Ralat: Jacok ==> Jakob
2009/4/3 mh <[email protected]>: > Pasar Tradisi > Pada Mulanya bukan Sekadar Pasar > > KERAMAIAN itu tercipta dini hari dan, segera saja, menimbulkan > kemacetan di Desa Rancapanggung, Kec. Cililin, Kab. Bandung Barat. > Jalan yang tak begitu besar penuh sesak oleh orang dan kendaraan. > Anehnya, sama sekali tak ada sumpah serapah di sana. Semua orang > begitu enjoy, sama sekali tak terganggu. Menjelang siang, keramaian > terurai berubah lengang. > > Ya, begitulah suasana Rancapanggung setiap Rabu, setiap hari pasar. Di > luar itu, suasana desa begitu sepi karena keramaian bersimpul di lain > tempat. > > Sejak dulu, masyarakat di (eks) Kewedanaan Cililin memberlakukan pasar > yang setiap hari berpindah, dari lokasi satu ke lokasi yang lain. > Uniknya, keadaan itu berlangsung sampai kini. "Memang sih ada beberapa > pasar yang kemudian dibuat tiap hari. Contohnya, Pasar Batujajar, dulu > kan cuma buka pada hari Jumat dan Senin. Lalu, Pasar Tagog Padalarang, > dulu cuma hari Sabtu. Sekarang, kedua pasar itu sudah dibuka setiap > hari," ungkap pengamat pasar di Kab. Bandung Barat Deden Saeful Anwar > (32). > > Sesungguhnya, beberapa wilayah lain di Provinsi Jawa Barat, dulu, juga > memberlakukan itu. Tetapi, banyak lokasi di wilayah lain itu justru > sudah menjadi kawasan. Pasar Jumat di Purwakarta, misalnya, kini telah > menjadi pusat kota. > > DKI Jakarta pun sebenarnya sempat memberlakukan pasar bergiliran > seperti itu. Tetapi, kini, kawasan-kawasan pasar itu sudah tinggal > nama, seperti Pasar Minggu, Pasar Senen, dan seterusnya. > > Tak hanya Pulau Jawa, pasar bergiliran juga terdapat di sejumlah > daerah di Sumatra. Nanggroe Aceh Darussalam, misalnya, memiliki pasar > bergilir yang diistilahkan sebagai uroe gantoe. Lalu, masyarakat di > pedalaman Sumatra Selatan menamakan pasar jenis ini sebagai kalangan. > > ** > > LANTAS, dari mana semua itu bermula? Budayawan Jakob Sumardjo > mengungkapkan, pasar bergilir itu, sebenarnya, berasal Jawa (Tengah). > Masyarakat Jawa --yang berkebudayaan sawah-- sangat membutuhkan pasar. > Sebab, mereka memproduksi sejumlah komoditas dalam jumlah besar > sehingga perlu dijual ke luar kampung. "Sebaliknya, orang Sunda --yang > berkebudayaan ladang-- tidak mengenal pasar. Soalnya, mereka sudah > bisa memenuhi kebutuhan sendiri, melalui leuit," ungkap budayawan > Jakob Sumardjo, Jumat (27/3). > > Dalam hal ini, kata dia, masyarakat Jawa menggunakan macapat kalima > pancer, konsep yang berlaku di seluruh aspek kehidupan mereka. "Jadi, > tidak hanya pasar, dalam membangun rumah atau pendopo pun, misalnya, > mereka menggunakan konsep itu. "Harus terdiri atas empat tiang. Tiang > kelima, yang seharusnya berada di tengah-tengah, ditiadakan. Itu > sengaja dibuat demikian. Sebab, anggapan orang Jawa, pusat merupakan > puncak dari segala-galanya. Tetapi, simbolnya terlihat dari puncak > rumah atau pendopo yang lebih tinggi daripada bagian atap yang lain," > katanya. > > Karena menggunakan konsep itu, tak heran jika kegiatan pasar > diselenggarakan di lima kampung berbeda, setiap harinya, sesuai hari > pasaran. Pasar Kliwon digelar di kampung pusat, Pon (kampung di > utara), Legi ( kampung di selatan), Wage (kampung di timur), dan > Pahing (kampung di barat). "Konsep pasar berpindah ini, sebenarnya, > bertujuan untuk pemerataan saja. Ya, agar setiap kampung di wilayah > itu mendapat giliran," katanya. > > Pakar Ekonomi Universitas Padjadjaran Ina Primiana menilai, dari sudut > ilmu ekonomi, sebenarnya pasar bergilir itu tak ada bedanya dengan > pasar menetap. Artinya, jumlah uang yang dikeluarkan oleh pembeli > (juga yang akan diperoleh penjual) sama saja. "Namun, biasanya, hari > pasar itu ditunggu-tunggu oleh masyarakat setempat. Selain itu, kalau > di luar negeri, komoditas yang dijual memiliki ciri khas tertentu. > Jadi, ada kreativitas di sana. Orang (yang bermaksud berdagang) akan > berlomba-lomba membuat sesuatu yang bisa habis, nanti, pas hari pasar. > Dia memiliki banyak waktu sehingga kualitas bisa terjamin," ujarnya. > > Itulah pula yang berlaku pada pasar bergilir dalam konsep Jawa. Setiap > pasar memiliki keunikan tersendiri. Apalagi, setiap hari pasaran > mewakili warna tertentu. Pon mewakili warna hitam, Legi (merah), Wage > (putih), dan Pahing (kuning). Sementara Kliwon, sebagai pusat, > mewakili semua warna. "Makanya, buah-buahan berwarna hitam, seperti > manggis, hanya boleh dijual di Pasar Pon. Kalau rambutan hanya boleh > dijual di Pasar Legi. Demikian seterusnya. Nah, sementara Pasar Kliwon > bisa menampung seluruh komoditas," katanya. > > ** > > KONSEP macapat kalima pancer itu kemudian ditularkan --salah satunya-- > ke masyarakat Sunda. Padahal, sebelumnya, orang Sunda sudah mengenal > konsep tritangtu. Dalam hal ini, masyarakat Sunda "hanya" mengenal > tiga kampung: kabuyutan (berada paling dalam), nagara (tengah), dan > syara (berada di luar). Masyarakat ketiga kampung ini saling > berhubungan. "Itu tadi, mereka tak mengenal pasar seperti di Jawa. > Kendati demikian, ada juga subkomunitas yang aktif berhubungan dengan > orang luar, termasuk jual beli. Ya, itu... orang kampung syara. > Masyarakat kampung kabuyutan dan nagara ’membeli’ barang-barang dari > masyarakat kampung syara," katanya. > > ** > > SEIRING perkembangan zaman, konsep pasar itu sekarang tinggal > kenangan. Padahal, banyak sekali manfaat yang bisa diambil dari > keberadaan konsep pasar semacam itu. "Salah satunya menyambungkan > silaturahmi," ujar H. Abdurrahman (48), tokoh masyarakat Desa > Rancapanggung, "Nya indung budak we ieu mah. Pas ameng ka pasar anu > rada tebih, tiasa papendak sareng dulurna. Padahal, eta teh tos > mangtaun-taun teu papendak. Ah, tos carang nganjang we lah". > > Satu hal lagi, pasar bergilir kerap menjadi pusat informasi buat > warga. Informasi penting bisa dengan segera tersebar dari mulut ke > mulut. "Ini tentu memudahkan aparat jika, misalnya, ada kebijakan yang > harus diinformasikan kepada warganya. Begitu pula kalau ada informasi > warga yang meninggal dunia dan sebagainya. Jadi, dulu, pasar itu tak > sekadar pasar," katanya. (Hazmirullah/"PR")*** > > cite: > http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=67673 >

