----- Pesan Diteruskan ----
Dari: Yeni Sriheryani <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Cc: [email protected]
Terkirim: Selasa, 20 Januari, 2009 10:18:14
Topik: Fw: [igbsdarulmarhamah] Trs: [deltafm-jkt] Kisah Si Nasruddin Hoja

Insya Allah info yang Anx kirim itu banar adanya.......
hanya tidak diekspos, untuk kepentinga musuh Islam.

ada taushiyah lagi nihhh buat qt baca....

--- On Mon, 1/19/09, titi setiti <[email protected]> wrote:
From: titi setiti <[email protected]>
Subject: [igbsdarulmarhamah] Trs: [deltafm-jkt] Kisah Si Nasruddin Hoja
To: [email protected], "bu asih asih" <[email protected]>, "darul marhamah" <[email protected]>, "Masni Masni Gunawan SE" <[email protected]>, "stiyono massuti" <[email protected]>, "tigor lubis" <[email protected]>, "umizimar zamah" <[email protected]>
Cc: "Dini Maulidini" <[email protected]>, "mumu sayangku" <[email protected]>, "rauza icut" <[email protected]>
Date: Monday, January 19, 2009, 12:34 PM







Sudah lama gak baca guyonan cerdas ala negeri 1001 malam dengan tokoh cerdasnya si Abunawas (Nasruddin Hoja) yang kerap kali memberi pelajaran dengan guyonan dan sindirannya yang halus dan tajam kepada Raja Harun Al-Rasyid, dikala beliau berbuat khilaf terhadap rakyatnya. Hebatnya sang Raja pun juga lebih sering malu bila ternyata salah (hari gini..., di negeri ini mana ada pejabat, pemimpin yang bisa kayak gitu, di sindir lantas mau membenahi diri).
 
Kiriman dari temen baik Lady Soepardi (24-87) dan saya tambahkan dengan profil sang tokoh walau tidak thematis dengan cerita di bawah tapi lumayan sangat menyegarkan dan atas ijinnya saya bagikan ke temen-temen semata untuk menghilangkan kepenatan di sela-sela kesibukkan bekerja.
 
Salam,
 
Prie.
 
Pilih Aku Atau Dia
 
Nasruddin mempunyai dua orang istri. Suatu hari, mereka menemuinya pada saat yang bersamaan. Istri tuanya bertanya pada Nasruddin, "Siapakah yang lebih kau cintai, aku atau dia?"
Nasruddin bingung, setelah terdiam sejenak dia menjawab, "Kalian berdua tak ada bedanya. Aku mencintai kalian berdua tanpa membeda-bedakan."
Kedua istrinya tidak puas mendengar jawaban Nasruddin.
Istri mudanya lalu bertanya pada Nasruddin, "Andaikan kami berdua berperahu di danau. Tiba-tiba perahu tenggelam, siapakah di antara kami yang lebih dulu kau tolong?"
Nasruddin benar-benar terpojok oleh pertanyaan itu. Dia tidak tahu harus menjawab bagaimana. Tetapi kemudian dia menoleh kepada istri tuanya dan berkata,  "Aku kira kamu bisa berenang sedikit. Bukankah begitu, Sayangku?"
 
 
 
Tidak Batal
 
Nasruddin sedang berada di masjid salat bersama teman-temannya. Tiba-tiba, salah seorang di antara mereka nyeletuk, "Aku ragu, jangan-jangan, kompor di rumah masih menyala".
Temannya yang salat di sebelahnya berkata, "Dengan bicara begitu, salatmu batal. Kamu harus mulai lagi dari awal."
"Kamu juga," kata temannya yang duduk di sebelahnya lagi.
"Alhamdulillah," kata Nasruddin keras-keras, "untung, aku tidak bicara."
 
 
 
 
    Desa Kikir
 
Nasruddin mendengar ada sebuah desa yang warganya terkenal kikir semua. Dia ingin membuktikan hal itu. Maka Nasruddin pergi ke desa itu. Sesampainya didesa itu dia menuju sebuah rumah untuk meminta minum. Segera si pemilik rumah keluar dengan membawa segelas susu.
Setelah meminum susu itu dan mengucapkan terima kasih, Nasruddin berkata pada pemilik rumah itu, "Saudaraku! Aku mendengar, kalian para warga desa ini terkenal sebagai orang-orang kikir, tetapi ternyata kalian orang yang dermawan. Aku minta air minum, tetapi kau beri air susu."
Sambil tersenyum mengejek si pemilik rumah berkata, "Andaikata air susu yang kau minum tadi tidak kejatuhan tikus, tentu tak akan kami berikan padamu!"
Betapa marah Nasruddin mendengar ucapan pemilik rumah itu. Dia pun membuang gelas yang ada di tangannya ke tanah. Melihat ulah Nasruddin, pemilik rumah berseru, "Hai tamu tak tahu diri! Jangan kau buang gelas tempat kencing anak perempuanku itu!"    
 

 

      Relativitas Keju
 
Setelah bepergian jauh, Nasruddin tiba kembali di rumah. Istrinya menyambut dengan gembira.
"Aku punya sepotong keju untukmu," kata istrinya.
"Alhamdulillah," puji Nasruddin, "aku suka keju. Keju itu baik untuk kesehatan perut."
Tidak lama kemudian Nasruddin pergi lagi. Ketika dia kembali, istrinya menyambutnya dengan gembira juga.
"Adakah keju untukku?" tanya Nasruddin.
"Tidak ada lagi," kata istrinya.
Kata Nasruddin, "Tidak apa-apa. Lagi pula keju itu tidak baik bagi kesehatan gigi."
"Jadi mana yang benar?" kata istri Nasruddin bertanya-tanya, "Keju itu baik untuk perut atau tidak baik untuk gigi?"
"Itu tergantung," sambut Nasruddin, "tergantung apakah kejunya ada atau tidak."
 
 
 
 
 Jangan Perlihatkan Wajahmu Padaku
 
Nasruddin dinikahkan oleh keluarganya dengan seorang wanita berwajah buruk. Suatu pagi, ketika masih dalam suasana pengantin baru, Nasruddin bersiap hendak pergi. Istrinya mendekat, dan dengan sikap manja dia bertanya,
"Tolong beritahu aku, siapa keluarga laki-lakimu nanti yang boleh melihat wajahku?"
"Terserah, mau kau perlihatkan pada siapa pun wajahmu, aku tidak peduli, asal tidak kepadaku," jawab Nasruddin ketus.
 
 
 
 
 Izrail Lebih Tertarik Padamu
 
Ketika sedang sakit parah, Nasruddin berkata kepada istrinya, "Istriku tercinta, kenakan pakaianmu yang terbaik. Pakailah perhiasanmu yang terindah. Sisir rambutmu. Cucilah wajahmu. Pokoknya, berdandanlah secantik mungkin, lalu kemarilah."
"Dalam keadaan seperti ini bagaimana mungkin aku meninggalkanmu hanya untuk berdandan. Tentu aku tidak akan melakukannya. Kamu kira aku wanita macam apa, sehingga kamu bilang begitu padaku?" kata sang istri.
"Bukan begitu, istriku. Ternyata engkau salah paham. Aku melihat Izrail sudah mondar-mandir di sekitarku. Begitu melihatmu dengan pakaian bagus dan penampilan yang cantik, barangkali dia lebih tertarik padamu, lalu membawamu dan membiarkan aku," jawab Nasruddin.
 
 
 
Makam Tua
 
"Kalau aku mati nanti," kata Nasruddin kepada istri dan keluarganya, "kuburkan aku di makam tua saja."
"Memangnya kenapa?" tanya istrinya.
"Agar kalau Munkar dan Nakir datang, mereka melewatkanku, karena mengira kuburanku yang tua sudah mereka periksa."

 

 

Gelar Timur Lenk

 

 Timur Lenk mulai mempercayai Nasruddin, dan kadang mengajaknya berbincang soal kekuasaannya.
"Nasruddin," katanya suatu hari, "setiap khalifah di sini selalu memiliki gelar dengan nama Allah. Misalnya: Al-Muwaffiq Billah, Al-Mutawakkil 'Alallah, Al-Mu'tashim Billah, Al-Watsiq Billah, dan lain-lain. Menurutmu, apakah gelar yang pantas untukku?" 
Cukup sulit bagi Nasruddin untuk menjawab, mengingat Timur Lenk adalah penguasa yang bengis. Tetapi tak lama kemudian Nasruddin menemukan jawabannya, "Saya kira, gelar yang paling pantas untuk Paduka adalah Na'udzu Billah saja."
 
 
 
 
  Timur Lenk di Akhirat
 
Timur Lenk dan Nasruddin berdiskusi masalah kepercayaan yang dianut Nasruddin. Dari Nasruddin, Timur Lenk mendapat pengetahuan tentang akhirat, surga dan neraka.
"Nasruddin! Menurutmu, di manakah tempatku di akhirat, menurut kepercayaanmu?" tanya Timur Lenk.
Bukan Nasruddin kalau tak dapat menjawab pertanyaan sepelik ini.
"Raja penakluk seperti Paduka," jawab Nasruddin, "insya Allah akan ditempatkan bersama raja-raja dan tokoh-tokoh yang telah menghiasi sejarah. Saya yakin Paduka akan ditempatkan bersama Fir'aun dari Mesir, Raja Namrudz dari Babilon, Kaisar Nero dari Romawi, dan juga Jenghis Khan."
Timur Lenk benar-benar puas dan gembira mendengar jawaban itu.
Catatan: beberapa nama yang disebut Nasruddin adalah nama yang disebut dalam Alquran sebagai penghuni neraka.
 



 

 






Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs pribadi Anda?
Buat Pingbox terbaru Anda sekarang!


Firefox 3: Lebih Cepat, Lebih Aman, Dapat Disesuaikan dan Gratis.



Wajib militer di Indonesia?
Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!

<<inline: stat7413.jpg>>

Kirim email ke