ti facebook hawe setiawan http://m.facebook.com/note.php?r657322ee¬e_id=70003226740&refid=21 dimuat di jakartabeat.net Sketsa Kanekes Oleh Hawe Setiawan Penunggang kuda dalam puisi lama, yang menembus "malam bersalju", hanya berhenti sejenak di tepi hutan. Ia memang terpikat oleh hutan yang lebat dan pekat, tapi jarak yang harus ia tempuh masih cukup jauh. Hutan tinggal pesona di tepi jalan, seperti lambaian yang dibalas keraguan. Adapun kami, para penumpang mobil Jepang, menempuh jarak ratusan kilometer untuk masuk ke hutan. Mesin penghisap bensin kami tinggalkan di batas desa. Lalu kami berjalan kaki menuju Ciranji, salah satu lembah terluar di ulayat Kanekes. Malam turun ke punggung-punggung bukit, menyamarkan jalan setapak yang berkelok-kelok dan berundak-undak. Jalan yang kami tempuh, seperti yang dipilih pengembara dalam puisi lama, adalah salah satu di antara "dua jalan" menuju hutan. Kau bisa menempuh jalan dari Ciboleger, melintasi rumah Jaro Dainah yang mengepalai Desa Kanekes. Tapi itu jalan yang ramai, sebetulnya, karena biasa dilalui para pelancong. Televisi telah berkali-kali menayangkannya, bukan? Sedangkan jalan yang kami lalui malam itu adalah "jalan yang tak begitu sering ditempuh". Kau mungkin akan menyebutnya jalan peziarah. Baiklah. Tapi ketimbang menyerupai para peziarah, kami berlima sepertinya lebih cenderung menyerupai tokoh-tokoh cerita detektif cilik Lima Sekawan karya Enid Blyton---sekiranya ada versi dewasa untuk kisah itu. Mungkin perlu segera ditambahkan bahwa tak ada kasus khusus apapun yang harus kami pecahkan. Kalaupun setiap perjalanan selalu mengandung misi, baiklah disebutkan bahwa kunjungan ini sebetulnya membawa misi Jamal, teman baik yang sedang memecahkan masalah disertasinya sendiri: seperti apa estetika Sunda? Saya sendiri, sebagaimana Dhipie, Atep dan Andi, hanya menemaninya. Sungguh menyenangkan bisa menjadi teman seperjalanan bagi orang sebaik Jamal. Sesekali ia memang tampak kusut dengan risetnya itu, tapi pil pereda pening yang diminumnya tidak sampai meredakan kegembiraan hidup bersama yang diikhtiarkannya. Sampailah kami di Ciranji. Di situ kami dapati kampung yang tidur. Pintu-pintu rumah telah tertutup. Tiada seorang pun penduduk yang keluyuran di jalan. Dari beberapa rumah terdengar percakapan bernada rendah, seperti bisikan layaknya. Di situ tak ada dengung radio atau televisi. Jengkerik mengerik berseling kecipak air di perigi. Cahaya di pekarangan hanya berasal dari bulan---ya, bulan yang sama dengan yang sempat mempesona Ibrahim ratusan tahun silam. Sedang dari sela-sela dinding rumah terlihat nyala pelita atau kayu bakar di ruang dalam. Kami singgah di rumah Pulung sebagai tamu tanpa pemberitahuan lebih dulu. Tuan rumah menyambut kami dengan sikap ramah. Kami dipersilakan masuk, dan duduk bersila di ruangan depan. Di ruang belakang istrinya menyalakan hawu, tungku dari tanah liat, untuk menjerang air dan menanak nasi. Tak lama kemudian nasi disajikan dalam baris, bakul berpinggang ramping. Kami pun makan malam dan minum kopi. Rumah itu terletak di antara deretan rumah serupa, yang pada umumnya berhadap-hadapan, ke utara dan selatan. Di sekitarnya terdapat sejumlah leuit alias lumbung. Tak ada yang berbeda dalam bahan, pola dan bentuk bangunan-bangunan di sana. Dengan tiang-tiang kayu telanjang yang berpijak pada batu, rumah itu berdinding anyaman bambu dan beratap daun kirai kering dengan pola atap julang ngapak: seperti sayap julang yang terkepak. Kami tidur di atas tikar pandan yang menutupi palupuh, lantai bambu yang dibelah-belah sedemikian rupa hingga rata. Angin menyusup melalui celah-celahnya. Pagi harinya kami turun ke kali, diantar beberapa bocah lelaki. Air bergemuruh di sela-sela batu. Kerikil di dasar kali terlihat jelas sekali. Sepulang dari kali, kami dapati sejumlah wanita dan pria berkerumun di beranda rumah Pulung. Pusat perhatian terarah pada seorang pedagang keliling yang memikul barang-barang dagangannya dalam sebuah kotak kayu. Di dalam kotak terdapat rokok, pemantik api, kue basah dan kering, juga minyak goreng. Ekonomi uang rupanya tak terhalang, khususnya di kampung-kampung yang berbatasan langsung dengan dunia luar. Satu dua penduduk, sesungguhnya, bahkan telah menggunakan telepon seluler, meski kampung mereka tak tersentuh sinyal, dan untuk mengisi batere mereka meski berjalan sekian kilometer ke luar kampung yang tersengat listrik. Sikat gigi, gambar partai politik, juga sampah plastik, adalah artefak tersendiri dari rapuhnya garis batas itu. Kami sendiri, sudah pasti, turut jadi mata rantai tak sadar yang memungkinkan silang susupnya "luar" dan "dalam" itu. Tapi, saya kira, kita tidak bisa berlebihan dengan simptom. Setidaknya, di dasar-dasar pranata sosialnya, Kanekes sepertinya tetap berpijak pada tatapakan kultural warisan para karuhun yang dijaga turun-temurun. Di sini, tapal batas antara "luar" dan "dalam" itu, betapapun imajinernya, tetap dipelihara. Sewaktu-waktu para pemangku adat akan memastikan dijalankannya talari paranti, barangkali tak ubahnya dengan cara tokoh "the curate" dkk memeriksa buku-buku bacaan Don Quixote. Setiap waktu satu dua warga yang melangkah terlalu jauh akan merasa bersalah. Rasa hormat kepada puun, sebagaimana rasa hormat kepada karuhun, kiranya tetap melekat di batin mereka. Kasmin, misalnya, adalah contoh mutakhir dalam perkara garis batas itu. Dulu ia warga Kanekes. Konon ia getol berusaha, antara lain dengan menampung barang-barang kerajinan warga setempat, untuk dijual di luar desa. Lambat laun ekspektasinya meningkat seiring dengan perolehan materialnya. Ia ingin masuk sekolah. Ia ingin jadi pengusaha. Ia mau jadi orang kaya. Tak ada yang hina dengan keinginan-keinginan manusiawi itu, bahkan mungkin, dari perspektif lain, dapat disebut mulia. Adat Kanekes sendiri tampaknya tidak merintangi hal itu. Kasmin hanya perlu keluar dari lingkungan adat, lalu pindah ke Rangkasbitung sebagai manusia baru. Di kota itu, ia memeluk Islam. Ia bahkan telah menunaikan ibadah haji. Kini Haji Kasmin adalah orang kaya yang turut jadi calon anggota lembaga legislatif Banten dari kubu Partai Golkar. Kasmin tumbuh, Kanekes tidak runtuh. Terpeliharanya garis batas itu akan terasa jika kau terus berjalan ke kampung-kampung yang letaknya lebih jauh dari kawasan luar. Kian jauh kau berjalan akan kian terasa adanya semacam lapisan demi lapisan suaka budaya yang kepadatan kulturalnya berbeda-beda. Makin ke dalam, makin kental nuansanya. Kami sendiri siang itu melanjutkan perjalanan ke Cikadu, kampung yang berbatasan langsung dengan wilayah jero alias dalam. Jalan ke sana naik turun bukit dan melewati beberapa kampung lainnya semisal Cisagu, Cijanar dan Cijengkol serta huma atau ladang di sekelilingnya. Sesekali kami berpapasan dengan lelaki-lelaki yang memikul padi kering dari huma menuju leuit masing-masing. Kami juga berpapasan dengan perempuan-perempuan bertopi bundar yang memegang kored sebagai perkakas pertanian mereka. Di Cikadu kami singgah di rumah Acin, ayah Samin. Sambil duduk-duduk di balai-balai rumahnya kami menikmati manisna cairan nira hangat yang baru diangkat dari tungku. Itulah bahan gula aren yang dipadatkan dalam bentuk sebesar kepalan tangan orang dewasa yang mengerucut. Kami bahkan disuguhi makan siang pula dengan pelengkap ikan asin dan garam batangan dari luar. Acin dan Pulung ---ini Pulung tetua kampung Cikadu--- bersedia mengantar kami ke wilayah "dalam" yang terdekat dari kampung mereka: Cikertawana. Keduanya mengenakan pakaian terbaik: iket batik biru bermotif hijau, baju lengan panjang hitam, celana pendek hitam, kain sarung hitam bergaris-garis hijau muda, juga sebilah golok dan sebuah koja atau tas dari kulit kayu. Rupanya, itu adalah bagian dari adab resmi untuk mengunjungi tempat kediaman puun, yakni petinggi kampung yang amat dihormati. Setelah naik turun bukit dan melewati sejumlah huma, kami meniti rawayan atau jembatan dari batang-batang bambu yang melintang di atas Ci-Ujung yang tenang. Di sungai itu warga Kanekes biasa menjala ikan atau menghanyutkan kayu gelondongan yang dibutuhkan dunia luar. Lalu kami masuki kawasan tempat tumbuhnya pohon kirai, pisitan, jambu, kadu, dan beragam perdu serta ilalang. Seekor kala hitam keluar dari lubangnya di tepi jalan setapak, tapi ia tak mengganggu karena tidak diganggu. Setelah berjalan sekian ratus meter, kami menyeberang Ci-Parahiyangan yang dangkal, sejuk dan jernih. Jalur airnya melingkar mengitari jalan setapak yang kami lewati, sehingga kami harus menyeberanginya dua kali. Rasanya, ini seperti "penyucian" tersendiri sebelum kami memasuki kawasan yang dihormati. Di Cikertawana kami tak lama, hanya duduk-duduk sejenak di depan sebuah rumah, beberapa puluh meter dari rumah Puun Sangsang. Di situ, di salah satu wilayah jero itu, kami merasakan suasana yang lebih senyap daripada yang kami rasakan di kawasan "luar". Bahkan suara telapak kaki telanjang seorang gadis yang berlari ke arah sebuah rumah terdengar jelas sekali. Kami lalu kembali ke jalan semula, sebelum hari terlampau sore. Beberapa saat sebelum kami tiba kembali di Ciranji, hujan turun deras sekali. Buat saya, seperti juga bagi Dhipie, Atep dan Andi, kunjungan ini adalah yang pertama. Kau pun tahu, selalu ada yang bermasalah pada pandangan pertama: sesuatu yang menggugah mungkin sebetulnya sedang memperdaya, atau sebaliknya. Tapi saya sendiri telah bersiap kecewa sekiranya apa yang kukagumi di Kanekes hari ini besok lusa tak ada lagi. Saya pun sanggup tidak menggerutu seandainya apa yang kulihat di Kanekes hari ini tak seperti yang kuharapkan sebelumnya. Betapapun, kunjungan pertama ini sepertinya tidak akan menjadi yang penghabisan. Kelak, sewaktu-waktu, rasanya saya akan kembali ke hutan itu. Untuk sementara, seperti penunggang kuda dalam puisi lama, saya pun "punya sejumlah janji yang harus kutepati".*** mj http://geocities.com/mangjamal http://mangjamal.multiply.com

