*kumaha kabupaten anu lainna?? * * *
*KUNINGAN, SENIN*--Komisi Adat Sunda meluncurkan 12 buku berjudul Aku Anak Sunda bagi siswa kelas I-VI sekolah dasar. Peluncuran buku berlangsung di Gedung Cagar Budaya Nasional Cigugur, Kuningan, Sabtu (18/10). Buku tersebut merupakan buku teks pelajaran yang berisi berbagai pengetahuan dan latar belakang adat istiadat dan upacara masyarakat Sunda. Buku disusun oleh Save M Dagun, Asep Bame, Nana Gumilang Kencana Galih, Endah Irianty, dan Masdi. Buku berfungsi seperti buku pelajaran. Pembaca tidak hanya diperkenalkan tentang ragam adat budaya Sunda, seperti berbagai upacara adat, tetapi juga ada pertanyaan yang bisa digunakan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa. Nana Gumilang Kencana Galih, Ketua Komisi Adat Sunda, mengatakan, buku itu diterbitkan untuk melengkapi buku teks pelajaran muatan lokal budaya Sunda yang sebagian besar hanya mengajarkan bahasa, tetapi tidak menyentuh berbagai adat budaya hingga mendalam. "Buku-buku pendukung pelajar muatan lokal masih terbatas pada bahasa, padahal budaya Sunda tidak sekadar bahasa. Setiap upacara adat ada makna dan filosofinya. Kami mencoba memberikan pengetahuan mengenai hal itu," ujar Nana. Buku tersebut bisa menjadi referensi tambahan di sekolah dasar. Tim penyusun mengusahakan agar buku tersebut bisa diakses siswa melalui sekolah atau perpustakaan. Yatno Kartarajasa, budayawan Sunda yang turut meluncurkan buku itu, mengatakan, buku tersebut hanyalah langkah awal dari gerakan penyelamatan budaya Sunda. Langkah ini bisa lebih sukses jika pemerintah setempat turut mendukung dengan memperluas buku tersebut. "Pemerintahan Provinsi Jawa Barat yang lalu telah ikut mengapresiasi buku tersebut. Diharapkan dukungan tetap ada dan terus berlanjut," katanya. Perkuat pendidikan dasar Pangeran Djatikusumah, Ketua Masyarakat Adat Cigugur, mengakui, proses regenerasi penerusan budaya Sunda rapuh. Jangankan filosofi dan nilai-nilai Sunda, bahasa pun sudah mulai ditinggalkan. "Hal-hal kecil, seperti permainan anak, dongeng Sunda, sudah jarang dimainkan dan diceritakan. Padahal, dasar inilah yang sebenarnya ikut memperkuat pilar budaya Sunda," paparnya. Sebagai ketua masyarakat adat, Pangeran Djatikusumah tetap mempertahankan nilai-nilai Sunda, mulai dari upacara hingga pemaknaannya, serta tentang kebijakan dalam keluarga, seperti hanya menikah sekali seumur hidup. Perlu pula dipertahankan sistem pewarisan harta antara anak perempuan dan laki-laki. "Hal itu kami pegang teguh sampai sekarang. Cucu-cucu pun kami biasakan sehingga mereka tahu budaya asli mereka itu seperti apa," ujarnya. Ia berharap perjuangan mempertahankan adat Sunda bisa lebih luas, tidak hanya di Cigugur, karena pengikisan budaya yang sudah lama terjadi akibat arus globalisasi ini masih akan terus berlangsung. Nilai budaya lokal itulah yang menurut Nana bisa menjadi tameng terhadap globalisasi, bukan sebaliknya tergerus globalisasi. "Intinya adalah di pendidikan dasar. Kalau sedari dini nilai-nilai positif budaya dikenalkan, tidak akan mudah tergerus," kata Nana.

