Upacara Tugu Peringatan di Kampung Budaya SindangbarangUngkal Biang, Sekali 
untuk Selamanya

TAMANSARI –
Untuk pertama kali dan selamanya Kampung Budaya Sindangbarang di Desa
Pasireurih Kecamatan Tamansari mengadakan upacara Ungkal Biang atau
Batu Induk, kemarin.
Upacara Ungkal Biang merupakan upacara peletakan batu atau tugu
peringatan yang biasa dilakukan sebelum berdirinya kampung budaya di
tataran adat Sunda. Tujuannya  sebagai batu peringatan  dan lambang
persatuan kampung budaya. Namun, karena beberapa hal upacara sakral ini
baru dilakukan di Kampung Budaya Sindangbarang. 
“Kami baru mendapat petunjuk dari sesepuh Sindangbarang untuk
membuat upacara Ungkal Biang saat berdirinya kampung budaya 2007 lalu
belum ada petunjuk,” ujar Pupuhu Kampung Budaya Sindangbarang Maki
Sumawijaya.
Untuk menentukan Batu Induk yang akan dijadikan tugu peringatan
kampung  budaya, tidak sembarangan. Ada beberapa kriteria yang harus
dipenuhi sebagai Batu Induk. Diantaranya batu ungkal beuneur atau batu
padat berisi dengan panjang minimal 1,5 meter dan berbentuk agak pipih.
Saat proses pencarian, 20  warga Sindangbarang bahu-membahu mencari
Ungkal Biang di Gawir Wahangan Cipakali (ditebing Sungai Cipamali, red)
Selasa (11/11). “Dua  kali warga menemukan batu yang sesuai dengan
kriteria, tapi tidak layak menjadi 
Ungkal Biang. Terakhir, batu ketiga saat diambil warga akhirnya sudah 
sepenuhnya sesuai kriteria,” ujar Maki.
Dalam proses menempatkan Ungkal Biang, ada beberapa upacara yang
dilakukan. Sebelumnya batu yang didapat dari Sungai Cikali, diiringi
puluhan warga yang membawa angklung dan tumpeng sebanyak tujuh tumpeng.
Perjalanan
sekitar 500 meter dari kampung budaya Sungai Cikali tempat di mana
ditemukan Ungkal Biang, bukan hal mudah. Warga harus beberapa kali
terhenti dan istirahat membawa batu seberat 500 kg dengan panjang
sekitar 1,5 meter untuk diletakkan di samping rumah besar.
Sebelum diletakkan, beberapa sesaji telah disiapkan Ustadz Suryadi
Falwah. Diantaranya seperti tujuh macam rujakeun (bahan baku rujak,
red) yang berisi buah aren, pisang emas, kelapa muda, asem, gula merah,
gula putih dan jambu klutuk.
Tak ketinggalan kemenyan, daun sirih, kapur sirih dan bubur merah
bubur putih, ditambah air di panci yang terbuat dari tanah liat berisi
bunga tujuh rupa. Saat kemenyan dibakar Ustadz  Suryadi Falwah, wangi
magis cukup kental. Ditambah lagi ayam putih yang mengelilingi Ungkal
Biang sebanyak tiga kali. 
“Upacara ini merupakan salah satu
pelengkap dari upacara Ungkal Biang atau sebagai syarat. Pada dasarnya
kita manusia berdoa kepada Allah SWT,” ujar  Falwah.
Usai membacakan doa, air yang berada di panci dibasuhkan kepada
Ungkal Biang untuk mengusir energi negatif yang ada dalam batu
tersebut. “Semua benda memiliki energi negatif dan positif dengan air
yang telah didoakan. Semoga akan menghilangkan energi negatif yang ada
di batu,” ujar Falwah.
Lalu apa filosofis ayam putih? Maki menjelaskan, jika masih ada
energi negatif dalam batu tersebut setelah dibanjur  air yang telah
didoakan diharapkan jangan mengganggu manusia, tapi mengganggu ayam.
“Jadi kalau masih ada energi negatif, silakan ganggu ayam jangan ganggu
manusia,” ujar Maki sambil tersenyum lebar.
Usai upacara ungkal batu, dilanjutkan dengan pagelaran seni budaya
Sunda. Diantaranya, seni gendang pencak, parebut seeng, gundreh dan
jaipongan. (miq) (radar-bogor.co.id)



      

Kirim email ke