Punteen...abdi mengirimkan tulisan ieu, kumargi tos ateul pisan ttg batu Kuya 
anu di Bogor. tapi teu tiasa nulis basa Sunda. kang Mumu anu biasa nerjemahkeun 
oge nuju riweuh. hapunten pisan Bapak, Ibu, Teteh, Kang.
 
 
 
Batu Kuya: sepenggal kisah tentang riwayat batu 
 
Batu pun laku jual!
Itulah bukti kekayaan Indonesia. Bahkan sebongkah batu unik pun laku jual 
hingga menembus angka 9 digit. Kita bisa menengok kasus Batu Kuya di salah satu 
titik daerah Kabupaten Bogor, yaitu Kampung Cisusuh, Desa Cileksa Kecamatan 
Sukajaya. Tak jauh jaraknya dari tempat yang diduga sebagai pusat ritual 
keagamaan jaman kerajaan Sunda Pajajaran sekitar abad 15 – 16 M. Atau mungkin 
lebih tua lagi, Sindangbarang, kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor. Batu Kuya 
ramai dibicarakan pada bulan September, beberapa hari sebelum hari raya Idul 
Fitri 2008. Saat itu beritanya muncul di beberapa harian terkemuka ibu kota. 
Batu Kuya, batu besar unik berbentuk kura-kura sempat dibawa keluar sarangnya 
oleh sekelompok orang karena batu tersebut akan dijual ke Korea dengan nilai 
sangat tinggi. Tak tanggung-tanggung, angka 40 milyar akan menjadi bagian dari 
transaksi si Kuya. Sejak pemberitaan itu, Batu Kuya mendapat perhatian dari 
Pemda kabupaten Bogor yang diwakili oleh
 dinas pariwisatanya. Polemik pun terjadi. Sejumlah peneliti, arkeolog pun 
diminta untuk meneliti batu Kuya dari sudut pandang arkeologi. Tak lama, 
seorang arkeolog gaek dari FIB UI, Mang Hasan, memberikan pernyataan bahwa batu 
Kuya adalah batu alam biasa walaupun dia berada dalam wilayah bentangan 
situs-situs bersejarah. Pernyataan inipun sempat mengejutkan pihak dinas 
pariwisata. Namun apa daya, pakar sudah berbicara. 

Mengapa batu alam si Kuya sampai ditaksir berharga milyaran?
Pastilah batu tersebut memiliki ‘sesuatu’, entah nilai arkeologi, nilai 
sejarah, nilai budaya, nilai spiritual, nilai estetika dan nilai-nilai lainnya. 
Menyitir beberapa pendapat warga setempat, batu Kuya merupakan perlambang dan 
memiliki nilai mistis bagi warga di sekitarnya. Bahkan ada yang memberi 
tafsiran bahwa diangkatnya batu Kuya dari daerah tersebut merupakan pertanda 
bahwa pemimpin bermental Kuya telah dihilangkan. Naaaah…ini yang perlu 
dikritisi. Mental Kuya? Seperti apakah mental Kuya? Mental yang buruk? Hal ini 
menggelitik hati saya. Perbincangan saya dengan bapak Agus Arismunandar 
mengenai batu Kuya memiliki tafsiran lain. Kuya atau kura-kura dalam kebudayaan 
peradaban masa lalu - masa Hindu, Cina, Bali dan beberapa tempat lainnya – 
merupakan simbol kemakmuran, kesejahteraan, panjang umur. Bagaimana dengan kuya 
dalam kebudayaan Sunda? Pak Agus menceritakan bahwa di daerah Cirebon selatan 
ada sebuah kolam berisi kura-kura, disebut
 Kolam Belawa. Anda penasaran dengan kolam ini? Silakan mampir ke FIB UI dan 
bercakap-cakap dengan Pak Agus Arismunandar. Beliau juga menyebutkan bahwa 
konsep kura-kura di Sunda ini berhubungan dengan masa Tarumanegara ketika 
Purnawarman memimpin. Purnawarman disebut-sebut sebagai titisan Dewa Wisnu, 
dewa yang kadang disimbolkan dengan kura-kura, perlambang kesejahteraan dan 
kesuburan. 

Bentuk menyerupai kura-kura si Kuya ini kemungkinan adalah bentuk alami. Saat 
inilah, batu alami mempunya nilai unik bagi beberapa negara yang memiliki 
kebudayaan seni batu di Korea. Korea, salah satu negara yang memulai seni batu 
sejak 2.000 tahun yang lalu. Seni batu ini datang dari Cina sejak jaman Dinasti 
Tang (618 – 907 SM). Di Jepang terkenal dengan suiseki. Tradisi seni batu ini 
erat kaitannya dengan tradisi Konfusian dan Daois. Bentuk yang sering 
disuguhkah oleh seni batu ini adalah bentuk-bentuk batu alami yang unik, 
memiliki bentuk pemandangan gunung, bentuk abstrak, bentuk figure Budha, bentuk 
hewan-hewan mitologi, bentuk stalagnit dan stalagtit, bentuk yang dianggap 
magis dan bentuk menyerupai flora. Batu-batu alam ini sering diletakkan di 
taman sebagai unsur penting dalam landskap taman di Cina, Korea dan Jepang. 
Juga sebagai koleksi yang diletakkan di dalam ruang sebagai pelengkap interior. 
Karena batu alami dan seni batu merupakan bagian
 dari tradisi Konfusian dan Daois, tak heran, semakin magis dan alami bentuk 
batu tersebut, semakin mahal harganya. Karena batu tersebut tidak hanya 
berhubungan dengan gensi si pemilik tapi juga berhubungan dengan ketulusan 
hubungan si pemilik dengan ‘Langit’, filsafat, dan leluhurnya. 

Tak heran, batu Kuya dihargai sampai bermilyar rupiah. Betapa Indonesia 
merupakan negara yang sangat kaya raya, bahkan batu pun laku jual! Saat seperti 
inilah…saya bengga menjadi warga Indonesia. Tapi tidak di saat saya melihat 
betapa ‘aneh’nya sistem dan politik negeri yang kaya-raya ini. Ketika batu Kuya 
menjadi bahan perdebatan di antara anggota dewan di Bogor, jelas tampak ada 
kelangan yang beri keras batu tersebut dijual, namun ada yang tetap berusaha 
mempertahankan batu itu tetap ‘in situ’, tetap berada di tempat asalnya. Batu 
Kuya seakan hanya menjadi kambing hitam ajang kesempatan para pemimpin daerah 
untuk memperjuangkan pelbagai kepentingan golongannya. Sangat disayangkan. 


Salam, 
Agni Malagina

Terima kasih Pak Agus, Ama Maki atas cerita-cerita yg menyenangkan!


<embed src="http://images.multiply.com/multiply/horizontal-headshot-badge.swf"; 
type="application/x-


      

Kirim email ke