Punten, Mung saukur ngopi pasteu ti sabeulah. DS Item, Makanya, kalau nggak tahu belajar dulu... bukannya bikin kesimpulan provokatif.
What do you mean by "demokrasi syariat"? Semua UU, tidak hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia, memang mengatur "moralitas individu" [dengan ini saya mengoreksi pendapat saya terdahulu bahwa UU Pornografi tidak mengatur moralitas individu} UU Perkawinan mengatur, menyebutnya sebagai salah, moralitas individu seperti Pujiono yang mengawini anak di bawah umur. UU adalah produk politik, kebijakan di ruang publik. Dalam negeri demokrasi, siapa saja dan kelompok mana saja (mau Islam, Kristen, agnostik) boleh mengusulkan dan mendesak legislasi tertentu baik tentang urusan sosial, ekonomi maupun hukum. Saya menyarankan Anda untuk meneliti seratus lebih, tepatnya 141, UU yang disahkan DPR dalam lima tahun terakhir (Periode 2004-2009), dan 21 UU pada tahun 2008 ini saja. http://www.dpr. go.id/artikel/ terkini/artikel. php?aid=5370 Saya persilakan Anda menghitung, berapa banyak dari UU itu yang proses deliberasi dan konsultasi publiknya se-masif dan se-ekstensif seperti RUU Pornografi. Saya sih berkesimpulan, UU Pornografi salah satu dari lima besar dari banyak UU tadi yang diperdebatkan secara luas, diselenggarakan konsultasi publik yang demikian luas. Prosesnya paling demokratis. UU adalah sebuah konsensus publik agar orang dari berbeda latarbelakang (agama, etnis, ideologi) bisa hidup damai dalam negeri bernama Indonesia. Dan kalau tidak ditemukan konsensus, voting harus dilakukan seperti layaknya di negeri demokratis lain. Walkout yang dilakukan PDI Perjuangan dan Partai Damai Sejahtera bukanlah contoh demokrasi yang baik. Dalam proses demokratis lain, teman-teman yang tidak setuju UU Pornografi ini masih ada peluang untuk mengoreksi sebagian pasal atau keseluruhan melalui judicial review. Silakan galang demonstrasi, bikin opini publik di koran dan televisi, pengaruhi anggota DPR, untuk mendesak judicial review. Jangan mengolok-olok orang yang sudah melewati proses demokrasi panjang dan melelahkan dengan argumen IMAJINATIF, demokrasi syariat. fgaban --- In [EMAIL PROTECTED] ups.com, Item <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Farid, > > Maafkan, jika ucapan saya salah alamat. Tapi saya keberatan jika anda > menyamakan saya dengan kaum Sirikit. > > Tolong tunjukkan pada bagian mana saya berimajinasi. Pada judul "Denokrasi > Syariat"kah ? Sebisa mungkin saya telah menyodorkan fakta. Kalau argumen > lagi, bukankah kita sudah berbual2 membahas dari A-Z pasal2 RUU itu dalam > thread berbeda, berhari-hari, ber-minggu2 lalu? Khususnya dengan Ade > Armando, "saksi ahli" RUU Pornografi versi Pansus DPR. > > Saya juga sempat menolak ucapan selamat dari Ade Armando, yang "mengesankan" > RUU Pornografi ini batal disahkan. Saya justru melihat, saat itu kemenangan > lobby kelompok pro-RUU sudah di depan mata dan jadual pengesahannya hanya > digeser ke lain hari, and it's happened. Ini fakta atau imajinasi saya? > > Saya bukan ahli politik, hanya pembaca (jauh dari posisi pengamat) fenomena > politik, termasuk segala perdebatan yang menyertai RUU ini. Maafkan kalau > saya salah membaca. Jika begitu, tolong ajari saya cara membaca dan belajar > ilmu politik yang baik. Dari anda, yang saya tahu tulus dan ahli beneran, > saya tak punya keberatan apapun. > > Item > > > 2008/10/31 Farid Gaban <faridgaban@ ...> > > > Item, > > > > Dengan segala hormat saya menolak ucapan selamat Anda. > > > > Anda mengkritik berbusa-busa Sirikit, tapi sebenarnya sama saja: lebih > > banyak IMAJINASI ketimbang argumen yang berpijak pada fakta. > > > > Kalau mau bikin analisis proses politik dan pemetaan partai politik, > > ya mbok, baca, telusuri kronologi dan pelajari ilmu politik dengan bener. > > > > fgaban > > > > --- In [EMAIL PROTECTED] ups.com <jurnalisme% 40yahoogroups. com>, Item > > <itemic@> wrote: > > > > > > Dear ALL. > > > > > > Dengan segala hormat, saya ingin menyampaikan SELAMAT kepada Ade > > Armando, > > > Farid Gaban, dan anggota milis jurnalisme <yang secara aktif maupun > > pasif> > > > ikut merumuskan, mengusung, mendukung RUU Pornografi hingga disahkan > > menjadi > > > Undang Undang Pornografi (Betul kan Ade, FG, RUU ini akan tetap disahkan > > > karena proses lobby di parlemen jauh lebih kuat, terutama karena > > "dorongan > > > langsung" dari partainya RI-1). > > > > > > Ini barangkali saat yang paling membahagiakan terutama Ade Armando, yang > > > sejak awal begitu gigih mengkampanyekan, membela setiap pasal, melakukan > > > pembenaran untuk tindakannya mengusung RUU Pornografi. Apapun motifnya, > > > apakah untuk menegakkan moralitas, membela nilai2 agama, memberikan > > > perlindungan bagi bangsa dan anak2 Indonesia, membela partai > > tertentu, atau > > > sekadar unjuk intelektualitas, semuanya sah-sah saja dalam alam > > demokrasi. > > > Yang penting, NON-VIOLENCE. > > > > > > Sebagai salah satu penolak RUU Pornografi versi yang disahkan DPR dan > > > pemerintah kemarin (30/10), saya tentu kecewa. Bagi saya pornografi > > hanya > > > perlu diatur dalam hal distribusinya, peruntukan, dan memperkuat aspek > > > perlindungan kepada anak dari bahaya pornografi. Negara tak perlu > > mengatur > > > moralitas individu, menyeragamkan nilai2 "kepornoan" dan menghukum > > individu > > > yang melanggar, seperti halnya agama. Indonesia adalah negara > > berlandaskan > > > Pancasia, bukan syariat. > > > > > > Tapi disinilah keunggulan DEMOKRASI. Kita bisa berdebat, bersinggungan, > > > saling mengkritik, saling tidak setuju. Ttapi begitu sampai pada > > konsensus > > > dan pengambilan keputusan, semua pihak "tunduk kepada mekanisme > > demokrasi. > > > Bayangkan kalu kita menganut sistem mullah atau khilafah asli, > > barangkali > > > semua hal akan ditentukan oleh fatwa pemimpin agama dan khalifah. Semoga > > > Indonesia tetap dijaga dalam sistem demokrasi, betapapun kelirunya > > mengambil > > > keputusan. > > > > > > Pada hari2 yang panjang ke depan, kita semua akan melihat bagaimana > > UU baru > > > ini berjalan dan ditegakkan di tengah publik. > > > > > > Selamat buat PKS dan Demokrat, dua partai yang paling berjasa > > mengegolkan > > > RUU ini. Tanpa peran PKS, RUU ini hanya aka tinggal sebagai konsep. > > Selamat > > > kepada presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, yang ikut menginisiasi > > RUU ini > > > karena menginginkan moralitas bangsa diatur dan dibatasi negara lewat > > > Undang-Undang. Jasa anda semua akan masuk dalam ingatan bangsa ini. > > > > > > Salam hangat, > > > Item > > > > > > PS : Bagi teman2 yang sering mengirimkan file2 syur JPEG via e-mail, > > mohon > > > mengirimnya lewat "jalur lain" yang akan saya umumkan kemudian. > > > --- On Fri, 10/31/08, Mamad Ahmad <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Mamad Ahmad <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Bls: [Urang Sunda] UU Porno To: [email protected] Date: Friday, October 31, 2008, 12:49 PM lamot wae atuh kang nukitu mah,tong diengkekeun deui bisi kaburu haseum Dari: Kang Iman <firman.raharja@ urang-sunda. or.id> Kepada: [EMAIL PROTECTED] ups.com Terkirim: Jumat, 31 Oktober, 2008 09:58:26 Topik: Re: [Urang Sunda] UU Porno Tong dibeja-beja atuh ..... bisi kaburu dirajia pan uing acan ngasaan ............ ......... baluburna belah mana bah ? .... yakin bah parawan ? .... On Fri, Oct 31, 2008 at 6:40 AM, H Surtiwa <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: Basa keur kuliah di Bdg..sok leumpang mapay Gg.Pelesiran Balubur.ngaliwatan cubluk sisi Cikapundung anu open cup..Ari keur asyik ngaliwat..sok aya paarwan lokal..ka cubluk teras papang..kecewes2 mani tarik...teuing kunaon si Toyib bangkit maju tak gentar...tah anu kieu nimbulkeun birahi....porno henteu nya..? On 10/30/08, Waluya <[EMAIL PROTECTED] co.id> wrote: > From: "Firman Juliansyah" <[EMAIL PROTECTED] com> > DPR Setujui RUU Pornografi Jadi UU Tah kulantaran geus SAH, kade ah ulah aya nu tulas-tulis e*e deet, e*e jero, h*****t, k*n*t*l ....jrrrd, bisi aya nu kahudangkeun birahina, ke ku kuncen dilaporkeun ka pulisi .....hehehehe WALUY Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru Lengkap dengan segala yang Anda sukai tentang Messenger!

