Tulang Raksasa di Muara Gembong MUARA Gembong di sebelah utara Kab. Bekasi, hari-hari terakhir ini dihebohkan dengan penemuan tulang raksasa. Apakah tulang belulang tersebut merupakan peninggalan zaman purbakala? Hal itu belum bisa dipastikan karena tim peneliti masih menuju ke Muara Gembong.
"Tulang itu ditemukan kemarin (Minggu-red.) pagi sekitar pukul 9.00 WIB. Warga sempat heboh dan mengira itu tulang badak atau gajah karena di sini dulunya hutan," kata Ajun Komisaris Lestariyono, Kepala Kepolisian Sektor Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat, di kantornya, Senin (24/11). Orang yang pertama kali menemukan tulang tersebut adalah Muasih, pekerja tambak warga Kampung Bungin RT 03/01, Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, Bekasi. Saat sedang bekerja di tambak milik Sarkani, warga setempat, tiba-tiba saja Muasih menginjak benda keras. Setelah diperiksa, ternyata benda itu tulang belulang. Bersama Daud dan Rino, mereka bertiga kemudian menggali lebih dalam. Ternyata mereka menemukan tulang belulang yang berukuran cukup besar. Jumlah total tulang yang ditemukan mencapai 246 potong. Ukurannya, ada yang mencapai panjang 120 cm dengan diameter 23 cm. Bentuk tulang-tulang itu juga beraneka rupa, ada yang bulat seperti batu, panjang, dan pipih. Untuk sementara, tulang belulang yang ditemukan tersebut diamankan di Mapolsek Muara Gembong. "Kita amankan ke kantor karena isunya semakin simpang siur. Kita juga khawatir ada orang-orang yang memanfaatkan masalah ini untuk kepentingan pribadi," ujar Lestariyono. Lokasi penemuan tulang tersebut lumayan jauh dari Mapolsek Muara Gembong. Kondisi jalan menuju lokasi penemuan juga sangat buruk. Terlebih pada musim hujan, jalan itu becek dan berlumpur. Kondisi tulang belulang raksasa tersebut, saat ditemukan terpecah-pecah menjadi potongan besar dan kecil. Tulang tersebut juga berwarna hitam gelap. "Kita masih menunggu petugas terkait untuk meneliti tulang-tulang itu," kata Lestariyono. Belum bisa dipastikan Menanggapi penemuan tersebut, ahli paleontologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Dr. Ir. Yahdi Zaim belum dapat memastikan tulang belulang tersebut dari jenis hewan purba ataupun lainnya. "Banyaknya tulang belulang tidak bisa dijadikan dasar penetapan kerangka tersebut merupakan hewan raksasa. Apalagi, istilah raksasa tersebut tergantung definisinya," katanya ketika dihubungi lewat telefon, Senin (24/11). Menurut Zaim, tulang belulang untuk kerangka gajah pada zaman ini juga berjumlah ratusan. "Ukuran gajah saat ini dengan pada zaman purba tidak jauh berbeda, begitu juga dengan jenis hewan besar lainnya," ujarnya menambahkan. Sekitar belasan tahun lalu, temuan kerangka badak purba pernah ditemukan di kawasan Tangerang. Temuan serupa pernah terungkap di kawasan Cirebon dan sekitarnya. "Dilihat dari usianya, jauh lebih muda dibandingkan dengan temuan kerangka di daerah Sangiran Jawa Tengah. Untuk temuan kerangka di Bekasi, bisa saja menjadi rangkaian temuan kerangka seperti di Tangerang karena potensi Jabar sebagai peninggalan zaman purbakala juga terbuka. Namun, harus dibuktikan lebih jauh," ujarnya. Mengenai warna tulang yang hitam pekat, menurut Zaim, terjadi karena pigmen tulang menyerap warna pada tanah lumpur yang biasanya ada di daerah tambak. Namun, Zaim menyayangkan sikap masyarakat sekitar penemuan tulang di Bekasi yang langsung melakukan penggalian tulang belulang sebelum dilakukan penelitian sebelumnya. Penggalian terhadap peninggalan sejarah purbakala tidak bisa dilakukan secara sembarangan karena dapat mengaburkan konstruksi sejarah. "Begitu menemukan hal yang tidak biasa, harusnya masyarakat segera melapor ke pemerintah daerah setempat dan lokasi penemuan tersebut di-statusquo-kan terlebih dahulu sampai ada tim ahli yang meneliti," ucapnya. Selain itu, pengangkatan temuan purbakala harus memiliki tujuan mendetail. "Sebelum diangkat, kita harus tahu apakah hewan tersebut mati terpendam di lokasi tersebut atau terbawa arus deras pada saat proses kelangsungan hidup. Oleh karena itu, jangan langsung diangkat sebelum konstruksi tulangnya jelas," katanya. (Ririn/"PR"/Dtc)*** Cita: http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=44695

