parunten ah..ieu aya aoseun perkawis kang darwin tea..diciwit ti majalah
hidayatullah.mangga diaos
----- Forwarded Message ----
From: cakmaswan <haams...@hotmail. de>
To: rumahi...@yahoogrou ps.com
Sent: Wednesday, January 28, 2009 10:25:46 AM
Subject: [rumahilmu] [INFO] Pemalsuan Heboh Bukti Evolusi Jepang [Bagian 1]
Pemalsuan Heboh Bukti Evolusi Jepang
[Bagian 1]
Written by usamah
Penipuan arkeolog Jepang Fujimura Shinichi tentang bukti evolusi terbongkar.
Dituduh melakukan hal serupa, profesor Kagawa Mitsuo pun gantung diri
Hidayatullah. com--Detik-detik menjelang peringatan hari lahir Charles Darwin
yang ke-200 membuat berbagai media massa sibuk memperbincangkan hal-hal seputar
Darwin dan teorinya, Darwinisme. Tak terkecuali koran Inggris, The Sunday Times
(11/1/2009), yang meliput sikap ilmuwan Inggris yang mendukung maupun menolak
Darwinisme dalam tulisan berjudul; "For God's sake, have Charles Darwin's
theories made any difference to our lives?" (Demi Tuhan, sudahkah teori-teori
Charles Darwin membuat hidup kita berbeda?).
Darwindan ateisme
Bagi pendukung Darwinisme, terutama dari kalangan ilmuwan, Darwinisme dianggap
sebagai visi emas ilmu pengetahuan masa kini, kerangka berpijak biologi dan
lambang kedigdayaan ilmu pengetahuan dalam mengungkap cara kerja alam materi.
Lain halnya dengan kalangan ilmuwan yang tidak `menuhankan' Charles Darwin dan
tidak mengabsolutkan teori yang dianggap ilmiah seperti Darwinisme. Bagi
mereka, Darwinisme adalah teori yang dimunculkan di masa ketika sarana
penelitian ilmiah masih sangat terbelakang, dan kini sudah ambruk di hadapan
temuan ilmiah modern.
Salah satunya adalah dokter medis sekaligus penulis, James Le Fanu. Dalam karya
teranyarnya, "Why Us? How Science Rediscovered the Mystery of Ourselves"
(Mengapa Kita? Bagaimana Ilmu Pengetahuan Menemukan Kembali Misteri Diri Kita
Sendiri) ia menegaskan bahwa temuan-temuan baru di bidang biologi telah
merobohkan Darwinisme alias teori evolusinya Darwin mengenai kehidupan.
Darwinisme bukanlah sekedar teori di bidang biologi atau ilmu tentang makhluk
hidup. Tapi Darwinisme adalah cara pandang terhadap makhluk hidup, hidup dan
kehidupan itu sendiri. Menurut Le Fanu, Darwin telah mengubah dunia secara
mendasar. Le Fanu melanjutkan:
"Along with those now fallen idols Marx and Freud, he accounts for the
secularisation of western society. Darwinism is the foundational theory of all
atheistic, scientific and materialist doctrines and of the notion that
everything is ultimately explicable and that there is nothing special about ..."
"Bersama dengan berhala-berhala yang kini telah ambruk itu, yakni [Karl] Marx
dan [Sigmund] Freud, [Darwin] menyebabkan sekulerisasi masyarakat barat.
Darwinisme adalah teori yang melandasi seluruh doktrin-doktrin ateis, ilmiah
dan materialis serta gagasan bahwa setiap sesuatu pada akhirnya dapat
diterangkan dan bahwa tidak ada yang istimewa mengenai hal itu..."
Sebagaimana ditulis Bryan Appleyard dalam koran The Sunday Times tersebut
Charles Darwin sendiri bahkan menyadari bahwa teorinya memiliki dampak besar.
Dari karyanya sendiri, Darwin lalu mulai menarik kesimpulan-kesimpul an yang
semakin meragukan keberadaan Pencipta, kalaulah bukan dianggap ateis sama
sekali. Inilah yang menjadi jurang pemisah antara Charles Darwin dan istri
tercintanya yang taat beragama, Emma.
Pemalsuan Demi 'tuhan' Darwin
Darwinisme bukanlah sekedar teori di bidang biologi, tapi lebih dari itu,
landasan ideologi ateisme dan materialisme. Ini adalah fakta nyata yang tidak
dipungkiri lagi. Tidaklah mengherankan jika para penganutnya di seluruh dunia
berjuang mati-matian mempertahankannya. Sebab jika tidak, maka hal yang sangat
mereka takutkan bakal terjadi: ambruknya seluruh tatanan kehidupan
materialis-ateis global yang telah mereka bangun dengan susah payah selama
ratusan tahun.
Sebagian dari pendukungnya bahkan tidak ragu-ragu membuat penipuan dan
kebohongan demi mempertahankan apa yang mereka anggap sebagai landasan ilmu
pengetahuan yang menurut mereka harus absolut benar ini. Pemalsuan ini ternyata
bukan saja dilakukan di Eropa, benua tempat kelahiran Darwinisme, namun juga di
Asia. Sebut saja di Jepang. Pemalsuan memalukan ini mengulang sejarah
kebohongan evolusionis akbar tanpa jera di Inggris dan di Jerman yang terkenal
di dunia itu: Manusia Piltdown dan Manusia Hahnhöfersand.
Penipuan bukti evolusi manusia di Jepang ini sangatlah menghebohkan dunia ilmu
pengetahuan, terutama masyarakat arkeologi Jepang di awal tahun 2000-an. Berita
itu sedemikian memalukannya sampai-sampai jurnal ilmiah Harvard Asia Quarterly
(Vol. VI, No. 3., 2002) menjulukinya sebagai "Japan's Worst Archaeology
Scandal" (Perbuatan Memalukan Arkeologi Terburuk Jepang).
Dalam skandal ini, pakar arkeologi terkemuka Jepang, Fujimura Shinichi,
tertangkap basah oleh bidikan kamera video ketika sedang memalsukan
temuan-temuan bukti evolusi nenek moyang orang Jepang. Ia kepergok sedang
mengubur benda-benda palsu itu di lubang-lubang yang ia gali sendiri. Rekannya,
Kagawa Mitsuo, dituduh memalsukan pula, tapi bukan hal yang terkait dengan
pemalsuan Fujimura Shinichi. Tuduhan ini membuat Kagawa Mitsuo, profesor
emeritus di Beppu University Jepang, melakukan bunuh diri sebagai protes bahwa
ia tidak bersalah. (bersambung) . [ah/the-Sunday- times/harvard- asia-quaterly/
bbc/www.hidayatullah. com]