Hayu urang dukung ku sararea....

H Surtiwa wrote:
>
> Parantos waktosna yen Urang Indo khususon elmuwan sareng 
> Menetrina..wariania n sareng teger sapertos Bu menteri ieu. Nyaho teus 
> wani....beda jeung Nyaho tapi teu wani..atawaq Wani wungkul bari teu 
> nyaho..bisana suudzon angpa analisa..jeung insight anu ditarik tina 
> pangalaman..
>
> On 3/5/09, *Djodi Ismanto* <adindagolid@ yahoo.com 
> <mailto:[email protected]>> wrote:
>
>
>
>     --- On *Wed, 3/4/09, Susanto /<susa...@lautan- luas.com
>     <mailto:[email protected]>>/* wrote:
>
>         From: Susanto <susa...@lautan- luas.com
>         <mailto:[email protected]>>
>         Subject:
>         To:
>         Date: Wednesday, March 4, 2009, 6:38 PM
>
>         Flu Burung Ternyata Rekayasa Senjata Biologi AS & WHO
>
>         Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World
>         Health Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS).
>
>         Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan
>         dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu
>         burung, Avian influenza (H5N1).
>
>         Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia,
>         perusahaan-perusaha an dari negara maju memproduksi vaksin
>         lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara
>         berkembang, termasuk Indonesia .
>
>         Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia
>         Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung.
>
>         Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan
>         buku yang sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It's
>         Time for the World to Change.
>
>         Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakuakn negara adikuasa
>         dengan cara mencari kesempatan dalam kesempitan pada
>         penyebaran virus flu burung.
>
>         "Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu
>         burung dengan menjual vaksin ke negara kita," ujar Fadilah
>         kepada Persda Network di Jakarta , Kamis (21/2).
>
>         Situs berita Australia , The Age, mengutip buku Fadilah dengan
>         mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan
>         senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu
>         burung dengan memproduksi senjata biologi.
>
>         Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai
>         protes dari petinggi WHO.
>
>         "Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo
>         mawon. Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja
>         dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan.
>         Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat Freeport ,
>         dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya," ujarnya.
>
>         Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak
>         masing-masing 1.000eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia
>         maupun bahasa Inggris. Total sebanyak 2.000 buku.
>
>         "Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu dekat saya akan
>         mencetak cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan
>         pertama dicetak penerbitan kecil, tapi untuk rencana ini, saya
>         sedang mencari bicarakan dengan penerbitan besar," katanya.
>
>         Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6
>         November 1950, mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua.
>         "Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya
>         beberkan semua bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya
>         mengirimkan 58 virus, tetapi saya dikirimkan virus yang sudah
>         berubah dalam bentuk kelontongan. Virus yang saya kirimkan
>         dari Indonesia diubah-ubah Pemerintahan George Bush," ujar
>         menteri kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini.
>
>         Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo
>         Bambang Yudhoyonoyang memintanya menarik buku dari peredaran.
>
>         "Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia , sebagian,
>         sekitar 500 buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi
>         dijual ditoko buku. Yang bahasa Inggris dijual," katanya
>         sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku dari
>         peredaran.
>
>         Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer
>         berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia
>         menarik buku setebal 182 halaman itu.
>
>         *Mengubah Kebijakan*
>
>         Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin
>         sejarah dunia.
>
>         Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu
>         burung, AS dan WHO sampai-sampai mengubah kebijakan
>         fundamentalnya yang sudah dipakai selama 50 tahun.
>
>         Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai
>         terjadi di Indonesia pada 2005.
>
>         Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh
>         pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari
>         dampak flu burung.
>
>         "Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang
>         terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini
>         dalam menanggulangi encaman virus flu burung, yaitu
>         transparansi, " tulis The Economist.
>
>         The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika,
>         edisi pekan lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat
>         Indonesia juga terkena endemik flu burung 2005 silam.
>
>         Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat
>         tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena
>         kasus flu burung.
>
>         Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan
>         penentuan diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO
>         CC) di Hongkong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel
>         spesimen.
>
>         Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta
>         laboratorium litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya
>         ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke
>         Hongkong?
>
>         Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu
>         burung di Vietnam . Sampel virus orang Vietnam yang telah
>         meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan
>         risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus.
>
>         Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia
>         menemukan fakta, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusaha
>         an besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu
>         burung.
>
>         Mereka mengambilnya dari Vietnam , negara korban, kemudian
>         menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi.
>         Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan
>         martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih
>         Global Influenza Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini
>         sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun.
>         Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk
>         mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak.
>
>         Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya
>         menjadi vaksin.
>
>         Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta
>         bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA
>         H5N1 yang disimpan WHO CC.
>
>         Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty
>         di New Mexico , AS.
>
>         Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO,
>         selebihnya tak diketahui.
>
>         Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS.
>
>         Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima . Lalu untuk
>         apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia?
>
>         Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data
>         itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya
>         dikuasai kelompok tertentu.
>
>         Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO
>         mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal
>         mendobrak ketertutupan Los Alamos , memujinya.
>
>         Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi
>         bagi transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus
>         mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia ,
>         yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga
>         penelitian senjata biologi Pentagon.
>
>         Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta
>         pertukaran virus yang adil,
>         transparan, dan setara.
>
>         Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim
>         spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu
>         mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia.
>
>         Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO
>         dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam
>         sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007,
>         International Government Meeting (IGM) WHO di akhirnya
>         menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus
>         disetujui dan GISN dihapuskan./Sumber : Ini Bukunya Menkes
>         Fadilah Bikin Gerah AS-WHO/
>
>          
>
>
>
> 

Kirim email ke