Ih, Kang* ni keqih kitu ka Obama teh* pedah naon Kang? Teu kapeto janten 
mentri? Heuheu...
Bae we atuh Bah Willy ngiring reueus oge, da abdi ge sami... ketang, aya 
leresna oge urang teu keudah ngagung-ngagung anjeuna* Masing dilain-lain ge, 
kapi naon urang ka Obama? Persiden urang, lain!
Cing urang tungguan kumaha ketakna Obama jadi Persiden Amrik... ngaruh teu keur 
nagara urang nu pangdipikacinta? (heuheu, ni gaya uing jiga pengamat politik 
bae... hehehe... punten baraya).
Tah, aya iberna, punten kanu kantos maos. Nyanggakeun...
 
ro2


Obama Bukan Presiden Indonesia!
Iwan Kamah - Jakarta
http://community.kompas.com/index.php/read/artikel/1535
Beberapa jam setelah Senator Obama menang dalam pemilu, Presiden Bambang 
Yudhoyono memberi ucapan selamat sambil sedikit bernada "memohon", dengan 
mengingatkan masa kecil Obama di Indonesia. Siapa tahu Obama agak berbaik dan 
punya kebijakan khusus untuk Indonesia. Memang Presiden SBY punya kesempatan 
bertemu Presiden Barack Obama hingga 20 Oktober 2009. Bisa menjadi tamu atau 
menjamu saat Obama 'welcome home" ke Indonesia. 
Nada SBY itu menjadi cerminan publik Indonesia yang begitu antusias merayakan 
kemenangan Obama, sehingga terkesan berlebihan. Bahkan, kawan saya bilang, 
"orang Indonesia seperti orang Amerika yang tak punya hak pilih".Hanya karena 
Obama pernah tinggal di Jakarta dan berayah tiri pria Jawa, kita merasa Obama 
milik Indonesia. Yang kita harus ketahui, Obama dipilih oleh rakyat Amerika. 
Dia harus membayar harga itu mati-matian dengan menjalankan kebijakan yang 
menguntungkan Amerika. Tidak peduli dengan negara lain. Apakah itu Kenya atau 
Indonesia, ya kalau tak menguntungkan Amerika, buat apa dibela atau diurusin. 
 
"Hitler's birthplace syndrome" 
Wajar kalau orang Indonesia semarak dengan kemenangan Obama. Belum pernah dalam 
sejarah kita ada presiden negara asing yang punya kaitan emosional dengan 
Indonesia seperti kasus Obama. Apalagi Obama akan menjadi presiden dari negeri 
terkuat di dunia. Di Suriname, sebuah negeri nan jauh di Amerika Selatan sana, 
memang banyak politisi dan menteri berdarah Jawa. Bahkan mereka mencanangkan 
tahun 2012 akan ada orang Jawa menjadi presiden Suriname. Ya, mau Amerika atau 
Suriname, tetap aja mereka akan bela dan mementingkan negeri mereka. 
Kalau saya analisa, kaitan Obama dengan Indonesia mungkin bisa dijelaskan 
dengan teori yang saya sebut "Hitler's birthplace syndrome". Kalau mau dibilang 
sebuah penyakit, sindrom ini memperlihatkan, bahwa memori, latar belakang dan 
memori seseorang tidak akan membawa nilai positif terhadap tingkah lakunya. 
Lihatlah Hitler. Dia kelahiran kota Wina, Austria. Namun dia menyerbu negeri 
kelahirannya, setahun sebelum Perang Dunia Kedua dimulai. Orang yang terkena 
gejala ini banyak. Umumnya orang pemerintahan Amerika. Jenderal Dwight 
Eisenhower (kemudian menjadi Presiden AS ke 34), harus menghancurkan Jerman dan 
akhirnya mengalahkan Hitler. Padahal kedua orang tuanya berdarah Jerman. Henry 
Kissinger, penentu kebijakan luar negeri AS selama tiga dasawarsa, juga 
kelahiran Jerman. Tapi tak gunanya nostalgia itu bagi Jerman. 
Lebih parah lagi, sewaktu Jimmy Carter (yang tak punya pengalaman luar negeri) 
menjadi presiden AS ke-39, dia memilih seorang strategis berotak cemerlang 
kelahiran kota Warzawa (Polandia). Namanya  Zbigniew Brzezinski, untuk menjadi 
Ketua Dewan Keamanan Nasional. Dalam menjalankan kebijakannya, Brzezinksi harus 
menghancurkan reputasi dan hegemoni negara-negara Pakta Warzawa (blok komunis), 
yang kala itu sedang hangat-hangatnya perang dingin antara AS (kapitalis) dan 
Uni Soviet (komunis). 
Di Indonesia, memang ada beberapa orang pejabat asing kelahiran Indonesia atau 
memiliki kaitan emosional dengan negeri ini. Tetapi hal itu terbukti tidak 
bermanfaat.
Paul Wolwofitz, bekas dubes AS di Jakarta, arsitek Perang Teluk dan mantan 
Presiden Bank Dunia, memiliki ikatan emosional dengan Jawa. Istrinya pandai 
bicara Jawa dan lama mondok di sini waktu ikut program AFS. Ya itu tadi, 
nostalgia ya nostalgia. Amerika tetap nomor satu. Neneknya Lee Kuan Yew,  
pendiri Singapura berasal dari kota Semarang. Lalu apa untungnya buat 
Indonesia? Gak ada! Tun Abdul Razak, PM Malaysia adalah keturunan bangsawan 
Bone, Sulawesi Selatan. Tapi tak bermanfaat fakta itu untuk kita. Bahkan 
anaknya, Najib Razak, calon PM Malaysia, merampas pulau Sipadan dari kita. 
Lihat saja, apa untungnya Austria dengan Gubernur California Arnold 
Scharwznegger (kelahiran Wina)? Nggak ada! Paling-paling cuma dibuatkan patung 
di kota kelahirannya. Hanya sebatas kebanggaan! 
Obama dan Ann Dunham 
Sebaiknya kita tidak usah berharap dan berlebihan meminta sesuatu dengan Obama 
untuk Indonesia. Dia dipilih dan dibiayai oleh rakyat Amerika, bukan kita. 
Apalagi diperburuk bahwa Obama seorang dari partai demokrat. Kita semua tahu, 
presiden AS dari partai demokrat sangat kritis dan kurang menyukai Indonesia. 
Jimmy Carter dari demokrat adalah presiden AS yang paling tidak suka dengan 
Indonesia. Bill Cinton yang juga dari kubu yang sama, membiarkan (atau memang 
memaksa) Timor Timur lepas dari Indonesia. Padahal, pendahulunya (semuanya kaum 
republik), mendukung, membela dan mempertahankan posisi membela Indonesia dalam 
kasus Timor Timur di panggung internasional. 
Yang kita bisa tahu dari Obama adalah ibu kandungnya yang cinta negeri kita. 
Dia mau menikah dengan pria Jawa dan bersusah payah tinggal di Jakarta sambil 
menyelami budaya kita. Padahal di Honolulu lebih enak dan nyaman.  Kalau 
disuruh pilih siapa yang pantas menjadi presiden AS, Obama atau Ann Dunham? 
Saya pilih ibunya. 
Obama sendiri tidak pernah secara terbuka atau blak-blakan memuji (memang tidak 
ada yang bisa dipuji) atau menyebut Indonesia dengan nada bangga (memang tidak 
ada yang bisa dibanggakan). Dia lebih senang menyebut "pengalaman kecil saya di 
Asia Tenggara", daripada "masa kecil saya di Indonesia". Obama juga tidak aktif 
membela Indonesia di Kongres. Beberapa anggota Kongres AS dibiarkannya, yang 
sok ikut campur dan tidak mengerti masalah lokal sini, sampai berani menggugat 
integritas Papua dengan Indonesia. Indonesia sudah menjadi negeri asing bagi 
dia, seraya mengecam kaum militer Orde Baru yang represif dalam bukunya. 
Obama tinggal dan sekolah di Indonesia, karena terpaksa ikut ibunya, bukan 
kemauan sendiri atau cinta dengan Indonesia. Ibunya-lah yang cinta Indonesia. 
Sangat naïve meminta Obama punya perhatian khusus kepada Indonesia. 
Obama adalah senator cemerlang dan memiliki visi ke depan. Jadi dia akan lebih 
rasional bertindak, sambil mengartikulasi sebuah hubungan baik antara AS dan RI 
dengan rinci yang berpijak pada kepentingan Amerika. 
Untuk lucu-lucunya, lebih baik kita membantu dan membiayai partai politik di 
Suriname seperti Kerukunan Tulodo Pranata Inggih (Partai Kesatuan dan 
Persatuan) atau Pertjaja Luhur (Partai Buruh). Siapa tahu mereka bisa 
menjadikan orang Jawa menjadi Presiden Republik Suriname. Nah, yang seperti ini 
tentu sedikit beda dengan kasus Obama. Namanya juga orang Jawa.
 

>>> [EMAIL PROTECTED] 11/11/08 02:59PM >>>
rek hideung rek bodas rek beureum, kafir yahudi, nasrani mah eweuh 
pulunganneunnana, lain akang meni........................ka si Obama, emang 
geus pernah kumaha kitu ka si obama teh?

--- Pada Sel, 11/11/08, Waluya <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

Dari: Waluya <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: [Urang Sunda] Amerika: "Ngimpi bisa jadi kanyataan"
Kepada: [EMAIL PROTECTED], [email protected], [EMAIL PROTECTED]
Tanggal: Selasa, 11 November, 2008, 6:08 AM


Kuring kungsi nonton film "Missisipi Burning", film soal kumaha urang 
hideung di Amerika ditincak harkat darajatnya ku urang kulit putih di taun 
1960'an. Sanggeus lalajo pelem eta, rarasaan teh teu mungkin Amrik dipimpin 
urang hideung. Tapi ieu Amerika dimana ngimpi bisa jadi kanyataan: Januari 
2009, Amerika dipimpin ku kulit hideung .....

Kirim email ke