Baraya, ping 10 April 09 kamari di Acara Kick Andy, ditingalikeun para wanoja 
hebat Indonesia. Ti sababaraha urang wanoja aya Ibu Entin Kartini (tina namina 
mah anjeuna teh wanoja Sunda). Iber salengkepna, mangga diaos, kenging ngorowot 
ti www.kickandy.com.

salam,
ro2

Wanita di Dunia Pria
Emansipasi wanita, bukan sebuah wacana lagi. Di Indonesia, persamaan kesempatan 
antara laki-laki dan perempuan sudah dianggap berjalan ideal. Perbedaan gender 
dan pembedaan standar penilaian antara pria dan wanita dalam konteks pekerjaan 
atau profesionalisme, boleh dibilang mulai terhapus. Tidak ada lagi seharusnya 
sebutan "dunia pria" dan "dunia wanita". Juga tak ada perlakuan istimewa dalam 
hal tugas, kewajiban, penghargaan dan hukuman. Emansipasi yang berdasarkan 
kemampuan, bukan hanya kemauan semata. 

Ismayasari dan Ais Matutu contohnya. Mereka adalah perempuan-perempuan tangguh 
yang mampu dan mau serta berani bekerja keras di beratnya medan tambang. 
Keduanya adalah operator alat berat di pertambangan emas PT. Newmount Nusa 
Tenggara di Sumbawa, NTB. Jangan dikira alat berat yang dikendalikan keduanya 
adalah alat berat sekadarnya. Haul Truck yang harus mereka setir berukuran 
raksasa. Tinggi x lebar x panjang "truk batangan" mereka adalah 7 x 7 x 13 
meter, dengan diameter roda 3,5 meter! Dan bagaimana mereka harus berjuang 
mengendalikan "mainan" mereka itu selama 12 jam setiap harinya, di sumur 
tambang yang kedalamannya hampir 1 kilometer di bawah permukaan laut, itu 
cerita istimewanya.

Jauh dari Sumbawa, ada Yossi Anita di Sumatera Barat. Akrab dipanggil Bang Yos, 
ia mengabdi sebagai seorang petugas pemadam kebakaran di kota Padang. Sebagai 
seorang petugas PMK, ia harus siap siaga 24 jam non stop. Kesukaannya pada 
kegiatan menantang dan menolong orang lain, membuatnya mantap berlabuh di 
profesi ini. Bergulat dengan si jago merah adalah makanan sehari-hari yang 
sangat dinikmatinya. Bahkan menurut Yossi, jika sedang sakit pun, jika ada 
panggilan memadamkan api, bisa seketika langsung sembuh.

Sementara Nelce Alfonsina Harewan, Entin Kartini dan Christina Rantetana, 
adalah sosok-sosok Laksamana Malahayati modern. Nelce adalah nahkoda wanita 
pertama asal Papua. Ia pernah memimpin kapal penumpang perintis dari Papua ke 
pulau-pulau sekitar Papua yang berombak ganas. Kini, ia mendapat kepercayaan 
untuk menjadi komandan dari Kapal Patroli Negara 339, yang bertanggung jawab 
mengawasi laut-laut antar pulau dan samudera di Indonesia Bagian Timur.

Sedangkan Entin Kartini adalah nahkoda wanita pertama di Indonesia. Di 
tangannya, pernah dipercayakan sebuah kapal penumpang besar berkapasitas 1000 
orang, yang baru dibeli di Jerman untuk dibawa ke Indonesia selama 29 hari. Dan 
Christina Rantetana, adalah Laksamana Pertama di TNI AL. Sebagai seorang 
Brigadir Jenderal wanita pertama di TNI AL, ia harus menjalani tugas dan 
kewajiban di lapangan sebagaimana perwira tinggi TNI AL pada umumnya. Tidak 
hanya berfungsi sebagai staf belakang meja mengurusi administrasi atau 
kesehatan. Sejumlah operasi patroli di atas sejumlah KRI dijalaninya, sebagai 
komandan kapal perang.

Dan di darat, ada Brigadir Jenderal Polisi Rumiah yang bertanggung jawab secara 
penuh atas keamanan wilayah hukum di Provinsi Banten. Ia kini menjadi Kapolda 
wanita pertama di Indonesia. Di pundaknya, kompleksitas persoalan hukum, 
keselamatan dan keamanan warga Banten dipercayakan. Tentu saja bukan perkara 
gampang bagi seorang perwira wanita bisa menjabat Kapolda. Reputasi dan 
prestasi yang sangat baik selama berkarir di Polri, tentu menjadi pertimbangan 
penempatan dirinya sebagai pemuncak aparat keamanan di wilayah yang juga 
dipimpin gubernur wanita itu.

Sementara di udara, Indonesia memiliki Srikandi-Srikandi penjelajah langit 
seperti Ida Fiqriah, Agatha Asri Herini, dan Fariana Dewi. Ida kini menjadi 
pilot wanita satu-satunya di maskapai Garuda Indonesia. Kepadanya, dipercayakan 
pesawat besar Airbus 330 berpenumpang 300-an orang untuk diterbangkan ke 
seluruh penjuru dunia. Sementara Agatha, selain seorang pilot, ia juga menjadi 
instruktur pilot di maskapai yang sama. Ia mendapat wewenang besar untuk 
meloloskan atau menggagalkan seorang pilot, pria dan wanita, untuk memegang 
sebuah pesawat.

Sementara Fariana Dewi, kini adalah pilot helikopter pertama dan satu-satunya 
di TNI AU. Mitos bahwa perempuan tidak bisa dan tidak boleh menjadi pilot 
helikopter, dipatahkannya. Minat dan bakat yang kuat padanya terhadap udara, 
mendorongnya mengikuti seleksi untuk pilot. Dan pasca berbagai tes, ia dianggap 
lebih tertarik pada pesawat rotary wing atau helikopter, daripada pesawat fixed 
wing.

Nah, bagaimana para perempuan-perempuan perkasa ini mampu secara profesional 
berkiprah di profesi yang umumnya didominasi kaum laki-laki, tanpa melupakan 
kodratnya sebagai ibu rumah tangga? Bagaimana mereka mengelola diri sehingga 
sukses di pekerjaan "langka" sekaligus berhasil menjadi istri atau ibu rumah 
tangga yang baik di rumah?

Kirim email ke