Anu dipaksieun ku Andy sieun robah (konotasi negatip) kulantaran jadi beunghar..Ari jelema ayeuna mah..beunghar encan..tapi ngeus robah...makana sok sok aya pameo...' Miskin tapi sombong jeung gengsi"...
On 11/6/08, Heryadi, Eddy <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kenging kiriman ti tatanggi sabeulah, asa sae janten hoyong ngabagi > sareng baraya sadaya. > Hapunten upami tos kantos nampi. > > Kaca Spion > oleh Andi F. Noya > > Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan > Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta . Tapi, suatu hari > ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana . Bukan untuk > baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan. > Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga > suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa > lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya > mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan > dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi > mengapa rasanya jauh berbeda? > Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal > rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah. > > Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu > mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya. > Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib > yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya > merasa begitu bahagia. Biasanya satu sampai dua jam saya di sana . Jika > masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum > buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang. > Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak > gado-gado di sudut jalan, di luar pagar. Kain penutupnya khas, warna > hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero > Jakarta . Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong. Makan > sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah > satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya > bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang > Indonesia . Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia > . Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir saya terus > meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan > Metro TV. > > Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di > sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya > menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan > kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi > menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu > hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan > punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi > sombong karenanya. > > Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya .. Sejak > kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan > menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya > bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda > milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion > mobil itu patah. > > Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer > saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah > saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang > sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi > mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap > menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma > enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat > tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di > ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar. > Rupanya sang pemilik mobil datang. Dengan suara keras dia marah-marah > dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan > mobilnya. > > Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak > bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca > spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang > senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang > mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos > menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua > minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada > tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari menjahit > itulah kami - ibu, dua kakak, dan saya - harus bisa bertahan hidup > sebulan. > > Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap > akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil > uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan > uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir > bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu > ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah > artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat > kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi? > Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah > ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik > mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci > orang kaya. > > Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban > mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya.. > Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. > Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka > adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya > putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari. Begitu > berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang > terbalaskan. > > Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya > di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal > jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak > punya hati nurani. > > Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa > kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu > tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah > berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan > kepada istri. Dia hanya tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa > bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena > sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan.. Dulu > mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang, > apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang > enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,'' ujarnya. Ketika dia melihat > saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, "Kamu berhak untuk > itu.. Sebab kamu sudah bekerja keras." > > Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama > sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang > kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya > terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak > lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado > yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi > sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong. > Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak > sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca > spionnya saya tabrak. > > Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam > kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika > mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang > dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak > dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin > melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya. Namun, saya > terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan > kebaya lusuh. Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. > Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok.. > > Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat > itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion. Wajah yang > merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung. Sang > ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf > atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha > meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi. > Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera > luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. > Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah > artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul. > Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan > begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu > saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang > pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang > pahit > IMPORTANT NOTICE: > The information in this email (and any attachments) is confidential. If you > are not the intended recipient, you must not use or disseminate the > information. If you have received this email in error, please immediately > notify me by "Reply" command and permanently delete the original and any > copies or printouts thereof. Although this email and any attachments are > believed to be free of any virus or other defect that might affect any > computer system into which it is received and opened, it is the > responsibility of the recipient to ensure that it is virus free and no > responsibility is accepted by American International Group, Inc. or its > subsidiaries or affiliates either jointly or severally, for any loss or > damage arising in any way from its use. > > >

