Baraya, sugan aya bujang kahot! Ieu aya nu neangan yeuh. Hehehe. salam, mh ====== Gadis 107 Tahun Cari Suami
JIKA Wang Guiying memasang iklan pribadi di rubrik jodoh, bunyinya mungkin akan seperti ini: Seorang perempuan berusia 107 tahun, gadis, keibuan, pengertian, bertanggung jawab, mencari seorang suami, perjaka atau duda tanpa anak, berusia tak lebih dari 100 tahun, baik hati, humoris, dan bertanggung jawab. Akan tetapi, Wang tidak memasang iklan. Pemerintah setempat dan warga di sekitar tempat tinggalnyalah yang mencoba mencarikan jodohnya. Menikah adalah keputusan penting. Kadang keputusan untuk menikah itu datang pada waktu yang tidak diperkirakan. Seperti yang dialami Wang Guiying. Pada masa mudanya, Wang pernah bertekad tidak mau menikah. Namun ketika usinya menginjak 107 tahun, keinginannya menikah muncul. Alasannya, karena ia tak ingin membebani sepupu-sepupunya yang kini telah berusia 60-an. Pada usianya yang tak muda lagi itu, Wang merasa sudah ringkih dan tidak bisa melakukan pekerjaan berat seperti saat ia masih muda. Terlebih setelah kakinya patah lima tahun lalu. "Saya sudah berusia 107 tahun sekarang dan saya belum juga menikah," ujar Wang kepada Chongqing Commercial Times. Bagi Wang muda, pernikahan adalah hal yang menakutkan. Itu terjadi karena Wang kerap menjadi saksi aksi kekerasan yang dilakukan suami kepada istrinya. Wang pernah melihat pamannya memarahi dan memukuli bibinya. Lantas gadis yang dilahirkan di selatan Provinsi Guizhou itu menemani bibinya menangis di gudang kayu setelah dipukuli suaminya. Selain kekerasan dalam rumah tangga yang sering ia saksikan, Wang juga takut mengikuti ritus adat Cina yang mengharuskan perempuan menggunakan sepatu sempit agar kakinya tetap berukuran kecil. Dalam adat Cina, semakin kecil ukuran kaki seorang perempuan, dia akan dianggap semakin cantik dan siap menikah. "Semua orang menikah seperti itu, dan bagi saya saat itu, pernikahan menjadi hal yang sangat menakutkan," tuturnya. Wang hidup sendirian setelah kedua orang tuanya meninggal . Ia mencoba bertahan hidup dengan cara bertani hingga usianya mencapai 74 tahun. Melihat keadaan bibinya yang seperti itu, sepupu dan keponakan Wang akhirnya membawa Wang tinggal bersama mereka di Chongqing. Seiring berlalunya waktu, Wang merasa khawatir membebani sepupu dan keponakannya yang kini sudah menginjak usia senja juga. Wang juga mengaku sudah tidak bisa mencuci pakaiannya sendiri lagi. Oleh karena itu, ia mendambakan seorang suami. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Wang menginginkan pernikahan. Keinginannya itu kemudian direspons oleh pemerintah setempat. Bahkan masyarakat dan pemerintah menyatakan akan turun langsung ke lapangan dalam rangka mencari laki-laki yang berusia tak kurang dari 100 tahun yang siap menjadi calon suami Wang. (Lina Nursanty/"PR", dari Reuters dan New York Daily News)*** cite: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=53145

