Punten teu di Sundakeun, hapunten kanu parantos uninga. Ieu mah tamba kesel wae daripada maca buku kandel satilu-tilu. ....................................
Kami tahu kami adalah Kantin Sastra, bukan Kantin Sejarah. Tapi karena perbandingan tiga Perang Bubat ini ditulis dalam fiksi sejarah, maka kami akan mengulasnya di sini. Orang Sunda dan orang Jawa harusnya tahu apa itu Perang Bubat. Perang antara pasukan Sunda dengan pasukan Majapahit di Pesanggrahan Bubat, karena kesalahpahaman. Garis bawahi ini, kesalahpahaman. Pasukan Sunda datang ke Majapahit dengan membawa Putri Dyah Pitaloka untuk menikah dengan Sang Rajasanegara Hayam Wuruk. Kemudian, di Bubat terjadi kesalahpahaman. Agar tidak bingung, akan kami jelaskan latar belakang perjodohan Pitaloka dan Hayam Wuruk. Dengan Sumpah Palapa-nya, Gajah Mada berambisi mempersatukan seluruh Nusantara. Dan kala itu, hampir semuanya sudah bersatu di bawah bendera Majapahit, kecuali negeri Sunda di Jawa Barat. Pernikahan antara Hayam Wuruk dan Pitaloka dianggap sebagai jalan tengah untuk menyelesaikan masalah ini. Sunda, tentu saja, tidak mau takluk menjadi negeri bawahan Majapahit. Majapahit pun--dalam hal ini, Hayam Wuruk--menghormati Sunda. Tetapi... Mari kita mulai masuk ke perbandingan tiga Perang Bubat. (Caution: Containing spoiler) Versi Pertama adalah versi Langit Kresna Hariadi dalam bukunya Gajah Mada#4: Perang Bubat. Di sini, Hayam Wuruk sudah jatuh cinta kepada Pitaloka gara2 lukisan Pitaloka yang dilukis oleh seorang seniman. Tentu saja Hayam Wuruk ingin menikahi Pitaloka sebagai putri dari negara seberang yang kedudukannya sederajat dengan Majapahit. Gajah Mada sendiri, walaupun tahu bahwa dengan hal ini maka Sumpah Palapa-nya tidak akan berjalan mulus, tetap lebih menghormati rajanya. Akhirnya dia membiarkan Pitaloka dan rombongan Sunda datang ke Majapahit sebagai putri dari negeri sederajat, bukan sebagai putri persembahan. Tapi, rupanya ada orang-orang yang memanfaatkan hal ini. Mereka tidak menyukai Gajah Mada, lalu akhirnya membuat ulah. Dalam buku ini, dikisahkan bahwa yang menyerang rombongan Sunda adalah Ma Panji Elam dan antek-anteknya, pura-pura atas nama Gajah Mada. Karena itulah, akhirnya Gajah Mada dikambinghitamkan. Jadi, dalam buku ini, Gajah Mada adalah kambing hitam dari orang-orang yang tidak senang padanya. Gajah Mada sendiri sebenarnya tak tahu apa2 tentang penyerangan ke Bubat. Versi Kedua adalah dalam buku Dyah Pitaloka: Senja di Langit Majapahit karya Hermawan Aksan. Karena buku ini lebih mengupas sudut pandang Sunda, maka Gajah Mada memang dikisahkan bersalah di sini, sebab dialah yang memang menyuruh penyerangan ke Bubat. Kami rasa tidak banyak yang perlu diceritakan di sini, karena sudah jelas. Versi Ketiga adalah Perang Bubat karya Aan Merdeka Permana. Versi yang ini lumayan mirip dengan versi Langit Kresna Hariadi, tetapi yang menarik di sini adalah bahwa dulunya Gajah Mada dan Pitaloka mempunyai benih-benih asmara. Inilah hal yang membuat berbeda. Pada dua versi sebelumnya, memang Pitaloka memiliki kekasih hati, masing-masing berbeda. Tetapi di sini, kekasih hati tersebut adalah Gajah Mada. Dalam versi ini, Gajah Mada dikisahkan dulunya adalah orang Banten keturunan China yang pernah hendak mengabdi di Kerajaan Sunda. Tetapi kemudian dia diusir secara halus karena dianggap lancang memiliki perasaan terhadap Putri Mahkota Dyah Pitaloka. Lalu akhirnya Gajah Mada mengabdi ke Majapahit. Peristiwa Perang Bubat di sini hampir sama dengan versi pertama, yaitu ada orang yang mengambinghitamkan Gajah Mada (di sini bernama Patih Purwodi), padahal Gajah Mada tidak tahu apa2 tentang penyerangan ke Bubat. Ada satu hal lagi yang membedakan versi ketiga ini dengan versi sebelumnya, yaitu nasib Dyah Pitaloka. Jika di dua versi sebelumnya Pitaloka bunuh diri, di sini tidak. Dia menghilang, tanpa jelas nasibnya. Dari tiga versi ini, entah mana yang benar sebenar-benarnya. Kami di sini bukan pakar sejarah, di sini kami membahas fiksi sejarah di antara tiga buku tersebut. Lihat, betapa sejarah bila difiksikan bisa membuat banyak kisah berbeda. Yang sama di antara ketiga versi itu adalah kesalahpahaman yang menyebabkan terjadinya Perang Bubat. Tadinya, tidak ada niat sama sekali untuk berperang antara Sunda dan Majapahit. Tapi karena ada kesalahpahaman, terjadilah perang yang tragis itu. Kesalahpahaman di tiga versi ini sama: Majapahit menganggap Pitaloka sebagai putri upeti, sedangkan Sunda membela harga diri mereka sebagai negeri yang sejajar dengan Majapahit karena Sunda tidak pernah mengaku menjadi negara bawahan Majapahit. Semuanya dimulai dengan ejekan sepele yang berakhir dengan salah satu perang paling tragis dalam catatan sejarah Indonesia. Fiksi sejarah menarik untuk dinikmati, dan walaupun detail-detail sejarah di sana bisa dipakai sebagai informasi, tapi sebaiknya tidak terlalu menjadi referensi. Karena, dalam menulis sebuah sejarah menjadi fiksi, pengarang pastilah sudah memasukkan unsur-unsur subjektivitas serta original character & plot untuk menjadikannya sastra. Sebenarnya ada satu versi Perang Bubat lagi yang mungkin bisa ditambahkan, yaitu karya Tasaro dalam bukunya trilogi Pitaloka. Sayangnya, baru buku pertama saja (Pitaloka: Cahaya) yang sudah terbit, sedangkan dua buku lain (Pitaloka: Mahkota dan Pitaloka: Nirwana) belum terbit-terbit juga. Padahal, seharusnya di Pitaloka: Nirwana itulah Perang Bubat diceritakan. Kalau kita mau membahas perbedaan karakter antara tokoh2 sejarah menurut para penulis fiksi sejarah tersebut, pasti juga akan sama menariknya. Karena karakter tokoh Gajah Mada, Pitaloka, Hayam Wuruk, dll juga ditulis berbeda-beda oleh masing2 pengarang. Tapi karena post ini kami khususkan kepada perbandingan Perang Bubat, jadi mungkin sampai di sini saja. Sejarah memang akan lebih menarik untuk dibaca jika ditulis secara fiksi, tetapi jangan menjadikannya referensi. (A/N: Maaf kalau ada yang salah2 dalam post ini, sebab saya membaca Gajah Mada#4 dan Dyah Pitaloka: Senja di Langit Majapahit sudah lama. Kalau yang versi ketiga, saya cukup yakin karena bacanya baru selesai kemarin.) tina: http://shokodouofsastra.multiply.com/journal/item/31/Perbandingan_Tiga_Perang_Bubat

