Emam anu kieu mah di Tasik...dahar gede kejo.........tapi sanes maksadna
sangu gratis teras laukna nyandak sorangan.....kabayan eta mah..........

On 4/21/09, Yuliadi <[email protected]> wrote:
>
>
>
>
> Palalaur ah tuang di warteg marmo mah, bisi katularan si bahenol nerkom.
> wawasuh piring gelasna ge pi ka heheh heun.
> Kumaha tah wartosna, kapungkur kantos nguping wartos yen aya warsun anu
> tiasa sa wareg2na nyandak sangu teu dietang - teu kedah dibayar ?
> --- On *Mon, 4/20/09, irpan rispandi <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: irpan rispandi <[email protected]>
> Subject: [Urang Sunda] Warteg yes!, Mc Setar Baks no!
> To: [email protected]
> Date: Monday, April 20, 2009, 2:55 AM
>
> kuring lamun dahar 'diluar', leuwih nyaman dahar di warteg daripada di Mc
> D. teuing kunaon. ngirit? ah henteu oge...
>
> http://travel. kompas.com/ read/xml/ 2009/04/20/ 09134523/ Sederajat.
> dalam.Warteg<http://travel.kompas.com/read/xml/2009/04/20/09134523/Sederajat.dalam.Warteg>
> Sederajat dalam Warteg
>
> *Cobalah singgah di Warteg Warmo pada Sabtu dini hari atau Minggu dini
> hari. Jangan kaget kalau warteg ini dipenuhi perempuan berbusana minim,
> tubuh wangi, tetapi wajah mulai kucel. Maklum, baru kelar dugem. Inilah ciri
> khas wajah Warmo di setiap dini hari pada akhir pekan.
>
> Siapa yang tak kenal warteg alias warung tegal? Warteg bisa ditemukan di
> mana saja. Di pinggir jalan, di sekitar kampus, di dekat proyek bangunan,
> terminal bus, stasiun kereta, area perkantoran, juga di sekitar pusat
> perbelanjaan mewah. Ciri khas makanannya yang akrab di lidah, enak, cepat,
> dan murah ini membuat warteg langgeng sejak tahun 1970-an.
>
> Warteg Warmo yang berlokasi di Tebet Raya, Jakarta Selatan, tadi, misalnya,
> masih bertahan sebagai warteg legendaris yang populer di Jakarta.
> Popularitasnya membuat siapa pun tak segan mampir makan di Warmo. Mulai dari
> pejabat, pengusaha kelas kakap, juga kalangan selebriti. Jadi tak heran para
> ”aktivis” clubbing pun tak risi makan di Warmo seusai dugem hingga subuh.
> Terlebih, Warmo buka 24 jam.
>
> Warteg—warung nasi yang lahir dari tangan para perantau asal Tegal—memang
> telah melebur dengan masyarakat Jakarta. Warteg menjadi bilik yang egaliter
> di mana strata sosial apa pun berdampingan makan di satu kursi kayu panjang
> tanpa harus jaim (jaga image).
>
> Pada awal 1970-an ketika pembangunan di Jakarta tengah giat dimulai,
> kebutuhan akan warung nasi pun dimulai. Warung yang menyediakan makanan
> rumah sederhana dengan jumlah yang banyak tetapi harga tetap terjangkau ini
> cocok dengan kebutuhan para kuli bangunan. Begitu pula tukang becak hingga
> pedagang minyak tanah keliling perlu menambah tenaga dengan makan di warteg.
>
> Seiring berjalannya waktu, warteg tidak hanya disambangi oleh kalangan
> ekonomi sulit. Kalangan dari seluruh strata sosial sudi makan di warteg.
> Bule pun kerap terlihat makan di warteg. Bahkan, warteg menjadi ”penopang
> perut” amat penting bagi kelas menengah pekerja kantoran di Jakarta yang
> butuh makan siang sehari-hari.
>
> Pemilik Warteg Gewart Dago, yang terletak di kawasan Halim, Cililitan,
> Jakarta Timur, mengaku warungnya sering diketuk orang yang ingin sarapan.
> ”Sebenarnya warung buka pukul 07.00, tetapi sering sekali pembeli sudah
> datang pukul 06.00. Mau tidak mau ya dilayani, dia kan butuh sarapan,” kata
> Ahmad (30), anak Sopiah, pemilik Warteg Gewart Dago. Gewart merupakan
> singkatan dari Generasi Warung Tegal, sedangkan Dago adalah nama gang tempat
> mereka pertama kali berjualan di kawasan Halim itu.
>
> Warteg 21 yang terletak di Jalan Tanah Mas Raya, Kayuputih, Pulo Gadung,
> Jakarta Timur, hanya libur tujuh hari dalam setahun. Mutinah (33), pengelola
> warteg, mengaku, wartegnya tidak bisa tutup karena pelanggan akan kesulitan
> mencari tempat makan. ”Di warteg, harga makanan murah. Zaman sekarang,
> semuanya mahal. Kalau makan tidak di warteg, gaji mana cukup,” kata Mutinah.
>
> Setiap hari Mutinah harus memasak 150 kilogram beras. Pada bulan Ramadhan,
> jumlah beras yang dimasak juga tetap sama. ”Setiap hari saya belanja
> keperluan warteg sampai Rp 4,5 juta. Puasa tidak puasa, belanjanya ya sama,”
> ujarnya.
>
> Tetap hangat
>
> Sejak pagi-pagi buta, mereka sudah berbelanja lalu langsung memasak. Gewart
> mempekerjakan tujuh orang yang tidak berhenti memasak dari pukul 04.00
> hingga 12.00.. Warteg 21 mempekerjakan lima orang juru masak.
>
> ”Masak tidak boleh berhenti biar masakan yang disajikan tetap hangat.
> Setelah sore, barulah memasak berdasarkan kebutuhan,” ujar Ahmad.
>
> Makanan yang paling favorit di Warteg Gewart adalah tempe goreng tepung.
> Setiap hari warteg ini menggoreng 100 hingga 120 lonjor tempe. Selain itu,
> sate udang goreng juga sangat digemari. ”Setiap hari tak kurang 15 kilogram
> udang dimasak. Pokoknya saya menyisihkan Rp 4 juta untuk belanja seluruh
> keperluan warteg,” ungkap Ahmad yang berbelanja kebutuhannya di Pasar Kramat
> Jati.
>
> Menurut Ahmad, setiap hari dia menyediakan lebih dari 40 macam masakan.
> Sementara Mutinah mengaku tidak tahu jumlah persis jenis makanan yang dia
> sediakan. ”Enggak pernah dihitung. Ayam saja ada empat macam, ayam goreng,
> ayam opor, ayam kecap, dan ayam pedas. Kalau 20 jenis sih lebih,” ujar
> Mutinah.
>
> Semua jenis makanan ini belum termasuk telur asin dan mentimun yang
> merupakan ciri khas warteg. Harga yang ditawarkan memang sangat murah..
> Untuk nasi, sayur, dengan lauk udang dan tempe, Mutinah hanya mengenakan Rp
> 6.000. Nasi sayur udang dan telur hanya Rp 7.000. Lalu nasi sayur dengan
> lauk ayam hanya Rp 10.000, sudah termasuk teh tawar hangat.
>
> Sementara di Gewart harga nasi sayur udang hanya Rp 5.000, sedangkan nasi
> ayam hanya Rp 7.500. Harga ini sudah termasuk teh tawar hangat. ”Murah
> meriah,” kata Ahmad.
>
> Beragam jenis makanan dan murahnya harga tentu menjadi daya tarik warteg.
> Orang yang makan di warteg tidak mencari pendingin udara, bangku yang empuk,
> dan interior yang didesain khusus.
>
> Mereka nyaman makan berdesak-desakan dengan orang tak dikenal di atas
> bangku kayu panjang. Mereka juga tidak keberatan, setelah selesai makan,
> hanya punya waktu beberapa menit untuk menurunkan makanan sebelum
> wajah-wajah kelaparan mengusir mereka.
>
> Baik Mutinah maupun Ahmad mengaku tidak mengetahui secara persis jumlah
> pengunjung di wartegnya. Yang pasti, baik Ahmad maupun Mutinah harus
> mempekerjakan 10 orang untuk melayani pembeli.
>
> Namun, jika dihitung secara kasar, jumlah pengunjung bisa diperkirakan.
> Jika dalam 20 menit rata-rata ada 10 orang makan di warteg, maka dalam
> sehari sekitar 450 orang makan di warteg.
>
> Doni, penjaga parkir di Warteg Gewart Dago, mengaku rata-rata mendapatkan
> uang Rp 50.000-Rp 65.000 hanya dari pukul 11.00 sampai 14.30. Dalam sehari,
> pengaturan parkir dibagi tiga shift.. Setiap shift ada dua juru parkir.
>
> Warteg bolehlah disebut pahlawan bagi kaum urban Jakarta, yang bekerja
> memeras otak dan otot hingga petang. Roda ekonomi negeri pun berputar, dari
> mana tenaga para pekerja itu? Ya dari warteg...*
>
>
>
>  
>

Kirim email ke