Dina hiji diskusi film-film Akira Kurosawa di Taman Ismail Mardjuki (TIM) 
puluhan taun katukang, kuring kungsi naros ka pengamat film urang Jepang, 
kunaon dina film Akira Kurosawa anu serius, sok aya pamaen film anu kalakuanana 
siga bodor, ekting atawa dialogna teh jadi pikaseurieun anu nongton (tingali 
film "seven samurai" atawa "run") pamaena teh serius pisan. Padahal film Akira 
teh mani "Jepang" pisan, roman para pamaena teh serius.
 
Ceuk kritikus film urang Jepang teh, cenah banyolan/heureuy dina film Akira teh 
nunjukkeun kadewasaan/kematangan seseorang dina ningali realita hirup.  Jadi 
cindekna, jalma anu geus bisa nyeungseurikeun kahirupan sapopoe teh nunjukkeun 
jalma anu geus "matang", lain jalma "satengah mateng" anu gawena ngan seuri 
sorangan, bari jeung teu jelas jujutanana naon anu jadi bahan piseurieun.
 
Tah, lamun ayeuna di satiap stasion televisi loba acara banyolan/anu 
pikaseurieun, tanda naon eta teh?
 
baktos,
 
mrachmatrawyani


--- On Mon, 10/20/08, Waluya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Waluya <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Urang Sunda] Si Kabayan teh perlu "aya" .....
To: "Urangsunda" <[email protected]>, "Baraya Sunda" <[EMAIL 
PROTECTED]>
Date: Monday, October 20, 2008, 11:14 AM






Banyol, seuri atawa heureuy cenah mah diperlukeun ku manusa sabab ku banyol, 
seuri jeung heureuy jiwa manusa jadi sehat, teu salawasna kasieunan, 
salilana ngarasa salah. Banyol ngingetkeun "keterbatasan" manusa. Dina 
Banyol manusa sakapeung leuwih ngarasa jadi Si Kabayan atawa si Cepot 
tinimbang jadi Gatotkaca atawa Arjuna.

Nyanggakeun meunang copy-paste, Catatan Pinggir Gunawan Moehamad dina Tempo, 
35/XXXVII 20 Oktober 2008

Tawa

Kau menyukai lelucon dan aku menyukai tertawa. Justru ketika kita menyadari, 
dengan sedikit sakit, harapan yang sulit dipenuhi, impian yang rasanya 
mustahil. Tampaknya lawak bisa juga sebuah tanda murung. Atau ketakmampuan 
mencapai. Atau kesia-siaan.

"Bawa masuk para badut!", konon begitulah bisik di belakang panggung bila 
sebuah pertunjukan terasa jadi hambar dan harus diselamatkan, agar para 
penonton tak pergi. Send in the clowns!, kata lagu terkenal dalam musikal 
Broadway Little Night Music pada 1973-sebuah lagu yang dinyanyikan saat 
tokoh lakon ini, Desirée, terduduk bersendiri, sadar ia telah salah pilih 
dan kini ditinggalkan orang yang sebenarnya dicintainya. Seperti yang 
dikatakan sang komponis, Stephen Sondheim: ini "sebuah lagu sesal dan 
amarah".

"Bawa masuk para badut!". Tapi seperti dicantumkan di akhir lagu itu, 
disadari bahwa para badut sebenarnya tak diperlukan datang. "Don't bother, 
they are all here". Mereka sudah di sini; mereka adalah kita sendiri.
Kita: badut. Antara "kita", "badut" dan "kekonyolan" -sebagaimana antara 
"clown" 
dan "fool" dalam teater Shakespeare- terdapat pertautan. Di simpul itu tampak 
bahwa kita, manusia, adalah makhluk yang peyot, meskipun tak putus-putusnya 
menarik. Keadaan peyot yang dilihat bukan dengan rasa kesal itulah yang 
membuat kehidupan tak membuka jalan bagi sifat takabur. Hal itu agaknya 
perlu ditegaskan lagi kini, di masa ketika kita kecewa kepada para tokoh, 
dan menghasratkan pahlawan datang, sementara, seperti hari-hari ini, dunia 
tetap tak bisa dibuat tenteram penuh.

Pada sifat peyot yang menarik itulah terletak humor. Humor, kata Simon 
Critchley dalam Infinitely Demanding,
"mengingatkan kita akan sifat rendah hati dan keterbatasan kondisi manusia". 
Dengan kesadaran akan keterbatasan itu kita menemui manusia dengan mengakui 
sifatnya yang "komikal", comic acknowledgment, bukan dalam sifatnya dalam 
posisi sebagai pahlawan tragedi. Kita akan melihat diri kita, manusia, lebih 
sebagai Petruk atau si Kabayan ketimbang sebagai Bhisma atau Kumbakarna.

Memang perlu kematangan tersendiri untuk mendapatkan perspektif itu. 
Bertolak dari makalah Freud tentang humor, Critchley memperkenalkan satu 
faktor dalam kesadaran manusia, yang disebutnya "super-ego II". Kita ingat, 
dalam psikoanalisis Freud "super-ego" adalah Sang Penguasa yang Keras yang 
menghuni kesadaran manusia: ia pengawas, pengendali, dan penindak yang 
menyebabkan ego patuh kepada hukum ajaran moral masyarakat. Tapi "super-ego" 
pula yang dengan demikian menyebabkan ego tertekan dan menderita.

Tapi Freud tak berhenti di situ. Dalam makalah bertahun 1927, ia menyebut 
kemungkinan hadirnya "super-ego" yang bukan lagi Sang Penguasa Yang 
Streng. "Super-ego" inilah yang hadir dalam humor, yang "berbicara dengan 
kata-kata yang ramah yang menghibur kepada si ego yang ketakutan". Itulah 
yang disebut Critchley sebagai "super-ego II".

Jiwa manusia akan lebih sehat, tak dirundung takut dan didera rasa bersalah 
yang habis-habisan, jika "super-ego" yang lain ini tak dibungkam. Dengan 
kata lain: jika humor tak dimatikan dan tawa serta permainan tak diharamkan. 
Dengan kata lain, jika manusia mengakui ada yang lucu dalam 
ketaksempurnaannya, tapi dengan pengakuan itu ia jadi akrab. Itulah saat 
ketika kita tak didera untuk jadi Prometheus yang menantang dewa dan dunia, 
mengalahkan apa yang di luar.

Maka bukankah pemeo populer itu benar, bahwa tertawa itu sehat? Yang sehat 
adalah yang hidup dan tumbuh dan bekerja terus dalam keterbatasan, seperti 
cinta yang tak diakui tapi tulus.

Dari sini, kita bisa merayakan apa yang mungkin gagal tapi indah, menyambut 
apa yang tak tentu tapi pada tiap detik memberi alasan untuk hidup yang 
berarti.

Goenawan Mohamad 

 













__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke