Si Kabayan dari Buku ke Buku
Atep Kurnia

Si Kabayan (SK) manusia lucu itu banyak diketahui orang. Tokoh kita
ini memang dikenal suka berkelakar, humoris, lugu, tetapi juga
kadang-kadang direpresentasikan sebagai orang yang pandai. Sepanjang
kelahirannya, Si Kabayan selalu dihidup-hidupkan orang, tentu saja
sesuai dengan keinginan dan kepentingan si pengarangnya. Sebagian
bahkan memercayainya sebagai bukan tokoh fiktif. Menurut orang yang
percaya, makam Si Kabayan ada di Banten.

Di dalam dongeng-dongeng lama, SK biasanya digambarkan sebagai orang
kampung yang lingkungan pergaulannya terbatas di sekitar istrinya
(kita kenal kini sebagai Nyi Iteung), kedua mertuanya, dan majikannya.
Tetapi dalam dongeng-dongeng yang diciptakan orang sekarang, ia pun
kadang-kadang hidup di kota. Tetapi walaupun begitu, tetap saja
digambarkan dengan memiliki sifat-sifat orang kampung.

Dokumentasi Si Kabayan

Sejak kapan kisah-kisah SK didokumentasikan orang? Dr. Snouck
Hurgronje boleh jadi adalah orang pertama yang mengumpulkan kisahnya.
Sebab antara tahun 1889-1891, orientalis asal Belanda ini mengadakan
penelitian mengenai kehidupan Islam dan cerita rakyat yang ada di
Pulau Jawa. Untuk mengelilingi pulau ini, ia mengajak H. Hasan Mustapa
yang telah ia kenal di Mekkah pada 1885.

Sebagai bukti kerja yang dilakukan Snouck, pada 1929 terbit Tijl
Uilenspiegel verhalen in Indonesie in het Bizonder in de Soendalande.
Buku ini berasal dari disertasi Maria-Coster Wijsman, yang
pembahasannya mendasarkan pada tokoh SK yang hidup di Banten selatan.
Sumber kisah-kisah dalam buku itu ia ambil dari catatan-catatan
mengenai SK yang dikumpulkan oleh Dr. Snouck.

Pada 1911 terbit Pariboga: Salawe Dongeng-Dongeng Soenda. Buku ini
disusun oleh Cornelis Marinus Pleyte dan diterbitkan oleh Kantor
Tjitak Goepernemen. Ada yang menganggap, inilah buku pertama yang
memuatkan cerita SK.

Berikutnya, 21 tahun kemudian, pada 1932, Balai Pustaka menerbitkan
buku Si Kabajan. Buku ini disusun berdasarkan dongeng-dongeng yang ada
dalam penelitian Maria-Coster Wijsman. Entah apa alasannya,
dongeng-dongeng dalam disertasi terdahulu itu dipilih lagi. Beberapa
dongeng yang berbau seks kemudian dibuang.

Pada tahun yang sama, terbit Si Kabajan Djadi Doekoen karya Moh.
Ambri. Karya ini dianggap sebagai saduran dari salah satu naskah drama
karya Moliere, “Le Medicin Malgre Lui”. Menginjak tahun 1941, hanya
ada satu judul buku yang terbit mengenai SK. Buku berjudul Kabajan itu
disusun oleh W.H. Rassers dalam bahasa Belanda.

Selanjutnya Utuy T. Sontani menulis drama “Si Kabayan” dalam bahasa
Indonesia dan bukunya diterbitkan pada 1959. Naskah yang sama
diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia, menjadi Si Kabaian (1960).
Sembilan tahun kemudian, kisah ini diterbitkan dalam bahasa Inggris
dan disatukan bersama karya pengarang lainnya dari negara luar dalam
“Three SEAsian Plays”, yang merupakan suplemen dari berkala Tenggara.

Yang penting dicatat, pada tahun ‘60-an itu paling tidak ada lima
karya Min Resmana yang berkaitan dengan kisah-kisah SK. Karya-karya
yang dimaksud adalah Si Kabajan Pangantenan (1966), Si Kabajan
Kasurupan (1966), Si Kabajan Ngandjang Kapageto (1966), Si Kabajan
djeung Raja Manaboa (1966), dan Si Kabajan Tapa (1967). Sementara itu
sastrawan senior Sunda, MA. Salmun, menerbitkan Si Kabajan Moderen
(1965).

Pada era 1970-an, hanya dua judul buku yang tercatat yang kembali
menghidupkan Si Kabayan. Pertama, Tales of Si Kabayan yang disusun
oleh Murtagh Murphy dan diterbitkan oleh Oxford University Press, pada
1975. Yang kedua, Si Kabayan dan Beberapa Dongeng Sunda Lainnya (1977)
karya Ajip Rosidi.

Era 1980-an ada sekitar lima judul yang terbit. Dua di antaranya
karangan MO Koesman, yaitu Si Kabayan (1980) dan Si Kabayan Ngalalana
(1982). Sementara itu Adang S. menulis Juragan Kabayan pada 1986.
Lainnya, Lebe Kabayan (1986) karya Ahmad Bakri dan Si Kabayan Tapa
(1986) karya Min Resmana.

Pada tahun (1990), Si Kabayan “meninggal” dunia. Karena itu terbit
Jurig Kabayan karya Tini Kartini. Akan tetapi, pada 1997 Si Kabayan
dihidupkan lagi lewat Si Kabayan Manusia Lucu buah tangan Achdiat K.
Mihardja. Di tempat lain, tepatnya dalam buku Asian Tales and Tellers
(1998) susunan Cathy Spagnoli, Si Kabayan pun muncul. Tak ketinggalan,
Gerdi W.K. juga ikut menghidupkan kembali Si Kabayan (1999).

Memasuki era tahun 2000-an, buku-buku mengenai SK pun tetap
bermunculan. Bisa disebutkan, Si Kabayan-Cerita dari Sunda (2000)
karya Citra, Kabayan Bikin Ulah (2002) dan Si Kabayan Jadi Sufi (2003)
susunan Yus R. Ismail, serta Si Kabayan (2004) karangan Mulyani S.
Yeni. Kemudian, Si Kabayan Digugat (2004) karya Yuliadi Soekardi & U
Usyahuddin, Si Kabayan Nongol di Zaman Jepang (2005) susunan Achdiat
K. Mihardja, dan, yang terakhir, Si Kabayan Jadi Wartawan (2005) karya
Muhtar Ibn Thalab.

Pendapat Mengenai Si Kabayan

Berdasarkan catatan Sutaarga (1965), ada beberapa pendapat atau
penelitian yang telah dilakukan baik oleh kaum kolonialis maupun
pribumi terkait dengan Si Kabayan. Pertama, tentu saja yang dilakukan
oleh Ny. Maria Coster Wijsman (1929) yang memperbandingkan keberadaan
SK dengan siklus tokoh cerita rakyat Eropa, Tijl Uilenspiegel.

Wijsman mengartikan Kabayan sebagai semacam pamong desa yang bertugas
menyampaikan berita. Istilah tersebut masih dipakai di daerah Jawa dan
Tanganan Pangringsingan. Ia juga menghubungkan istilah tersebut dengan
orang yang biasa memimpin acara kenduri dalam tokoh-tokoh cerita
Melayu.

Sementara itu Prof. Berg meneliti arti kabayan dari sisi etimologinya.
Menurut Berg, kata kabayan berasal dari bahasa Sanskerta, bhaya yang
artinya takut. Hal ini sesuai dengan gambaran Kabayan versi Tanganan
Pangrisingan yang harus memiliki sifat “magis”. Kedua, istilah kabayan
diambil dari kata dasar bay yang berarti wanita. Hal mana sesuai
dengan nama Ken Bayan dalam cerita-cerita Panji.

Rassers (1941) menilai, SK adalah tokoh ambivalen. Selain sebagai
penghubung dan pewarta dari Sang Pencipta Semesta, ia juga dinilai
sebagai tokoh yang mewakili totalitas dan kekuatan masyarakat yang
bersifat membangun tetapi juga meghambat. Ya, di dalam dirinya sifat
ketuhanan dan demonis mewujud menjadi satu. Oleh karena itu, Rassers
menganggap SK sebagai pahlawan budaya sekaligus tukang tipu.

Kemudian Held (1951), yang memperbandingkan SK dengan panakawan dari
lakon-lakon wayang Jawa khususnya dari segi fungsi lelucon-leluconnya.

Dari tanah air, Utuy T. Sontani (1920-1979) ikut meneliti Si Kabayan.
Pengarang ini pada tahun 1957 mengungkapkan bahwa SK merupakan “manusa
anu geus teu nanaon ku nanaon”. Maksudnya, SK telah menjelma menjadi
manusia yang terlepas dari beragam rasa yang bisa memengaruhi manusia.
Artinya, ia telah menjadi ubermensch, istilah Nietzsche. Walaupun
begitu, dalam naskah dramanya Utuy menggambarkan SK sebagai dukun yang
dianggap sakti, padahal ia hanya mempermainkan pasien-pasiennya.

Sementara itu, Ajip Rosidi (1964) berpendapat bahwa di balik kisah SK
terkandung maksud tertentu. Menurut Ajip, SK bukanlah orang yang
bodoh, sebab banyak cerita-cerita SK yang sering mempermainkan
mertuanya serta kiai. Kiai tersebut bisa jadi personifikasi ulama,
sedangkan SK merupakan personifikasi orang Sunda. Dan Islam masuk ke
Tatar Sunda setelah runtuhnya kerajaan Sunda. Ya, dengan demikian
sastrawan Sunda yang menciptakan cerita SK sebenarnya sedang
menyampaikan kritik melalui jalan yang halus berupa lelucon.

Dalam seminar yang bertajuk “Seks, Teks, Konteks: Tubuh dan
Seksualitas dalam Wacana Lokal dan Global” (23-24 April 2004) lewat
makalahnya yang berjudul “Si Kabayan: Cawokah atau Jorang?”,
Ayatrohaedi menitikberatkan perhatiannya pada cerita-cerita SK yang
berbau seks.

Bisa dimengerti, Ayatrohaedi mendasarkan tulisannya pada buku
Maria-Coster Wijsman, Tijl Uilenspiegel verhalen in Indonesie in het
Bizonder in de Soendalande yang memang banyak memuat kisah-kisah SK
yang berbau seks.

Menurut Ayat, “dari sekitar 80 kisah Si Kabayan yang dijadikan bahan
disertasi Coster-Wijsman, terdapat 24 kisah yang berkenaan dengan
seks. Kisah-kisah itu mengandung kata-kata “tabu”, walaupun sekali
lagi ternyata tidak menimbulkan kesan erotis. Jika dikaitkan dengan
teks dan konteks, akan dengan mudah dipahami mengapa hal itu terjadi.”

Sementara Jakob Sumardjo (2003) menilai SK dari aspek primordialisme
orang Sunda. Ia menilai bahwa “Si Kabayan berwatak paradoks, pintar,
dan bodoh sekaligus. Ia pintar kalau kepentingannya sendiri terganggu,
tetapi ia bodoh kalau sedang dikuasai oleh nafsu-nafsunya. Ini
menunjukkan kewajaran orang Sunda untuk mentertawakan dirinya sendiri,
kelemahan diri, dan kelemahan manusia umumnya.”

“Di orang Sunda berkumpul,” kata Jakob, “di situ ada tertawa. Rupanya
humor berhubungan juga dengan masalah ‘dalam’. Sasaran humor adalah
mereka yang sudah dimasukkan sebagai bagian dari lingkungan sendiri.”

Sedangkan Bambang Q Anees (2002) berpendapat bahwa SK merupakan tokoh
fiksi yang diciptakan sebagai penghibur atawa kurir filosofi hidup
orang Sunda. SK sebagai kurir berfungsi sebagai metafor: menyampaikan
sekaligus mereduksi pesan.

Kemudian menurut Bambang, “ketawalah yang menjadi inti dari sosok Si
Kabayan.” Kemudian ia pun mempertautkan SK dengan konsep pencerahan
ala Tao. Dari sisi ini, “tertawa” dimaknai sebagai “penemuan kepahaman
akan suatu lelucon secara begitu cepat. Pada saat itu kita seperti
menemukan rantai kebenaran yang selama ini terlepas.” Nah, pada titik
inilah, menurut Bambang, “Kabayan memainkan dirinya sebagai pemancing
ketawa demi pencerahan tertentu.”

Apa pun gambaran dan pendapat orang mengenai sosok SK,
cerita-ceritanya mencerminkan khazanah kebudayaan Sunda yang memang
kaya warna.***

Pikiran Rakyat, Sabtu, 07 April 2007.

Kirim email ke