---------- Forwarded message ----------
From: Rumah Dunia
Date: 2009/4/29

AJAKAN GERAKAN KEBUDAYAAN BAGI WONG BANTEN
Oleh Gading Tirta

katakata hanya bertuah bila itu terjadi
dan dijadikan perbincangan dijadikan tanda!
(Toto ST Radik)

Perbincangan ini adalah tentang pembangunan pusat kebudayaan di Banten.
Karena ini adalah rencana besar, menyangkut orang banyak, dan mulia, maka
banyak yang mesti diikutsertakan dalam perbincangan ini. Ya pengusaha,
seniman, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, kiyai, tukang becak, petani,
pedagang, dan seterusnya. Tapi bila ada yang ragu dengan rencana ini,
yakinlah ini adalah rencana bernilai ibadah dan demi kemaslahatan Banten
tercinta.

Bagaimana rencana ini bergulir? Begini.

Saya mendapatkan rencana ini dari seseorang yang sangat konsisten dalam
mengembangkan kebudayaan di Banten terutama dalam hal sastra, teater, musik,
dan film. Ia adalah salah satu pendiri Rumah Dunia, Gola Gong. Beberapa
waktu lalu, saat menghadiri Kelas Menulis di Rumah Dunia, Gola Gong
menyampaikan kegundahannya tentang pembangunan gedung kesenian Banten yang
sudah menjadi impian sejak dulu.

Kalau Anda pernah ke Rumah Dunia, Anda bisa melihat sebidang tanah kosong di
depan Rumah Dunia. Luasnya sekitar 2873 M² (@ Rp. 250.000,-/M2). Di atas
tanah itulah rencana pembangunan gedung kesenian Banten akan dibangun oleh
Rumah Dunia. Tidak hanya akan dibangun gedung tapi juga akan dibangun
lapangan olah raga semisal basket, footsal. Juga akan ada warung-warung
kecil yang akan diisi warga yang menjajakan makanan khas kampung agar
ekonomi sekitar Rumah Dunia bisa berputar, lalu dibangun juga pemandian umum
bagi warga. Asal tahu saja, sebagian warga sekitar Rumah Dunia masih ada
yang menggunakan sungai irigasi yang airnya berwarna coklat dan sudah
bercampur dengan aneka kotoran untuk mandi.

Jika di atas tanah kosong itu sudah dibangun apa yang sudah menjadi rencana
itu—dan mudah-mudahan bisa menjadi rencana dan kesadaran kolektif—maka
diharapkan Ciloang, kampung di mana tempat itu dibangun, bisa menjadi titik
perubahan di Banten. Gola Gong menamakannya dengan titik gempa. Dari titik
itu kita berharap bisa mengguncang seluruh wilayah Banten dengan kegiatan
positif.

Di gedung itu kita bisa mengadakan pertunjukan teater, tari, marawis,
kosidahan, debus, musik, film, dan kegiatan kesenian lainnya. Bisa juga
diadakan pameran lukisan sampai pameran buku dan temu penulis. Tapi tentu
tidak hanya seniman dan sastrawan saja yang bisa menggunakan fasilitas ini
semua. Semua orang, semua sekolah, perguruan tinggi, organisasi boleh
menggunakan. Terbukti di Rumah Dunia sekarang, siapa pun boleh menggunaknnya
untuk kegiatan. Singkatnya, semua yang memerlukan tempat dalam penumbuhan
dan pengembangan kebudayaan di Banten.

GERAKAN PEDULI BUDAYA
Rencana yang agung dan mulia ini sayang sekali mentok pada pendanaan yang
kini sedang digerakkan. Kalau dalam dua minggu bisa membebaskan 2400 meter
saja, maka semua sudah beres. Pemilik tanah hanya memberikan waktu selama
dua bulan ini terhitung dari Mei 2009 hingga 1 Juli 2009. Jika sampai waktu
yang ditentukan tidak bisa, maka tanah itu akan dijual ke orang lain dan
kabarnya akan dibangun toko material! Jual semen, tripleks, paku, dan
bahan-bahan bangunan lain.

Dari mana uang bisa didapatkan? Rumah Dunia tentu tidak bisa menghasilkan
uang sebesar itu dalam waktu yang singkat karena Rumah Dunia memang bukan
perusahaan. Bisakah rencana ini terwujud? Di mana ada kemauan di situ ada
jalan. Begitu para bijak memberikan petunjuk.

Beberapa pengusaha sukses sudah menyumbangkan uangnya demi rencana ini.
Forum Indonesia Membaca juga akan menggalang dana di acara Word Book Day di
Jakarta tanggal 16 Mei 2009 pukul 14:00 WIB mendatang. Acaranya ada lelang
buku klasik “Balada Si Roy”, komplet 10 buku, karya Gola Gong. Peluncuran CD
album musikalisasi puisi Ki Amuk yang digawangi Firman Venayaksa, Presiden
Rumah Dunia. Juga bursa merchandise Rumah Dunia. Dengan cara itu diharapkan
akan terkumpul sejumlah uang.

Sayang, penyumbang paling semangat dan terbanyak hingga saat ini adalah
mereka yang berada di luar Banten. Kita, sebagai orang Banten, apa tidak
malu? Rasanya sudah saatnya warga Banten membangun tempatnya sendiri. Toh,
sudah terbukti bahwa Rumah Dunia selama ini tidak tumbuh dan berkembang
untuk dirinya sendiri melainkan untuk siapa saja dari mana saja.

Bagaimana jika tidak bisa nyumbang? Paling tidak membantu mengumpulkan dana.
Saya sebagai relawan Rumah Dunia akan mengetuk hati siapa pun—terutama warga
kampus IAIN—agar bisa berpartisipasi. Yang ingin bergabung, kita bisa
mengadakan kegiatan apa saja demi penggalangan dana ini. Saat ini Rumah
Dunia membutuhkan bantuan kita. Sudah saatnya kita membantu. Ini ajakan bagi
mereka yang pernah menggunakan fasilitas Rumah Dunia. Bagi yang telah
mendapatkan ilmu dari sana. Atau bagi yang belum mendapatkan apa pun,
yakinlah Rumah Dunia akan memberikan dampak positif.

Bagi yang merasa bisa membantu, kalian bisa membuka penggalangan dana di
kampus-kampus atau sekolah-sekolah masing-masing. Mari kita sukseskan
pembebasan lahan Rumah Dunia demi pembangunan Banten ke depan.

Berapa pun hasilnya tidak masalah. Yang terpenting, kita usaha dulu. Hasil
dari sumbangan itu akan dilaporkan setiap harinya di situs Rumah Dunia (
www.rumahdunia.net), face book - face book, dan mailinglist (milis) sebagai
bentuk transparansi kepada para penyumbang atau pihak lain yang ingin
mengetahui sejauh mana dana terkumpul. Sampai tanggal 26 April 2009 ini,
uang yang sudah terkumpul sudah dapat membebaskan areal seluas 322M².

Kegiatan lain yang bisa mendatangkan pendanaan yang lebih efektif bisa
dilakukan oleh orang lain, pihak lain, komunitas lain, dan seterusnya yang
peduli dan ingin bergabung dalam gerakan ini. Namun perlu diingat, ini bukan
kegiatan partai. Ini adalah gerakan sosial dan tidak menghasilkan secara
materi bagi para relawannya.

Uluran tangan dari para pihak yang bisa mempercepat pewujudan demi perubahan
Banten ini bisa sangat membantu dan sangat ditunggu. Dan perbincangan ini
mesti saya sudahi. Karena hanya membincangkan sesuatu tidak akan berguna
apa-apa tanpa dikerjakan. (***)

*) Penulis adalah mahasiswa IAIN SMHB Serang dan yang sering menuntut ilmu
di Rumah Dunia.

Kirim email ke