kuring boga babaturan ngarana teh efendi, mun daftar nanahoan wae tuluy
ngarana perlu ditulis pasti  kieu ngomongna teh
"Nama saya efendi, nulisnya pake ep jangan pake pe"
manehna resep naek vespa, calana lepis jeung panta rasa grep

Tulisan agus Agus Fitriandi, http://indonesiasejahtera.wordpress.com
Mengapa Orang Sunda Sulit Melafalkan Huruf
"F"?<http://indonesiasejahtera.wordpress.com/2008/01/28/mengapa-orang-sunda-sulit-melafalkan-huruf-f/>Saya
sering iseng  bertanya, kenapa orang sunda kesulitan melafalkan huruf "F"?
Kesulitan ini tidak hanya di temukan pada masyarakat awam, tapi juga pada
masyarakat yang yang tergolong berpendidikan cukup tinggi. Saya pernah
menemukan beberapa diktat kuliah Perguruan Tinggi Negeri  ternama di
Bandung, yang disusun oleh dosen asli Sunda, yang banyak memuat kekeliruan
penulisan antara "F" dan "P". Sampai ada satu anekdot. Orang-orang Sunda
suka membela diri dengan mengatakan, " Siapa bilang orang sunda tidak bisa
bilang "F", itu teh Pitnah!, Pitnah!"

Memang huruf "F" bukan huruf dan lafal asli daerah Sunda. Huruf "F" berasal
dari kosa kata  bahasa  Arab dan Eropa. Yang menarik adalah suku Jawa
sebagai tetangga terdekat suku sunda tidak memiliki kesulitan yang berarti
dalam melafalkan huruf "F", kecuali untuk beberapa masyarakat generasi sepuh
di pedalaman Jawa.  Padahal Jawa dan Sunda memiliki sejarah yang hampir sama
dalam hal interaksi dengan bangsa asing yang telah membawa huruf "F" dalam
budaya lisan dan literatur mereka.

Meruntut sejarah Sunda dan Jawa, huruf "F" pertama kali dibawa dan
diperkenalkan oleh pedagang bangsa Arab, Persia dan Gujarat yang sekaligus
juga menyebarkan agama Islam di Jawa pada abad ke-13. Bangsa Arab memiliki
lafal "F" dari huruf asli "Fa' yang banyak digunakan dalam kosa kata mereka
yang tersebar baik dalam bidang perdagangan maupun dalam bidang keagamaan.

Memang Islam lebih dulu memasuki suku Jawa dibanding suku Sunda. Tingkat
penyebaran awal  juga lebih luas dengan berdirinya kerajaan Demak yang
disokong oleh Wali Sanga-nya.

Berdasarkan sumber sejarah tertulis, *Carita Parahyangan*, Islam dibawa  ke
Tatar Sunda oleh Bratalegawa, atau Haji Purwa, seorang saudagar dan pelayar
besar yang juga merupakan anak Sang Bunisora -penguasa kerajaan Galuh. Ia
menikah dengan seorang muslimah Gujarat, kemudian masuk Islam  dan kembali
ke Galuh pada tahun 1337 Masehi  serta menyebarkan Islam di Cirebon (*
Caruban*) Girang. Namun proses islamisasi Tatar Sunda secara massal baru
pada abad ke -16, dengan adanya peran Syarif Hidayatullah atau dikenal
dengan nama Sunan Gunung Jati di Cirebon. Dengan kedudukannya sebagai salah
satu Wali Sanga, beliau mendapat dukungan dari Kerajaan Demak secara penuh.
Dari Cirebon, Sunan Gunung Jati mengembangkan Islam ke Tatar Sunda lainnya,
seperti Majalengka, Kuningan, Galuh (Kawali-Ciamis), Sunda Kelapa dan
Banten.

Untuk kasus di Jawa, modus penyebaran islam yang bergerak dari pesisir ke
pedalaman membuat kita mudah memahami mengapa di daerah pedalaman, masih
terdapat masyarakat, khususnya generasi sepuh, yang kesulitan melafalkan
"F", misalnya ketika mengucapkan kata "film" (bahasa inggris) menjadi
"pilem". Tapi secara *general*,  hampir seluruh suku Jawa tidak kesulitan
dalam melafalkan huruf "F".

Sedangkan di Tatar Sunda, kesulitan pelafalan "F" hampir menyeluruh dari
pesisir pantai utara sampai pesisir pantai selatan, dari generasi tua sampai
generasi sekarang. Kenapa? Saya mencoba menganalisisnya dan membuat teori
untuk menjawabnya.

Huruf "F" lebih banyak tersebar ke masyarakat Jawa dan Sunda melalui bidang
dakwah. Sebab bidang perdagangan hanya menyentuh beberapa gelintir
masyarakat di daerah pesisir. Bedanya adalah mekanisme internalisasi Islam
berikut  budaya lisan dan tulisan yang melekat padanya.

Huruf "F" lebih mudah diserap oleh masyarakat Jawa akibat internalisasi
Islam beserta  budaya ikutannya (termasuk huruf "F") yang dilakukan melalui
metode yang mudah diterima dan dipraktikan. Beberapa anggota Wali Sanga di
Jawa  banyak menggunakan media seni dan budaya. Yang paling fenomenal adalah
peran Sunan Kalijaga dalam mengembangkan wayang purwa atau wayang kullit
yang bercorak islam. Beberapa sunan lainnya juga dikenal sebagai ahli gubah
tembang Jawa. Sunan Bonang (R. Makhdum Ibrahim) yang dianggap sebagai
pencipta gending bermuatan islam. Sunan Drajat (R. Syarifudin) yang terkenal
sebagai penggubah tembang Pangkur. Sunan Kudus (Ja'far Shadiq) yang terkenal
dengan gubahan gending Maskumambang dan Mijil. Sunan Muria (R. Umar Said)
yang menciptakan tembang dakwah Sinom dan Kinanti.

Melalui media seni dan budaya inilah, Islam dan budaya ikutannya menjadi
lebih mudah diterima oleh masyarakat pada waktu itu, masyarakat agraris
dengan komunikasi "getok tular". Dengan media seni, akulturasi kebudayaan,
termasuk penggunaan dan pelafalan huruf "F" menjadi lebih mudah. Sebab ia
tidak hanya digunakan saja dalam ranah ritual di masjid-masjid saja, tetapi
budaya ikutannya telah memasuki ranah setiap sendi kehidupan masyarakat,
melalui tembang-tembang yang dinyanyikan, melalui pertunjukan-pertunjukan
seni yang mereka nikmati.

Memang dakwah di Sunda juga menggunakan media seni dan budaya juga, seperti
wayang golek, *dangding, guguritan*, tradisi upacara (*sawer orok, tingkeban
*, dll) akan tetapi penggunaan media ini tidak seintens seperti di tanah
Jawa. Penggunaan media ini baru berkembang pasca Sunan Gunung Jati.

Mungkin ini bisa dipahami dari latar belakang Syarif Hidayatullah. Latar
belakang personal beliau tidak bisa dilepaskan dari corak Islam di Tatar
Sunda sebab perannya yang sangat  sentral dalam penyebaran Islam di Tatar
Sunda. Dalam usia 20 tahun, Beliau telah memiliki tingkat kefakihan yang
mumpuni, hasil selama belajar Islam di Mekah, Madinah, sampai ke Baghdad.
Sebelum berlayar ke Jawa, beliau pernah singgah di Pasai dan tinggal bersama
Maulana Ishak. Latar belakang tersebut menyebabkan dakwah Sunan Gunung lebih
"to the point".

Sunan Gunung Jati juga memiliki keunikan pendekatan dakwah melalui bidang
pengobatan. Naskah-naskah kuno Cirebon hampir seluruhnya memberikan
informasi tentang peran Sunan Gunung jati sebagai seorang tabib.

Pendekatan dakwah "to the point" membuat sedikit batas akulturasi kebudayaan
Islam dengan budaya asli Sunda, khususnya penyerapan huruf "F" dalam budaya
lisan Sunda. Huruf "F" hanya hidup di ranah agama, di lingkungan masjid.
Akan tetapi huruf "F" tidak hidup dalam bidang kehidupan sehari-hari
lainnya.

Analisis masalah kesulitan pelafalan huruf "F" oleh suku Sunda di atas baru
dilihat dari sisi kemungkinan mekanisme akulturasi kebudayaan yang dominan.
Sangat mungkin bahwa penyebab utamanya bukan karena itu. Misalnya pengaruh
anatomi mulut masyarakat sunda dahulu. Atau  pengaruh prestise trend
pelafalan para elit Tatar Sunda waktu itu, seperti tren pengucapan "kan"
menjadi "ken" pada masa orde baru. Semoga ahli bahasa Sunda, sejarah dan
anthropolog ada yang berminat meneliti masalah ini.

Referensi:

   1. Bisri, Cik Hasan, Yeti Heryati, Eva Rufaidah (ed.). Pergumulan Islam
   dengan Kebudayaan Lokal di Tatar Sunda. Bandung: Kaki Langit, 2005
   2. Solihin, M. Melacak Pemikiran Tasawuf di Nusantara. Jakarta: Raja
   Grafindo Perkasa,2005

Kirim email ke