--- Begin Message ---
--- On Tue, 1/13/09, darmawan arief <[email protected]> wrote:
From: darmawan arief <[email protected]>
Subject: [ppi-jepang] Operation Cast Lead: Implikasinya bagi Israel & Hamas
To: [email protected]
Date: Tuesday, January 13, 2009, 10:36 AM
Di bawah ini sebuah artikel padat analisis yang terlalu bagus untuk
dibiarkan di list comment. Silakan membacanya. Penulisnya seorang perwira TNI
yang mengenal medanLebanon Selatan.
salam,
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
Arief Darmawan
Laboratory of Global Forest Environmental Science
Department of Global Agricultural Sciences
Graduate School of Agricultural and Life Sciences
The University of Tokyo
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
Operation Cast Lead: Implikasinya bagi Israel & Hamas*
(http://muhsinlabib. wordpress. com)
Konflik yang terjadi antara Israeldan Hamas sebenarnya telah terjadi sejak
puluhan tahun yang lalu. Hal ini semakin meruncing ketika Hamas berhasil
menguasai pemerintahan di Gazamelalui kudeta berdarah pada Juni 2007.
Gesekan antara kelompok garis keras Hamas dan Israeltidak dapat dihindarkan
hingga dicapai perjanjian 6-bulan gencatan senjata yang berakhir pada 26
Desember 2008 lalu.
Momentum berakhirnya gencatan senjata ini dipandang Israelsebagai awal
strategis untuk menghancurkan kekuatan Hamas sampai ke akar-akarnya. Seminggu
sebelum gencatan senjata berakhir, Israelmenghentikan seluruh suplai makanan
dan kebutuhan pokok lain yang masuk ke Gazadi sepanjang jalur pantai dan darat.
Hal ini menimbulkan shortage logistik masyarakat Gazaumumnya dan pihak Hamas
khususnya. Hamas pun menjawab strategi Israeldengan menekan balik melalui
peningkatan aktivitas serangan roket ke Israel. Suatu reaksi yang memang
diharapkan oleh Israelsebagai pembenaran serangan balik Israelke Jalur Gaza.
Sebuah sumber Departemen Pertahanan Israelyang tidak mau disebutkan namanya
berkata, "Kelihatannya operasi militer Israelakan dimulai dengan serangan udara
untuk melawan peluncuran roket dan dilanjutkan dengan invasi darat." 1
Momentum ini juga sengaja dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh Israelyang mencalonkan
diri sebagai Perdana Menteri untuk menaikkan popularitas pada pemilihan umum
tanggal 10 Februari 2009 nanti. Termasuk Menteri Luar Negeri Tzipi Livni dan
Menteri Pertahanan Ehub Barak yang saat ini posisinya sangat tidak
menguntungkan karena tekanan Benjamin Netanyahu untuk mengambil langkah
secepatnya terhadap keamanan Israel. Namun, Livni lebih pandai dalam mengambil
kesempatan. Dialah orang Israelpertama yang menyatakan akan menyerang Hamas.
Padahal, Ehud Barak sebagai Menhan seharusnya yang paling berkesempatan
mengambil peluang ini.
Ketidakmampuan Ehud Barak bertindak cepat bukanlah tidak beralasan. Setidaknya
ada 3 alasan penting mengapa dia terlambat bersikap dibandingkan dengan Menteri
Luar Negeri dalam menyatakan perang melawan Hamas. Pertama, moril tentara
Israelmasih rendah karena ekses kekalahan perang musim panas 2006 di Lebanon
sungguh diluar perkiraan Israel, dimana ratusan personel dan tank Markava IDF
(Israeli Defence Force) diluluhlantakkan Hezbollah. Kedua, kekhawatiran yang
besar juga menyelimuti warga sipil dan personel IDF karena saat ini secara de
facto Israel masih memiliki konflik dengan 3 negara besar di jazirah Arab;
Iran, Syria, dan Lebanon dalam hal ini Hezbollah. Apabila Israel membuka front
dengan Hamas di perbatasan selatan, bukan tidak mungkin Hezbollah, Iran dan
Syria akan ikut membantu Hamas karena mereka memiliki keterkaitan emosional dan
politik. Ketiga, Ehud Barak kurang percaya akan kemampuan Israeldalam mengambil
keputusan pelik. Hal ini terjadi
pada kasus pembebasan seorang prajurit Israelbernama Gilead Shalit yang telah
ditahan oleh tentara Hamas lebih dari dua tahun. Barak lebih memilih jalan
diplomasi lewat Mesir daripada melakukan negosiasi langsung antara Israel-Hamas
.2
Serangan Udara Tidak Membawa Hasil
Serangan udara selama 5 hari yang dimulai tanggal 27 Desember 2008 dengan
menggunakan pesawat F-16 dan helikopter Apache ternyata tidak sesuai harapan.
Tujuan Israeluntuk "mengembalikan keamanan di Selatan" dengan satu cara, yaitu
menghentikan penembakan (roket) Hamas ke Israelbelum tercapai. Hamas masih
mampu menembakkan sekitar 70 roket ke Israeldalam satu hari walaupun serangan
udara dipergencar dan lebih intensif dibanding perang melawan Hezbollah 2006.
Bahkan bisa dikatakan serangan udara Israel gagal, seperti pernyataan Jeffrey
White, seorang peneliti Washington Institute for Near East Policy (WINEP)
sekaligus mantan analis Defense Intelligence Agency, "penggunaan angkatan udara
Israel mampu menekan kemampuan Hamas untuk melakukan serangan balik, namun
akibat yang dihasilkan oleh Israel juga dibawah pencapaian yang seharusnya bisa
dipenuhi." 3
Keputusan melakukan invasi darat pada Operation Cast Lead ini sempat menjadi
perdebatan besar dan keraguan bagi kalangan ahli militer Israel. Beberapa ahli
militer mengatakan bahwa jika Israelingin melakukan invasi darat in full scale
operation maka Israelharus menyiapkan setidaknya 10.000 personel. Untuk itu,
6500 tentara cadangan dikerahkan dalam rangka memperkuat IDF melakukan serangan
darat. Pertimbangan kedua adalah pengalaman perang 2006 dengan Hezbollah
membuktikan bahwa serangan darat akan beresiko tinggi jika Hamas, yang memiliki
roket sama dengan Hezbollah pada perang yang lalu, belum sepenuhnya
dihancurleburkan. Dan pertimbangan ketiga,
sikap presiden Amerika terpilih Barrack Obama yang hanya diam mengenai
pembunuhan etnis di Gazadan situasi geopolitik regional Timur Tengah menjadi
tanda tanya besar bagi Israel. Israelbelum meyakini bahwa Obama akan berada
dibelakang Israeldan memberikan restu terhadap kepentingan politik dan
keamanannya di Timur Tengah. Beberapa hal yang mengindikasikan kebijakan Obama
akan berseberangan dengan George W. Bush diantaranya: rencana penarikan pasukan
Amerika dari Iraq, penolakan kampanye Global War on Terrorism, dan keinginan
Obama untuk menggunakan jalur diplomasi dalam membicarakan masalah nuklir Iran,
bukan melalui tindakan militer 4 . Namun dari semua pertimbangan diatas,
Israelmenggarisbawa hi indikasi ketidakberpihakan Obama pada kebijakan politik
Israel. Sehingga hari-hari terakhir Bush dikursi kepresidenan dijadikan tumpuan
untuk menunjukkan kemampuannya sebagai kekuatan penentu di Timur Tengah.
Delapan hari penyerangan besar-besaran yang dilakukan Israeluntuk menghancurkan
militansi Hamas baik lewat udara maupun darat ternyata berbuah pahit. Hamas
masih mampu menembakkan roket jauh kedalam wilayah Israel walaupun berbagai
markas Hamas dan infrastruktur pemerintahan hancur, listrik diseluruh wilayah
Gaza padam, suplai bahan kebutuhan pokok serta bantuan medis menipis.
Pertanyaan yang
muncul kemudian adalah, "apakah penghentian penembakan roket oleh Hamas
benar-benar akan tercapai ketika Hamas masih memegang kendali pemerintahan di
Gaza?"
Kontraproduktif bagi Israel dan IDF
Penyerangan Operation Cast Lead sebagai pembantaian etnis di Gaza, pembersihan
Hamas sampai ke akar-akarnya atau apapun itu sebutannya bukanlah hal yang
mudah. Walaupun kekuatan Hamas tidak sekuat Hezbollah dan medantempur Gazatidak
sesulit Lebanon Selatan, namun Israelperlu berminggu-minggu bahkan
berbulan-bulan untuk mendapatkan kemenangan mutlak. Kabinet Israelpun mulai
meragukan keberhasilan serangan ini. Dalam sebuah rapat pada hari kedelapan
penyerangan tentara Israelke Hamas, kabinet Israelmenyimpulkan "Hamas tidak
dapat ditumpas."5 Suatu kesimpulan yang sangat mengejutkan dan sulit diterima.
Serangan yang memakan korban paling mengerikan sepanjang sejarah Gaza, dimana
didalamnya termasuk anak-anak, perempuan dan orang lanjut usia, sama sekali
tidak mengecilkan semangat Hamas dalam berjuang mempertahankan wilayahnya.
Bahkan simpati kepada Gazasemakin hari semakin besar dan sebaliknya kecaman
bertubi-tubi diteriakkan kepada Israeldari sejumlah tokoh internasional.
Bantuan kemanusiaan yang
dikirimkan dari berbagai penjuru dunia merupakan bukti nyata semakin meluasnya
simpati dunia internasional kepada penduduk Gaza, yangsecara tidak langsung
juga berimbas kepada Hamas.
Keinginan Israeluntuk membakar habis Hamas sampai ke akar-akarnya ternyata
berbuah dendam yang membara terhadap Israeldisetiap sanubari rakyat Gaza,
bahkan janin yang masih didalam kandungan. Popularitas Hamas di Palestina pun
semakin naik seperti halnya Hezbollah di Lebanon setelah memenangkan
pertempuran 34 hari-nya. Kemenangan Hamas pada pemilu legislatif 4 tahun lalu
akan semakin menaikkan posisi Hamas ke puncak tiang bendera aspirasi politik
Palestina. Mereka dipandang sebagai pejuang bangsa dalam mempertahankan
kedaulatan negara. Dan secara bersamaan akan menurunkan kredibilitas kelompok
pro-Barat, Fatah, pimpinan Mahmoud Abbas dinegaranya sendiri. Pemerintahan
Abbas yang dinilai korup oleh masyarakatnya akan dipandang sebelah mata dan
sebaliknya Hamas dapat menjadi alternatif lain yang lebih baik. Seperti
pernyataan seorang analis politik Israel, Aluf Benn, pada 2 Januari 2009 di
surat kabar Haaretz "Jika perang ini berakhir imbang, seperti yang
diprediksikan, dan Israel gagal untuk menguasai kembali Gaza, maka Hamas akan
memperoleh
pengakuan diplomatik."
Bagi Israelsendiri, waktu yang tersisa sampai Barrack Obama disumpah untuk
menduduki kursi kepresidenan Amerika Serikat pada 20 Januari mendatang
sangatlah sempit. Pertaruhan kredibilitas kemampuan teknologi angkatan
bersenjatanya yang disampaikan Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert, pada
wawancara eksklusif berbahasa Arab di saluran televisi Al Arabiya sebelum
penyerangan pertama ke Gaza bahwa "kami lebih kuat" menjadi beban berat dan
hutang tak terbayarkan Israel.
Jika Israeltidak mampu menyelesaikan pertarungan ini dengan absolute victory
maka perang ini menjadi kekalahan ke dua melawan non-state enemy di Timur
Tengah. Dampak terbesar yang akan muncul bagi bala tentaranya adalah krisis
kepercayaan diri. Padahal musuh bebuyutan Israel di Lebanon, Hezbollah, saat
ini mengaku memiliki kekuatan dan persenjataan tiga kali lebih besar dibanding
perang 2006. Sekjen Hezbollah, Hassan Nasrallah, dalam pidatonya memperingati
As Syura awal tahun ini juga mengatakan bahwa Hezbollah telah memiliki roket
anti pesawat terbang jika Israel menyerang dan mengganggu ketenangan Lebanon.
Selain misil baru dengan jangkauan lebih jauh sampai ke Tel Aviv atau Negev,
Dimona, sebuah kotainstalasi nuklir Israelberada. Bagi penduduk Israel, hal ini
berarti mimpi buruk yang akan selalu menghantui dibawah bayang-bayang
kekhawatiran dan serangan balik yang lebih agresif dari Gazakelak dikemudian
hari.
Selanjutnya, Hamas pun akan memiliki bargaining position di meja perundingan
yang lebih menentukan untuk memaksakan tuntutan penghapusan boikot ekonomi dan
pembukaan jalur perbatasan darat yang selama ini diberlakukan.
Pertaruhan Terakhir
Walaupun beberapa perwira militer Israelmasih meyakini mereka akan memenangkan
peperangan ini 6 , namun pertanyaannya "Berapa lama waktu yang dibutuhkan
Israeluntuk menghabisi Hamas?" Akhirnya, Israel harus membuktikan bahwa taktik
IDF yang digunakan dalam Operation Cast Lead merupakan taktik paling ampuh
untuk membungkam Hamas berapapun harga yang harus dibayar. Jika tidak, maka
Israel harus menyiapkan payung perlindungan roket yang lebih canggih bagi
keamanan warganya di masa depan dalam mengantisipasi dendam kesumat masyarakat
Gaza, selain menciptakan taktik baru yang lebih kredibel komprehensif untuk
mempertahankan eksistensinya di jazirah Arab. Namun, hal ini sekaligus berarti
kemenangan mutlak bagi Hamas secara militer, politik dan diplomasi interasional.
*Penulis saat ini masih bergabung dibawah Satgas Yonif Mekanis TNI Konga
XXIII-C/UNIFIL di Lebanon Selatan. Sebelum bergabung dalam penugasan PBB,
penulis menjabat sebagai Kaur Data & Statistik Spaban I/Ren Spersad.
Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ aa/
[Non-text portions of this message have been removed]
--- End Message ---