Saha urang Indonesia nu mimiti boga kaahlian dina Basa Ibrani jeung 
Semit? Singhoreng urang Sunda kalahiran Garut, jenatna Prof Dr 
Ihromi ( Guru Besar UI). Beda jeung umumna urang Sunda, Prof Ihromi 
agamana Kristen. Istrina Prof Ihromi urang Batak nu sami-sami oge 
Professor di UI nu oge adina Jendral Simatupang (aran ieu dipake 
aran jalan di Jakarta). Dina biografina Jendral Simatupang, 
dicaritakeun kumaha "ribut"na  kulawargana waktu adi awewena  
bobogohan 
jeung rek dikawin ku urang Sunda. Tapi akhirna disatujuan .....

Nyanggakeun profil Jenatna Prof. Ihromi
http://tokohindonesia.com/ensiklopedi/i/ihromi/index.shtml

Ihromi (1928-2005)

Pakar Bahasa Ibrani dan Semit

Mantan Rektor Sekolah Tinggi Teologia Jakarta dan Guru Besar 
Fakultas Sastra Universitas Indonesia, ini seorang pakar bahasa 
Ibrani dan Semit. Prof Dr Ihromi MA, kelahiran Garut, Jawa Barat, 4 
April 1928, itu meninggal dunia di usianya yang ke 77 tahun karena 
menderita sejumlah komplikasi di kediamannya di Jalan Dempo 14, 
Jakarta Pusat, Minggu 25 September 2005 pukul 01.30 WIB.

Tokoh gereja ini dikenal juga sebagai pembawa semangat persaudaraan 
lintas iman. Maklum, semangat persaudaraan itu telah mendarah daging 
sejak kecil dalam kehidupan keluarganya. Lahir dari buah kasih ayah 
suku Sunda beragama Islam dan ibu beragama Kristen. Dia memilih 
memeluk agama Kristen bersama enam saudara lainnya dari 13 
bersaudara. Sementara yang lainnya memilih memeluk agama Islam.

Kendati mereka berbeda agama, dalam hubungan kekeluargaan tetap 
kompak. Mereka sangat memahami bahwa tiap agama mempunyai kaidah 
masing-masing. Sebagai seorang tokoh gereja yang berasal dari 
keluarga multi-agama, Ihromi menaruh perhatian tinggi terhadap 
kegiatan dialog antar agama baik pada tingkat lokal maupun nasional.

Ihromi ditahbiskan menjadi pendeta Gereja Kristen Pasundan 18 April 
1955. Kemudian dia menjadi dosen dan menjadi Rektor STT Jakarta 
beberapa periode. Di STT Jakarta dia menjadi guru besar yang 
mengajar Perjanjian Lama dan bahasa Ibrani dan bahasa Semit, sejak 
1972. Juga menjadi Guru Besar Luar Biasa Fakultas Sastra UI, sejak 
1974.

Ihromi juga aktif sebagai Ketua Perhimpunan Sekolah-Sekolah Teologia 
di Indonesia (1973-1978) dan Ketua Majelis Pendidikan Kristen di 
Indonesia (1980-1984). Bahkan dia juga pernah menjabat Wakil Ketua 
World Council of Churches (1975-1983) dan Anggota Komisi Pembaharuan 
Pendidikan Nasional.

Sebagai pendeta GKP dia aktif memberikan kontribusi pemikiran 
melalui komisi teologi, badan kesejahteraan dan dalam pengembangan 
hubungan gereja dan lembaga oikumenis di luar negeri.

Dia menempuh pendidikan di Christelijke HIS, Garut (1942). Ketika 
masih di HIS, dia sudah dipanggil ''profesor'' oleh teman-temannya, 
gara-gara dia berkaca mata dan senang membaca. Julukan itu 
mendorongnya giat belajar. Dia membulatkan tekad akan benar-benar 
menjadi profesor.

Semula dia ingin menjadi insinyur mesin, maka sempat masuk sekolah 
teknik di Bandung (1945) -- seangkatan dengan mantan Gubernur DKI 
Ali Sadikin yang mengambil jurusan bangunan. Namun, kemudian ia 
bercita-cita jadi dokter sehingga beralih ke SMA Perjuangan, 
Garut/Sumedang (1948).

Nyatanya, setamat SMA di Sumedang, 1948, Ihromi bertemu dengan ipar 
Bung Hatta, seorang dokter bernama Sanusi. Dokter itu malah 
menganjurkannya masuk Sekolah Tinggi Teologi Jakarta (STTJ), 1955. 
Kemudian, ia masuk Fakultas Sastra UI, jurusan bahasa Sunda dan 
Arab, namun tidak sampai selesai (1957).

Tahun 1963, Ihromi meraih gelar MA bidang ilmu sejarah dan bahasa 
Semit, dari Universitas Harvard, Cambridge, AS. Kemudian meraih 
gelar doktor dengan yudisium magna cum laude, 1972, dari Johannes 
Gutenberg Universitat, Mainz, Jerman Barat, setelah tiga tahun 
mendalami Kitab Perjanjian Lama. Disertasinya, 'Amm 'Ani Wadal Nach 
dem Propheten Zephanya. Dialah orang Indonesia pertama yang meraih 
keahlian bahasa Ibrani di luar negeri.

Ketika mahasiswa, pria penggemar musik klasik Barat dan Sunda, ini 
aktif di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Di situ dia 
berkenalan dengan gadis Tapanuli, adik bungsu Jenderal TB Simatupang 
bernama Tapi Omas Simatupang. Semula orang tua Tapi Omas kurang 
setuju atas hubungan mereka, tetapi setelah mereka sama-sama kuliah 
di AS, akhirnya mereka direstui menikah. Pernikahan ini dianugerahi 
dua orang putri yakni dr Kurniati Ihromi Tanjung dan Ir Ade 
Satyawati. Isterinya yang kemudian lebih dikenal sebagai 
Prof Dr Ny Tapi Omas Ihromi, SH, adalah guru besar FH UI.  

*)dari berbagai sumber antara lain Suara Pembaruan (26/9/05), Buku 
Apa Siapa Orang Sunda (hlm 203). 


Kirim email ke