gunung padang di tatar sunda, nu geus kapanggih, aya tilu tempat. gunung padang 
cianjur nu loba batu megalitikum cenah situs megalitikum panglegana saasia 
tenggara (asana cek T Bahtiar).

dihandap tulisan ti
http://kumincir.blogspot.com/2005/01/situs-gunung-padang.html

Situs Gunung Padang di Kampung Gunung Padang dan Kampung Panggulan, Desa 
Karyamukti Kecamatan Campaka, Cianjur, merupakan situs megalitik berbentuk 
punden berundak yang terbesar di Asia Tenggara. Ini mengingat luas bangunan 
purbakalanya sekitar 900 m2 dengan luas areal situs sendiri kurang lebih 
sekitar 3 ha. 


Keberadaan situs ini peratama kali muncul dalam laporan Rapporten van de 
oudheid-kundigen Dienst (ROD), tahun 1914, selanjutnya dilaporkan NJ Krom tahun 
1949. pada tahun 1979 aparat terkait dalam hal pembinaan dan penelitian bend 
cagar budaya yaitu penilik kebudayaan setempat disusul oleh ditlinbinjarah dan 
Pulit Arkenas melakukan peninjauan ke lokasi situs. Sejak saat itu upaya 
penelitian terhadap situs Gunung Padang mulai dilakukan baik dari sudut 
arkeologis, historis, geologis dan lainnya. 

Bentuk bangunan punden berundaknya mencerminkan tradisi megalitik (mega berarti 
besar dan lithos artinya batu) seperti banyak dijumpai di beberapa daerah di 
Jawa Barat. Situs Gunung Padang yang terletak 50 kilometer dari Cianjur konon 
merupakan situs megalitik paling besar di Asia Tenggara. Di kalangan masyarakat 
setempat, situs tersebut dipercaya sebagai bukti upaya Prabu Siliwangi 
membangun istana dalam semalam. 

Dibantu oleh pasukannya, ia berusaha mengumpulkan balok-balok batu yang hanya 
terdapat di daerah itu. Namun, malam rupanya lebih cepat berlalu. Di ufuk timur 
semburat fajar telah menggagalkan usaha kerasnya, maka derah itu kemudian ia 
tinggalkan. Batu-batunya ia biarkan berserakan di atas bukit yang kini 
dinamakan Gunung Padang. Padang artinya terang. 

Punden berundak Gunung Padang, dibangun dengan batuan vulkanik masif yang 
berbentuk persegi panjang. 
Bangunannya terdiri dari lima teras dengan ukuran berbeda-beda. Batu-batu itu 
sama sekali belum mengalami sentuhan tangan manusia dalam arti, belum 
dikerjakan atau dibentuk oleh tangan manusia. 
Balok-balok batu yang jumlahya sangat banyak itu tersebar hampir menutupi 
bagian puncak Gunung Padang. Penduduk setempat menjuluki beberapa batu yang 
terletak di teras-teras itu dengan nama-nama berbau Islam. Misalnya ada yang 
disebut meja Kiai Giling Pangancingan, Kursi Eyang Bonang, Jojodog atau tempat 
duduk Eyang Swasana, sandaran batu Syeh Suhaedin alias Syeh Abdul Rusman, 
tangga Eyang Syeh Marzuki, dan batu Syeh Abdul Fukor.

-----


 nu kadua gunung padang di ciwidey, si kuring kungsi ka dinya milu stephanus 
djunatan, dosen filsafat unpar nu keur s3, gambarna aya di 
mangjamal.multiply.com

nu katilu, gunung padang di ciamis. ku sabab aya tiluna, jadi aya tilu atau dua 
versi soal tempat tapa permana dikusumah, bapana ciung wanara tea. urang ciamis 
tangtu nunjuk ka gunung padang di kalereun cikoneng, poho deui ngaran desana, 
keur SD kungsi ka dinya.



Kirim email ke