Reus reus pisan..hebatlah..urang Ciamis..heibat.....

On 1/9/09, Roro Rohmah <[email protected]> wrote:
>
>    Baraya, aya dongeng si Che Vot yeuh...
>
> Nyanggakeun,
> ro2
>
> *Menyandingkan Cepot dan Hercules*
>  Jumat, 9 Januari 2009 | 00:38 WIB
>
> *Cornelius Helmy*
>
> Berkostum matador, Cepot bertarung melawan banteng di arena adu banteng.
> Hasilnya, tokoh wayang golek jenaka berwajah merah ini berhasil menaklukkan
> lawannya. Cepot dielu-elukan. Penonton pun berdiri memberi sanjungan atas
> keberhasilan itu.
>
> Cerita itu memang bukan peristiwa nyata. Itu terjadi ketika Cepot yang asli
> Sunda menjadi tokoh sentral pertunjukan wayang ajen pada "IX World Mundial
> Folkloriques Festival" di Spanyol pada tahun 2000. Lakon itu dibawakan
> dalang wayang ajen, Wawan Gunawan.
>
> Wayang ajen bukan hal baru dalam jagat pewayangan Indonesia meski juga tak
> bisa dikatakan berumur tua. Wayang ajen dibuat Wawan dan Arthur S Nalan,
> mantan Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia di Bandung, tahun 1998.
>
> Namun, baru setahun kemudian wayang ajen tampil di depan masyarakat. Lakon
> pertamanya, "Kidung Kurusetra", dimainkan di Taman Mini Indonesia Indah
> (TMII), Jakarta.
>
> Wawan bercerita, ajen berasal dari kata ngajenan yang dalam bahasa Sunda
> berarti menghargai atau memberi penghormatan. Wayang ajen merupakan bentuk
> pengembangan wayang golek sebagai tradisi Sunda yang digabungkan dengan ide
> kreatif kaum muda. Pengembangan ini tak diartikan sebagai pemberontakan,
> tetapi penghormatan pada wayang golek tradisi Sunda.
>
> Wayang ajen lahir dari gejolak kaum muda. Ia lahir dari perdebatan dan
> keterlibatan intensif ketika muncul keinginan untuk mengungkapkan ide baru.
> Meski tak jarang sikap dinamis kaum muda menimbulkan rasa bahwa hal lama
> berarti usang, tak sesuai perkembangan zaman. Mereka lupa menghargai warisan
> sejarah.
>
> "Kaum muda sering bergerak maju tanpa 'menoleh'. Padahal, banyak hal baik
> dari masa lalu yang bisa dijadikan pelajaran, bekal berharga. Inilah mata
> rantai yang sering kita lupakan. Wayang ajen ingin menjembataninya," kata
> murid Ki Dalang Iden Subasrana Sunarya dari Padepokan Giri Harja 5 ini.
>
> Dalam wayang ajen, tradisi golek Sunda tetap menjadi peran utama. Bentuk
> dan bahan pembuatannya sama dengan wayang golek kayu. Naskah yang diambil
> pun berpatokan dari Wiracarita Ramayana dan Mahabarata. Namun, mengikuti
> gejolak kaum muda, cara membaca dan penyampaian pesan dibedakan agar mudah
> diserap penonton.
>
> Penyampaiannya sering kali dimeriahkan dengan format teater. Wayang ajen
> juga berkolaborasi dengan kesenian lain, seperti tampil bareng grup musik
> Samba Sunda, seni instalasi Setiawan Sabana, grup tari Mas Nanu Muda, juga
> teater tradisi Miss Tjitjih.
>
> Bahkan, bentuk wayangnya bisa berevolusi, dan disebut sebagai wayang
> kakufi, sebab anak wayangnya terdiri dari berbagai bahan. Ka untuk wayang
> golek kayu Sunda, ku adalah wayang kulit Cirebon, dan fi adalah wayang yang
> dibuat dengan bahan fiber.
>
> "Wayang ajen bisa menjadi alternatif pertunjukan wayang bagi kaum muda.
> Diharapkan, fungsi wayang sebagai tempat menyampaikan pesan positif kepada
> masyarakat, khususnya kepada generasi muda, bisa tercapai," katanya.
>
> Wawan, pria lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Jurusan Seni
> Pedalangan, tahun 1995, ini mengakui sempat ada nada sumbang saat mereka
> mengembangkan wayang ajen.
>
> "Kami dianggap keluar dari pakem wayang golek Sunda tradisi, di antaranya
> dalam penyajian wayang atau jalan ceritanya," ujarnya.
>
> Namun, Wawan terus maju. Ia beranggapan inti dari wayang adalah media
> penyampaian atau penyebar informasi positif. Itu tak dilanggarnya. Wayang
> ajen hanya berusaha memperkaya metode penyampaian pesan.
>
> "Namun, itu dulu, kini banyak pihak yang mendukung dan tertarik dengan gaya
> wayang ajen. Belakangan ini ada sekitar 40 dalang muda yang mau
> mengembangkan wayang ajen. Mereka berasal dari Banten, Ciamis, Bekasi,
> hingga Bogor," kata Wawan.
>
> *Ke luar Indonesia*
>
> Sejak penampilannya yang pertama di TMII, wayang ajen kemudian mulai
> dikenal secara nasional, bahkan internasional. Tema cerita yang disampaikan
> pun berkembang, sering kali terkait dengan kondisi sosial masyarakat.
>
> Tahun 2007, misalnya, wayang ajen mengangkat tema tentang sosialisasi
> pencegahan HIV/AIDS di Jakarta dalam acara yang digagas UNESCO, Dinas
> Kebudayaan dan Pariwisata, serta Badan Koordinasi Keluarga Berencana
> Nasional.
>
> Saat tampil dalam rangka Hari Bumi Internasional bersama Greenpeace Asia
> Tenggara di Jakarta, wayang ajen menampilkan lakon "Meruwat Bayangan". Untuk
> kampanye global warming di Bandung, ditampilkan lakon "Cepot Menggugat".
>
> Wayang ajen yang dibawakan Wawan juga terkenal hingga ke luar Indonesia. Ia
> tampil antara lain dalam acara "The Asia Europe Puppet Festival" di Thailand
> (2002), menjadi duta Indonesia dalam "Puppet Theater Indonesia: A
> Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity" di Perancis
> (2004), dan pada "11th World Festival of Puppet Art" di Ceko (2007).
>
> Selain itu, Wawan juga tampil pada "The 10th International Puppet and Mime
> Festival of Kilkis" di Yunani (2008) dan dalam "Festival Wayang
> Internasional" di Siprus dan Vietnam.
>
> "Ketika tampil di luar negeri, bahasa yang disampaikan pun dicampur, ada
> bahasa Sunda, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, sampai bahasa negeri
> setempat. Saya dituntut bisa berbahasa lokal meski kosakatanya terbatas.
> Saya belajar bahasa kilat ha-ha," katanya.
>
> Berbagai penghargaan internasional juga diraih wayang ajen, di antaranya
> penghargaan pada "IX World Mundial Folkloriques Festival" di Spanyol (2001),
> sebagai penyaji terbaik pada "The Asia Europe Puppet Festival" di Thailand
> (2002), dan penghargaan dari "Festival Wayang Internasional" ke-2 di Siprus
> (2008).
>
> "Wayang ajen kakufi juga mendapat medali emas untuk kategori dalang
> terbaik, lakon terbaik, dan komposer terbaik dalam "Festival Wayang
> Internasional I" di Vietnam, 16-24 Februari 2008," ujarnya.
>
> *Tema cerita*
>
> Wawan berharap wayang ajen bisa menjadi penyemangat wayang Indonesia agar
> lebih mendunia. Di sini juga berarti pesan positif bangsa Indonesia untuk
> kebaikan dan perdamaian dunia, misalnya, bisa disampaikan ke mancanegara.
>
> Ia yakin hal itu bisa terwujud. Salah satu indikatornya, banyak cerita
> pewayangan asing yang mirip lakon di Indonesia, kejahatan yang bakal kalah
> dengan kebaikan. Contohnya, lakon wayang dari Yunani yang mengisahkan
> kebesaran Alexander saat melawan naga sebagai simbol kejahatan, atau
> Hercules yang berperang melawan Hydra.
>
> Tema cerita kepahlawanan itu serupa dengan kisah punakawan saat nyawa
> mereka terancam amukan para buta. Mereka meminta pertolongan ksatria
> Gatotkaca untuk memerangi buta.
>
> "Wayang tetap mampu berperan sebagai media untuk menyampaikan pesan
> positif. Banyak kearifan lokal dan potensi budaya bangsa yang bisa
> disampaikan. Ini menjadi kesempatan baik bagi dunia wayang Indonesia untuk
> tampil sebagai duta dunia," katanya.
>
> *
> Data Diri*
>
> *Nama:* Wawan Gunawan SSn
>
> *Lahir:* Ciamis, Jawa Barat, 11 Desember 1969
>
> *Pekerjaan:* PNS, Kepala Subbagian Kerja Sama Pusat Penelitian dan
> Pengembangan Kebudayaan, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata
>
> *Pendidikan:*
>
> - Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Bandung, Jurusan Pedalangan,
> lulus 1989
>
> - Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung, Jurusan Karawitan, 1992
>
> - Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Jurusan Seni Pedalangan, 1995
>
> * Istri:* Dini Irma Damayanthi (32)
>
> *Anak: *nami2na* *sae kanggo baraya nu nuju milarian nami kanggo
> murangkalih. :)
>
> - Ajen Campakararang Gunawan (9) -
>
> - Purbasari Nur Asri Gunawan (7)
>
>
> http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/09/00381984/menyandingkan.cepot.dan.hercules
>
>  
>

Kirim email ke