Isuk, 12 Februari 2009, Mang Darwin Ultah ka 200 taun. Keur 
pangeling-ngeling kana teorina nu tepi ka ayeuna bahan piambekeun 
kaum agamawan, nyanggakeun artikel pangeling-ngelingna tina Kompas 
dinten ieu: 


IPTEK
Mengenang 200 Tahun Charles Darwin

Rabu, 11 Februari 2009 | 02:36 WIB

Oleh NINOK LEKSONO

"Darwin melengkapi Revolusi Copernicus dengan memperkenalkan 
pemahaman alam sebagai sistem materi yang bergerak mengikuti kaidah 
hukum yang bisa dijelaskan oleh nalar manusia tanpa berpaling ke 
lembaga supernatural." (Francisco J Ayala, pakar biologi evolusioner 
University of California, Irvine, 2007)

Esok, Kamis, 12 Februari 2009, dunia memperingati 200 tahun Charles 
Robert Darwin. Sejak akhir tahun lalu, pelbagai penerbitan ilmiah 
menurunkan laporan mengenai ilmuwan Inggris yang telah mengubah cara 
pandang manusia tentang jagat natural ini. Berbagai universitas dan 
badan penelitian juga menyelenggarakan seminar dan pameran untuk 
menghormati tokoh besar ini.

Peletak dasar teori evolusi ini lahir di Shrewsbury, Shropshire, 
Inggris, dari satu keluarga kaya tahun 1809. Kakek dari ayahnya, 
Erasmus Darwin, adalah salah seorang intelektual terkemuka Inggris 
pada abad ke-18. Semula Darwin ingin belajar kedokteran dan masuk ke 
Universitas Edinburgh, tapi kemudian minatnya beralih ke teologi dan 
belajar di Cambridge.

Sosok dan pandangannya pun berubah setelah ia mengikuti ekspedisi 
ilmiah selama 5 tahun dengan kapal HMS Beagle yang meninggalkan 
Inggris tahun 1831. Saat itu, sebagian besar orang Eropa masih 
berpikiran bahwa dunia diciptakan Tuhan dalam tujuh hari.

Sebagaimana dikutip dalam Historic Figures BBC, dalam perjalanan 
Darwin membaca buku Prinsip-prinsip Geologi karya Charles Lyell yang 
menyarankan bahwa fosil yang ditemukan di bebatuan sebenarnya adalah 
binatang yang hidup ribuan, bahkan jutaan, tahun silam. Argumen 
Lyell ini tertanam, bahkan diperkuat, dalam pikiran Darwin melalui 
berbagai kehidupan satwa dan fitur geologi yang ia lihat sepanjang 
perjalanan.

Darwin mendapatkan pencerahan besar setelah mengunjungi Kepulauan 
Galapagos, sekitar 800 kilometer sebelah barat Amerika Selatan. Di 
sana, antara lain, ia mengamati bahwa setiap pulau mendukung 
berkembangnya burung finch (sejenis kutilang) yang khas untuk pulau 
itu. Burung-burung dari berbagai pulau di sana tampak mirip, tapi 
juga berbeda dalam banyak hal.

Teori evolusi

Sekembali ke Inggris tahun 1836, Darwin berusaha memecahkan teka-
teki atas apa yang ia amati, juga yang menyangkut pertanyaan 
bagaimana spesies berevolusi. Dengan berbekal pemikiran Malthus, 
Darwin mengusulkan teori evolusi yang terjadi dengan proses seleksi 
alam. Hewan–atau tumbuhan–yang paling bisa menyesuaikan diri dengan 
lingkungannya paling besar peluangnya untuk bertahan hidup dan 
bereproduksi, sambil meneruskan karakteristik yang membantunya 
bertahan ke keturunannya.

Darwin mengerjakan teorinya itu selama 20 tahun. Di tengah jalan ia 
mendapat informasi bahwa naturalis Inggris lainnya, Alfred Russel 
Wallace, juga sampai pada ide yang sama. Kedua ilmuwan Inggris itu 
pun lalu menggelar pengumuman bersama mengenai penemuan mereka pada 
tahun 1858. Darwin sendiri, pada tahun 1859, menerbitkan 
mahakaryanya yang sangat masyhur, On the Origin of Species by Means 
of Natural Selection (Tentang Asal-usul Spesies Melalui Seleksi 
Alam).

Dari studinya, Darwin menyimpulkan bahwa 1) evolusi terjadi di alam; 
2) perubahan evolusioner terjadi secara perlahan-lahan (gradual) 
dalam tempo ribuan sampai jutaan tahun; 3) mekanisme utama dalam 
terjadinya evolusi adalah satu proses yang disebut seleksi alam; dan 
4) jutaan spesies yang hidup dewasa ini berasal dari satu bentuk 
kehidupan asli tunggal melalui proses pencabangan yang dikenal 
dengan nama spesiasi (speciation) (Lucidcafe Library).

Buku itu di satu sisi demikian masyhur, tapi pada sisi lain juga 
menjadi sangat kontroversial. Ini karena kelanjutan logis Teori 
Darwin adalah bahwa manusia (Homo sapiens) hanyalah wujud lain 
hewan. Melalui teori itu lalu jadi tidak mustahil bahwa manusia 
telah mengalami evolusi–mungkin dari kera–dan dengan itu 
menghancurkan keyakinan yang diajarkan agama tentang asal-usul 
penciptaan. Darwin diserang dengan dahsyat.

Namun, apa yang dicetuskan Darwin tak lama kemudian juga mendapat 
banyak dukungan dan malah kemudian menjadi ortodoksi baru.

Darwin wafat tanggal 19 April 1882 dan dimakamkan di Westminster 
Abbey, London, bersama dengan ilmuwan Inggris terkemuka lain, 
seperti Sir Isaac Newton.

Perkembangan mutakhir

Seiring dengan peringatan dua abad Darwin, diakui bahwa teori 
evolusi sendiri sudah bertahan selama 150 tahun di tengah berbagai 
kritik dan kecaman. Pada sisi lain, wacana tentang evolusi sendiri 
kini telah jauh melebar dan berubah seiring dengan makin luasnya 
campur tangan ilmu genetika. Adapun ilmu biologi evolusi sendiri 
hingga kini masih harus bergulat menjawab pertanyaan yang dulu juga 
sudah menyibukkan Darwin: Jadi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan 
spesies?

Kini, para ahli biologi juga sedang mencari hasil eksperimen yang 
bisa menjelaskan bagaimana seleksi alam berlangsung pada level 
molekuler–dan bagaimana hal itu memengaruhi perkembangan spesies-
spesies baru (Scientific American, 12/2008).

Pada sisi lain, biolog evolusioner seperti Peter Grant dan Rosemary 
Grant dari Universitas Princeton yang mempelajari 20.000 burung 
kutilang di Galapagos menemukan bahwa sekali waktu, evolusi juga 
bisa berlangsung bak letupan, dengan jangka waktu beberapa tahun 
saja, tidak ribuan atau jutaan tahun. Ini bertentangan dengan 
pemahaman Darwin mengenai evolusi yang berlangsung secara lambat. 
Pasangan Grant yang beruntung bisa menyaksikan evolusi "in action" 
juga berhasil menuturkan secara runut waktu (chronicle) apa yang 
diduga merupakan spesies baru yang sedang dalam proses muncul, 
seperti yang tampak dari pengamatan katak Eleutherodactylus dari 
Amerika Tengah dan Selatan serta Karibia.

Diakui bahwa pemikiran awal mengenai evolusi–bahkan ide bahwa hanya 
yang paling tangguh yang akan bertahan–sudah ada sejak zaman kuno, 
lebih awal dari Socrates. Spekulasi mengenai bagaimana kehidupan 
berevolusi juga bermunculan pada abad ke-18. Namun, apa yang 
dicetuskan Darwin-lah yang bisa bertahan dari ujian ilmiah pada abad 
ke-19 dan sesudahnya.

Kini, penyelidik modern yang dilengkapi dengan kamera canggih, 
komputer, dan alat pemeriksa DNA menghasilkan temuan yang tetap 
mendukung karya Darwin. Karya Darwin dipandang tetap memiliki 
relevansi dengan sains dasar dan tujuan praktis–mulai dari 
bioteknologi hingga ilmu forensik–dan karena itu pula hari lahir 
Sang Naturalis besar ini, yang bertepatan dengan 150 tahun kelahiran 
karya agungnya, lalu dirayakan di seluruh dunia.

Teori Darwin dewasa ini menjadi satu pilar dasar sains modern, 
berjajar di samping relativitas dan mekanika kuantum. Seperti halnya 
Copernicus yang menggeser Bumi dari pusat semesta, semesta Darwin 
menggeser manusia sebagai episenter jagat alam. Seleksi alam 
bertanggung jawab atas lahirnya apa yang disebut Ayala "desain tanpa 
desainer", istilah yang mematahkan upaya keras yang kini masih 
dilakukan oleh sejumlah teolog untuk menjatuhkan teori evolusi.


Kirim email ke