> aya warta pemilu ti Gatra dinten ieu...
> 
> Pemilu `99 Lebih Curang
> 
> Jakarta, 16 April 2009 06:32
> Mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk pemilihan umum (pemilu) 
> 1999, Edwin Henawan Soekowati, mengungkapkan, tak tepat menganggap pemilu 9 
> April 2009 merupakan pemilu terburuk karena pemilu 1999 justru lebih buruk, 
> tetapi tidak banyak diungkap mengingat saat itu semua orang termasuk elite 
> politik terbuai euforia reformasi.
> 
> "Persoalan Daftar Pemilih Tetap (DPT) pemilu 1999 lebih buruk, bahkan saya 
> dan kawan-kawan anggota KPU (waktu itu) tidak bisa mengakses data pemilih. 
> Data pemilih setiap dapil (daerah pemilihan) juga tidak bisa diketahui," kata 
> Edwin, di Jakarta, Rabu (15/4).
> 
> Edwin mengatakan hal tersebut terkait penilaian sejumlah tokoh, pemilu 2009 
> merupakan pemilu terburuk. Tokoh-tokoh dari partai yang merasa dirugikan 
> karena persoalan DPT sedang menggalang koalisi.
> 
> Menurut Edwin, pihaknya menyampaikan penghargaan kepada elite-elite parpol 
> yang sedang menggalang kekuatan untuk mempersoalkan DPT. "Namun patut 
> disesalkan reaksi seperti itu justru disampaikan Megawati dan Gus Dur. 
> Mengapa beliau berdua tak bereaksi terkait kecurangan pada pemilu 1999," 
> katanya.
> 
> Ratusan kecurangan dan pelangaran terjadi pemilu 1999, dan tidak ada proses. 
> "Datanya masih ada, jumahnya ratusan," kata Edwin, anggota KPU untuk pemilu 
> 1999 dari Partai Nasional Demokrat.
> 
> Pemilu 1999 bukan hanya diwarnai kejanggalan DPT, tetapi keabsahan pemilu itu 
> juga tidak sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 4 Tahun 1999 Tentang Pemilu. Kala 
> itu, anggota KPU sebanyak 53 orang terdiri atas 48 pimpinan partai politik 
> dan lima orang mewakili pemerintah.
> 
> Wakil pemerintah, antara lain Rudini yang kemudian menjadi Ketua KPU dan 
> Adnan Buyung Nasution. Berdasarkan UU Tentang Pemilu, hasil pemilu ditetapkan 
> melalui berita acara yang ditandatangani minimal 2/3 anggota KPU. Artinya, 
> hasil pemilu harus ditandatangani minimal 35 anggota KPU.
> 
> Ternyata hasil pemilu hanya ditandatangani 20-an anggota KPU. "Yang lain 
> tidak tanda tangan hasil pemilu karena temuan kecurangan yang jumlahnya 
> ratusan itu tidak ditindaklanjuti," katanya.
> 
> Dengan tidak ditandatangani 2/3 anggota KPU sesuai ketentuan dalam UU Tentang 
> Pemilu, sebenarnya pemilu 1999 tidak sah karena tidak ditandatangani 2/3 
> anggota KPU, walaupun kemudian ditandatangani presiden BJ Habibie. "Tetapi 
> Gus Dur dan PDIP sebagai pemenang pemilu tidak bereaksi apa-apa. Jadi, aneh 
> kalau sekarang Gus Dur dan Megawati berteriak keras. Mengapa mereka dulu 
> diam?" tanyanya.
> 
> Edwin mengatakan, tidak fair jika PDI Perjuangan saat ini bereaksi, padahal 
> pada pemilu 1999 juga banyak terjadi kecurangan. "Sebagai pemenang, dulu PDIP 
> tidak bereaksi terhadap kecurangan yang terjadi," katanya.
> 
> Terkait reaksi sejumlah tokoh terkait pemilu 2009, Edwin mengemukakan, sikap 
> itu sebagai reaksi atas kekaahan. "Mereka teriak-teriak karena kalah. Dulu 
> menikmati kemenangan tidak bereaksi terhadap kecurangan," katanya.
> 
> Reaksi itu, lanjutnya, juga mencerminkan sikap tidak mau kalah. "Kalau tidak 
> puas atau menganggap pemilu ini curang, ajukan saja ke pengadilan," katanya.
> 
> Persoalan DPT yang diributkan sejumlah elite parpol, menurut Edwin, juga 
> karena DPR yang menghilangkan peran Panitia Pedaftaran Pemilih dalam UU 
> Tentang Pemilu. "DPR yang menyusun UU tentang Pemilu seperti ini. Begitu 
> kalah, langsung teriak," katanya.
> 
> Sebaiknya, pihak yang mengalami kekalahan menerima kekalahan. "Yang kalah, ya 
> sudah terima saja kekalahan. Maju lagi lima tahun mendatang," katanya.
> 
> Edwin juga menyatakan, para elite politik yang mengalami kekalahan pada 
> pemilu 2009 masih berpeluang untuk maju lagi pada pemilu 2014. "Di India, 
> pemimpinnya sudah berusia 70 tahun. Jadi masih ada peluang di pemilu 
> mendatang. Nggak masalah maju lagi," katanya. [EL, Ant] 
> 

Kirim email ke