Upaya Pemurtadan di Garut Digagalkan Sabtu, 07 Februari 2009 , 00:11:00 GARUT, (PRLM).-Faktor kemiskinan menjadi penyebab terjeratnya 34 warga dari empat desa di Kec. Kadungora Kab. Garut pada upaya pemurtadan. Seluruh warga yang terpengaruh berpindah agama termasuk kalangan dari keluarga miskin (gakin).
Demikian diungkapkan Camat Kadungora Aang Suhana, ketika ditemui di kantornya Jln. Raya Kadungora, Jumat (6/2). "Mereka yang terpengaruh upaya pemurtadan memang tergolong tidak mampu secara ekonomi sehingga dengan mudahnya berpindah agama dengan diberi iming-iming materi," katanya. Berita "PR" sebelumnya, 34 orang Muslim warga Desa Karangtengah Kec. Kadungora berpindah agama dengan iming-iming imbalan uang. Penyebar upaya pemurtadan tersebut, AS, mengajak warga sekitar dengan dalih mendapat makan gratis dan rekreasi ke Pantai Pangandaran ditambah imbalan sejumlah uang. Menurut Aang, warga yang terpengaruh pemurtadan berasal dari Desa Karangtengah, Gandamekar, Karangmulya, dan Hegarsari. "Dari jumlah warga Kadungora yang mecapai 82.685 orang, lebih dari 40%-nya merupakan warga miskin. Sehingga, mereka mudah terpengaruh jika diberi imbalan materi," ujarnya. Pada Jumat (6/2), sebanyak 26 dari 34 warga yang terpengaruh upaya pemurtadan melakukan ikrar tobat dengan mengucapkan kalimat syahadat sebagai pengakuan kembali memeluk agama Islam. Prosesi pertobatan berjalan penuh haru, sebab seluruh warga menyatakan penyesalannya karena sempat berpindah agama. Mereka juga menandatangi pernyataan tidak akan terpengaruh pemurtadan dan tetap memegang aqidah Islam. Menurut salah seorang warga yang terpengaruh, Udin (40), dirinya merasa tertipu atas upaya pemurtadan yang disebarkan AS. "Awalnya, hanya ajakan rekreasi gratis. Sebagai orang tidak mampu, saya senang aja diajak jalan-jalan gratis. Ternyata, di Pangandaran, ada ritual khusus perpindahan agama dengan cara dimandikan. Terus terang, saya merasa tertipu," katanya. Serupa dengan Udin, Ida Nuraida (28) mengaku mendapat imbalan Rp 50.000,00 setelah mengikuti perjalanan ke Pangandaran. "Saya kira enggak perlu ngapa-ngapain. Ternyata, sepulang dari Pangandaran saya disuruh membuka jilbab," ungkapnya. Orang yang diberi tugas oleh AS untuk menghimpun masyarakat, Daim (40), mengaku menyesal sudah membawa warga ke upaya pemurtadan. "Kalau bisa ngajak orang, AS janji akan membayar biaya sekolah keempat anak saya. Maklum, saya tidak kerja sehingga butuh uang. Saya mengajak 14 orang, sepulang dari Pangandaran hanya dikasih Rp 200.000,00. Asa kaduhung ngajak warga, sebab saya juga enggak tahu kalau harus pindah agama. Tapi, setelah itu saya tetap saja solat ke mesjid," ujarnya. Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kec. Kadungora Nandang Rahmat S.Ag. menyatakan, dari 34 korban pemurtadan, baru 26 orang yang kembali ke aqidah Islam. "Sedangkan sisanya sedang dalam upaya persuasif untuk kembali memeluk Islam. Sedangkan AS sudah keluar dari desa setelah warga mengetahui perilakunya," katanya. (A-158/A-50)*** cite: http://pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=57719

