maos eta carios, kuring ge mesem kang. hehehehehe......
Kumaha ua sas, kang oman, sareng sadaya bae daramang ?, punten nembe 
gabung deui tos lami teu ngiring ngobrol ngaramekeun kampung urang 
sunda. 

--- In [email protected], "Waluya" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Maca kolom Tempointeraktif dihandap ieu,  kuring jadi mesem 
kapiasem ......
> 
> Doa Tukang Rias
> Kamis, 04 Desember 2008 | 10:05 WIB
> 
> TEMPO Interaktif, Jakarta: Perempuan itu memasuki pintu satu 
Masjidil Haram 
> dengan segudang kecemasan. Sepuluh langkah menjelang pintu King 
Abdul Azis, 
> was-wasnya memuncak. Wajahnya yang dibalut bedak tebal mulai 
memucat. Ia 
> menarik tangan temannya.
> 
> "Sebentar, Pak..," kata Sumiyati itu tiba-tiba sembari menghentikan 
> langkahnya. Dia menarik tangan Salamun, Ketua Regu Bimbingan Haji 
> Kedungguwo, desa miskin dan tandus di kaki Gunung Lawu, Magetan, 
Jawa Timur. 
> "Boleh nggak bawa ini ke Masjidil Haram? Asykar-asykar (polisi) 
perempuan 
> kan galak-galak. Mereka selalu memeriksa tas-tas jemaah haji."
> "Bawa apa sih? Al Quran? Kok tas tentengannya berat banget," 
Salamun 
> penasaran. Sumiyati menunjukkan tasnya. "Masya Allah!," Salamun 
berseru 
> kaget. Jantungnya hampir copot melihat tas Sumiyati yang penuh 
dengan 
> botol-botol riasan wajah. Ada bedak warna-warni, selusin pemerah 
bibir, 
> perona pipi, penghitam alis, dan pelentik bulu mata.
> 
> "Ibu mau tawaf apa mau merias pengantin?" Salamun keheranan.  "Ini 
mau saya 
> bawa berdoa di Multazam, di depan Kabah, antara Hajar Aswad dan 
pintu Kabah. 
> Katanya di sana doa gampang terkabul," ujar Sumiyati. "Boleh, kan 
Pak?," 
> Sumiyati memasang wajah paling memelas se-Bekasi.
> 
> Salamun bingung. Dia bukan ustad, apalagi pembimbing haji. Dia juga 
tak 
> punya secuil pengalaman berhaji. Salamun cuma santri ndeso yang 
disuruh naik 
> haji oleh mertuanya. Salamun celingukan mencari kiai pembimbingnya. 
Tapi 
> lelaki berjenggot putih itu sudah melangkah masuk.
> 
> "Sudah Bu, bismillah saja, mudah-mudahan lolos," Salamun berusaha 
meredakan 
> kecemasan. "Kalau mau aman lagi, bacakan shumun, bukmun, 'umyun, 
fahum 
> layarji'un (semoga mereka buta, tuli, bisu, ini doa pengusir anjing 
galak).
> 
> Sumiyati manggut-manggut. Dia pun mengusir kecemasannya dengan 
komat-kamit 
> membaca doa itu.
> 
> Sejurus kemudian Sumiyati lolos dari pemeriksaan asykar galak. Pagi 
itu dia 
> juga berhasil berdoa di Multazam dengan aneka bedaknya. Di sana 
pemilik 
> salon "Dara",  itu menangis dan memanjatkan doa yang sudah dia 
rancang dua 
> bulan lalu di kampung sebelum ke Tanah Suci.
> 
> "Ya Allah lariskanlah salonku. Jangan biarkan salon depan kompleks 
rumah 
> mengambil pelangganku. Bila salonku laris, saya berjanji akan rajin 
> bersedekah. Allahumma amin"
> 
> Sumiyati berdoa di tengah himpitan orang-orang Nigeria bertubuh 
raksasa. 
> Kakinya terinjak. Perutnya ke sodok.Tapi Sumiyati berusaha khusyuk 
berdoa 
> dengan satu tas peralatan rias di dekapanya.
> 
> Salamun yang mengantarkan Sumiyati ke depan Kabah ingin mesem 
mendengar doa 
> itu. Tapi, dia terlalu sibuk menahan desakan dari orang-orang yang 
hendak ke 
> Multazam atau mencium Hajar Aswad. Dia pun buru-buru menarik 
Sumiyati 
> menyingkir dari gelombang manusia.
> 
> Sorenya, Salamun masih diliputi segudang rasa penasaran. Dia pun 
menemui 
> ustadnya. "Apa agar doa terkabul harus membawa peralatan seperti 
Sumiyati?," 
> tanyanya.
> 
> Ustad Wagimun tersenyum. "Allah itu sesuai persangkaan hambanya. 
Dia bersama 
> orang yang mengingat-Nya." Ustad Wagimun dengan fasih mengutip 
hadits dari 
> Imam Bukhari. Meski kiai kampung, mandi dan wudlu di kolam berair 
hijau 
> penuh lumut, ilmu ustad Wagimun ini boleh juga, begitu pikir 
Salamun.
> 
> "Tukang rias, tukang sapi, koruptor boleh berdoa agar laris dan 
kaya di 
> depan Kabah,," katanya . "Sampeyan minta kekayaan," kata Wagimun 
melanjutkan 
> nasehatnya, "Allah akan memberinya seperti Karun yang terkenal 
dengan harta 
> karun." Yang minta pangkat juga diberi pangkat.
> 
> "Tapi yang paling baik adalah doa sapujagat: robbana atina fi dunya 
hasanah 
> wa fil akhiroti hasanah....." "Itu doa agar selamat dunia dan 
akhirat."
> 
> Salamun manggut-manggut. Di kepala peternak sapi itu menari-nari 
sejumlah 
> pertanyaan: "Bagaimana ya caranya membawa sapi-sapinya ke depan 
Kabah?
> 
> Burhan Sholihin, Wartawan Tempo
>


Kirim email ke