Ti milis tatanggi, punten teu di sundakeun.

Endang Suryadinata, peminat sejarah Indonesia-Belanda, alumnus Erasmus 
Universiteit Rotterdam

Publik kita hari-hari ini tengah menikmati kontroversi yang mencuat dari buku 
baru Letjen (Purn.) Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para 
Komando. Buku itu membuat suhu politik negeri ini kian panas menjelang Pemilu 
2009.Seperti diketahui, dalam otobiografinya itu Sintong banyak membeberkan 
beberapa kasus pelanggaran hak asasi manusia di masa silam, seperti kasus Santa 
Cruz di Dili, Timor Timur, penculikan aktivis pada 1997- 1998, dan tragedi Mei, 
yang semuanya melibatkan TNI sebagai institusi.Tentang kasus penghilangan 
paksa, misalnya, buku Sintong mengungkapkan posisi mantan Komandan Jenderal 
Kopassus Letjen (Purn.) Prabowo Subianto dan keterlibatan Tim Mawar. Respons 
pun bermunculan. Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerakan Indonesia Raya yakin bahwa 
sejumlah pihak bertujuan melancarkan kampanye negatif atas calon presiden 
usungan Partai Gerakan Indonesia Raya, Prabowo Subianto. Sebaliknya, meski 
belum membaca buku setebal 520 halaman itu, Presiden SBY langsung memberikan 
apresiasi. Menurut SBY, pasti Sintong punya data akurat, apalagi Sintong 
termasuk saksi sejarah atas sebagian besar peristiwa masa silam yang telah 
ditulisnya (Jawa Pos, 16 Maret 2009).Lepas dari keuntungan politik yang entah 
menguntungkan siapa, dari polemik buku Sintong kita sebenarnya bisa membaca 
bahwa masih banyak peristiwa masa lalu, seperti tragedi Mei 1998, yang ternyata 
belum kita tuntaskan dalam bentuk rekonsiliasi yang final seperti telah 
dilakukan Afrika Selatan. Kita terus membiarkan persoalan pelanggaran hak asasi 
masa lalu menggantung dalam dendam tanpa penuntasan. Yang memprihatinkan, di 
balik dendam dan derita yang dialami para korban pelanggaran HAM, justru ada 
politikus yang bisa mengeruk keuntungan politik demi popularitas dirinya. 
Buntutnya, di pucuk pimpinan atau elite pemimpin bangsa, dendam juga kian 
menyebar.Ironisnya, banyak orang langsung lebih berfokus pada Prabowo sebagai 
korban buku Sintong, bukan memikirkan derita para korban pelanggaran masa 
silam, seperti tragedi Mei 1998, yang disebutkan dalam buku Sintong. Tak 
mengherankan, dendam kian memecah-belah manusia-manusia di negeri ini, dari 
tampuk pemimpin tertinggi negeri ini hingga rakyat jelata. Generasi baru yang 
tak tahu apa-apa tentang peristiwa masa lalu, seperti 1965 atau 1998, kini 
ikut-ikutan mewarisi dan mencoba melestarikan dendam, apalagi bila mereka 
menjadi pendukung partai politik yang berbeda.Untuk itulah negeri ini butuh 
kekuatan besar untuk menyelesaikan segala dendam kesumat dari masa silam. 
Seharusnya generasi saat ini tidak bisa dipecah-belah lagi. Kita semua 
seharusnya menjadi kekuatan yang menjadi inspirasi untuk mengakhiri segala 
bentuk dendam lewat rekonsiliasi. Kalau kita membuka kembali sastra-sastra 
klasik warisan para leluhur kita, sebenarnya tak ada yang mengajarkan dendam. 
Dalam kitab Wanaparwa, yang pertama kali penulis baca di perpustakaan KITLV 
(Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) , yang merupakan pusat 
dokumentasi terbesar di dunia (www.kitlv.knaw. nl), ada sebuah dialog menarik 
antara Drupadi, istri Yudhistira, dan sang suami, setelah Pandawa kalah judi 
oleh Kurawa dan harus dibuang di hutan selama 12 tahun. Merasa jengkel dengan 
kelicikan dan kecurangan para Kurawa, Drupadi memprovokasi Yudhistira: "Tuanku 
seorang kesatria atau bukan? Apakah kesatria harus memaafkan musuh?"Anehnya, 
Yudhistira memberi jawaban amat menyentuh, yang layak untuk kita refleksikan: 
"Kebencian adalah kesia-siaan. Apa jadinya kalau hinaan dibalas hinaan dan 
kebencian dengan kebencian. Memaafkan adalah pengorbanan. Memaafkan adalah 
adat-istiadat kita. Memaafkan adalah kebenaran dan penebusan dosa. Jangan 
membujukku untuk tidak memaafkan. Karena memaafkan adalah kebijakan orang arif 
dan wujud nyata dari kemenangan atas kebencian."Berbagai karut-marut bangsa ini 
sebenarnya bisa dicari akarnya pada dendam yang masih kuat bercokol dalam hati, 
dari level elite hingga rakyat jelata. Membebaskan bangsa ini dari dendam masa 
silam adalah tugas yang mendesak untuk kita selesaikan. Jadi kita seharusnya 
bisa menjadi kekuatan untuk pembebasan, termasuk pembebasan dari dendam. Dengan 
demikian, kita akan bisa melihat masyarakat yang mau belajar saling memaafkan. 
Nelson Mandela, sosok sukses yang bisa mengakhiri dendam di negaranya (Afrika 
Selatan), sering menyampaikan pesan agar siapa pun mau menjadi kekuatan 
penyembuh bagi masyarakat yang terluka akibat dendam masa silam.Seperti kita 
tahu, Mandela adalah korban kebiadaban sistem apartheid, tetapi dia akhirnya 
dikenal sebagai sosok pemenang karena berani mengasihi dan mengampuni rezim 
yang pernah menindasnya. Bayangkan, dia sudah dipenjara selama 27 tahun dari 
1963 sampai 1990. Dalam bukunya, Long Walk to Freedom, Mandela menulis: "Aku 
ingin Afrika Selatan melihat bahwa aku mencintai musuh-musuhku, sementara aku 
membenci sistem yang menyebabkan kita bermusuhan." Dengan spirit kasih seperti 
itu, Mandela berhasil mewujudkan cita-cita rekonsiliasi di negerinya, Afrika 
Selatan. Betapa indahnya jika di negeri yang memproduksi batik yang digemari 
Mandela ini juga akan banyak sosok yang mau memakai spirit Mandela untuk berani 
mengampuni.Akhirnya, kalau kita tidak berani memaafkan dan menghapus dendam, 
Tocqueville (1805-1859) sudah memberi peringatan. Dalam bukunya Democracy in 
America, dia mengingatkan: "Karena masa lalu gagal menerangi masa depan, 
manusia mengelana di tengah kabut." Buku Sintong seharusnya bukan menerbitkan 
dendam baru, melainkan menjadi momentum bagi penegakan HAM sekaligus momentum 
mewujudkan rekonsiliasi. *    
Powered by Telkomsel BlackBerry®

------------------------------------

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke