sebuah konsorsium, yang membuat standar encoding
character set pada sistem komputer. Lewat ini aksara sudah bisa dikenal
luas di seluruh dunia lewat komputer, apa pun platform, program, dan
bahasa yang digunakan.

Sebelum ada Unicode, tiap aksara tradisional mempunyai standar sendiri dan
berbeda untuk masing-masing sistem komputer. Tidak setiap komputer mampu
membaca aksara. "Manfaat terbesar adalah interaksi berbagai informasi dari
berbagai bangsa secara langsung," ujar Dian Tresna Nugraha. Sejak 2004, ia
bekerja di perusahaan semikonduktor Infineon sebagai insinyur elektronika
kendaraan di Jerman.

Tahun 2005, wacana memasukkan aksara ke Unicode dimulai di mailing list
Komunitas Urang Sunda di Internet (Kusnet). Diskusi berupa jenis, jumlah,
dan tata penulisan aksara berlangsung seru. Namun tidak ada aksi ke
Unicode. Dian Tresna Nugraha yang saat itu tinggal di Jerman, mencari tahu
keberadaan font aksara Sunda di internet. Karena tidak menemukan, ia
mencoba membuatnya. Versi awal itu dikirim ke milis Kusnet. "Sambutannya
cukup lumayan. Ada masukan dan koreksi. Bahkan saya dikirimi tambahan
buku," kata Dian, membalas surat elektronik milik Kampus.

Kebetulan ada seseorang dari konsorsium yang ikut minat terhadap Sunda,
Michael Everson. Dia adalah ahli aksara dunia dari Irlandia. Tahun 2006,
Everson mengirim proposal aksara Sunda ke Unicode Technical Committee
(UTC) untuk bisa mendapat pengakuan dari Konsorsium Unicode. Orang Jawa
Barat sendiri tidak tahu ada proposal yang masuk.

"Lalu kami berkomunikasi dengan Everson. Dari situ kami mulai kirim
bukti-bukti foto berupa naskah kuno dan prasasti yang terbuat dari aksara
Sunda," ujar Oman Abdurahman, Ketua Tim Aksara Sunda untuk Unicode yang
dibentuk atas SK Gubernur tahun 2008.

Proses panjang itu bisa direguk hasilnya. Selangkah lagi aksara Sunda
mulai dibuat variasi font-nya dan penyempurnaan lainnya. "Sasaran pertama
adalah para guru. Ada 6.000 guru yang telah mendapat sosialisasi.
Selanjutnya masuk muatan lokal pengajaran bahasa Sunda," ujar Idin
Baidillah, Kepala Balai Pengembangan Bahasa Daerah, Dinas Pendidikan Jawa
Barat. Tugas itu merupakan kewajiban yang disyaratkan Peraturan Daerah
Provinsi Jawa Barat No. 5/2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan
Aksara Daerah.

Pembakuan aksara Sunda sudah tercantum dalam SK Gubernur No. 434/1999.
Surat ini keluar setelah Tim Pengkajian Aksara Sunda merumuskan
hasil-hasil lokakarya 1997 di Kampus Unpad, Jatinangor, Sumedang. Misi ini
adalah misi identitas yang telah lama dikampanyekan.

Aksara merupakan salah satu untuk menampilkan ciri suatu etnis.
Mengomputerisasi aksara Sunda, selain untuk pengajaran, juga penting untuk
pendokumentasian naskah kuno. Membongkar naskah-naskah itu nantinya bisa
menjawab sejarah panjang Sunda. Di mana selama ini naskah-naskah yang
ditulis dari naskah-naskah kuno didokumentasikan dalam mikrofilm. ***

agus rakasiwi
[EMAIL PROTECTED]

mj

http://geocities.com/mangjamal
http://mangjamal.multiply.com



Kirim email ke