Punten henteu diterjemahkeun, mudah2an aya guna jeung manfaatna...

Bila Karier Lebih Tinggi dari Suami

Rabu, 29 Oktober 2008 | 14:47 WIB
Kini, tak mustahil bagi wanita karier untuk meraih jenjang
setinggi-tingginya, bahkan melampaui jenjang karier pasangannya. Bagaimana
agar hubungan cinta Anda berdua tetap mesra tanpa terganjal masalah
perbedaan ini, simak tipsnya.

Seringkali perbedaan posisi pada dunia pekerjaan ini turut menyertai peran
dan tanggung jawab di dalam urusan rumahtangga. Posisi istri yang lebih
tinggi di tempat kerjanya, sering menjadi pemicu pertengkaran dan muncul
ketidakharmonisan dalam menjalani biduk rumah tangga. Terkadang, sang
istri tanpa sadar jadi semena-mena mengatur urusan rumahtangganya.
Misalnya, enggan melakukan kewajiban dan tugas sebagai istri dan ibu rumah
tangga yang baik. Merasa lebih tinggi derajat dan martabatnya di dalam
rumah, dan lainnya. Oleh karenanya, ada sejumlah tips bagi Anda, wanita
muda mandiri, yang memiliki jabatan lebih tinggi dari Si Dia:

Tugas Utama Tetap Lebih Penting
Wanita berhak memeroleh kedudukan dan tempat di dalam persaingan yang
adail dengan para pria, di segala bidang karier. Namun, jangan pernah lupa
wanita juga seorang ibu rumah tangga. Anda tetap harus memperlakukan suami
dengan baik dan hormat, walaupun mungkin jabatan ataupun profesinya jauh
di bawah Anda. Tetap saja ia suami Anda, bukan? Ia seorang bapak dan
kepala rumahtangga. Di tangannyalah tanggung jawab terbesar dalam
mengelola rumahtangga.

Bila penghasilan Anda jauh melampaui, bukan berarti peran dan tanggung
jawab ini jadi dapat ditukar di rumah. Jadi, tetaplah menjaga posisi Anda.
Seimbangkan karier Anda dan keluarga, jadilah ibu rumah tangga yang baik
dan mampu melayani keluarga setulus hati.

Kepala & Leher Yang Menyatu
Bisakah Anda membayangkan jika kepala berdiri sendiri tanpa leher, atau
sebaliknya? Aneh dan pasti menyeramkan, bukan? Tak hanya itu, bila kepala
berdiri sendiri, ia tak akan bisa menentukan arah yang benar, demikian
pula leher, walau ia dapat berputar ke kanan, kiri, belakang dan depan.
Analogi ini layaknya posisi Anda dan suami. Anda berdua adalah pasangan
yang diciptakan untuk saling melengkapi, bukan untuk saling bersaing dan
menindas satu sama lain.

Suami layaknya KEPALA yang akan menuntun ke mana arah suatu biduk
rumahtangga dijalani. Sedangkan, LEHER adalah peran Anda sebagai istri,
pendamping yang juga seorang ibu dari sebuah bahtera luas yang tengah
dilayari bersama. Leher akan menopang dengan baik sang kepala. Mendukung
dengan sekuat tenaga dan membantu memberikan arah atau saran berguna bagi
kedua belah pihak. Bagaimanapun juga, kepala tetap memerlukan lehernya.
Nah, jadilah leher yang baik, yang dapat membawa suami Anda pada posisi
kepala keluarga yang baik. Topang dan dukunglah ia dengan sepenuh hati!

Hindari Rasa Tinggi Hati
Tak sedikit wanita yang memiliki posisi atau jabatan dan pendapatan tinggi
jadi lebih percaya diri yang berakhir dengan tingkat kesombongan yang
tinggi pula. Termasuk sombong pada suaminya. Merasa diri sudah yang paling
hebat. Sehingga, merasa diri paling tahu termasuk dalam urusan rumah
tangga. Bahkan, pendapat suami sering tak lagi didengar. Menganggap suami
bodoh hingga berlaku mengecilkan atau meremehkan pasangan. Ujung-ujungnya,
Anda bersikap superior.

Tak jarang ada yang sampai tak segan lagi memperlakukan pasangannya dengan
tidak hormat di hadapan kerabat atau sahabat Anda sendiri. Sebaiknya,
tetaplah rendah hati pada siapa pun, janganlah sombong, karena sikap ini
akan membawa Anda kepada kehancuran diri sendiri. Menunjukkan sikap down
to earth (membumi) adalah mulia. Jadilah istri yang baik dan selalu
memperhatikan keluarga. Anggaplah jabatan dan pendapatan besar yang Anda
raih adalah bonus dan berkat tambahan yang dipercayakan dari sang Pencipta
kepada Anda. Jadi, tetap seimbangkan kehidupan rumah tangga dengan karier
Anda.

Bersikap Lembut
Seringkali posisi yang tinggi di kantor menjadikan Anda sebagai atasan
yang galak, cerewet, dan disegani semua karyawan. Jadi, janganlah membawa
semua hal urusan kantor ke dalam kehidupan rumahtangga. Mulailah belajar
bersikap profesional, termasuk di rumah. Anda bisa bersikap profesional di
kantor, mengapa untuk urusan pribadi Anda tak bisa?

Jangan mentang-mentang Anda bos di kantor, lalu bisa seenaknya menyuruh
suami dengan tidak hormat. Bila Anda memerlukan bantuannya, tetap lakukan
dengan sopan, lembut, dan gunakan bahasa yang halus, serta hindari kesan
memerintah. Walau bagaimanapun, ia adalah partner hidup Anda. Ia adalah
bagian jiwa Anda, bukan orang asing. Jadi, bersikaplah profesional dan
seimbang, sebagai istri dan seorang bos.

Keluargaku Adalah Berlianku
Banyak orang telah salah langkah, mendahulukan karier dan meninggalkan
keluarga. Semua dianggap sepadan, demi mencapai karier setinggi mungkin
lalu mengorbankan keluarga. Padahal, tak ada yang lebih berharga daripada
keluarga. Mengapa? Tentu saja, keluarga adalah cinta kasih Anda. Keluarga
adalah sumber kebahagiaan Anda.

Semua memang tergantung pada setiap individu yang menjalaninya. Jadi,
tetaplah dahulukan keluarga Anda, suami dan anak-anak. Kebahagiaan sejati
tak akan bisa terbayar, setinggi apa pun jabatan di kantor bila keluarga
Anda tak bahagia. Jangan takut, rezeki akan mengikuti jika Anda selalu
mengusahakan yang terbaik bagi keluarga. Jadi, posisi di kantor boleh
lebih tinggi, namun jangan lupa untuk tetap menjalankan tugas sebagai ratu
rumah tangga dengan baik.

sumber : kompas


      

Kirim email ke