"Kacapi Indung", Simbol Sunda Lama

Hingga saat ini, belum ada yang mencoba menggali nilai-nilai yang
tersembunyi di balik kacapi indung, baik dari segi wujud dan bentuk
kacapi indung itu sendiri maupun dari segi simbol-simbol yang terkait
dengan peranan musikalitasnya.

Pada umumnya, kacapi indung hanya dikenal sebagai alat musik yang
berfungsi untuk mengiringi vokal tembang sunda cianjuran. Padahal,
dari bentuk dan wujudnya saja ada hal yang patut dipertanyakan.
Mengapa wujud dan bentuk kacapi indung berbeda dari kacapi siter.
Kemudian mengapa kacapi indung umumnya berwarna hitam, dan mengapa
pula disebut kacapi indung. Pada awalnya, kacapi indung yang juga
biasa disebut sebagai kacapi parahu, kacapi gelung, atau kacapi
pantun, digunakan pada penyajian pantun untuk mengiringi lagu-lagu
yang dibawakan oleh juru pantun. Namun, karena tembang sunda cianjuran
itu sendiri diduga berasal dari pantun maka kacapi pantun (yang
sekarang ini lebih dikenal dengan sebutan kacapi indung) digunakan
sebagai salah satu instrumen untuk mengiringi lagu-lagu tembang sunda
cianjuran.

Dalam penyajian tembang sunda cianjuran, kacapi indung memiliki
peranan yang sangat dominan. Kacapi indung berperan sebagai pemberi
rasa laras terhadap penembang (melalui tabuhan narangtang); berperan
sebagai pemberi aba-aba terhadap penembang; berperan sebagai penuntun
lagu; dan berperan juga sebagai pembawa irama lagu (melalui lagu-lagu
panambih).

Lahirnya istilah kacapi indung diperkirakan setelah kecapi ini
digunakan dalam konteks tembang sunda cianjuran. Ketika kecapi ini
digunakan dalam pantun, tidak dikenal istilah kacapi indung, dan
masyarakat Sunda menyebutnya dengan istilah kacapi pantun atau kacapi
parahu. Berubahnya nama jenis kecapi ini --yang semula bernama kacapi
pantun atau kacapi parahu kemudian menjadi kacapi indung-- sangat
terkait dengan peranan dari kecapi itu sendiri yang seolah berperan
sebagai ibu.

Dalam konteks kehidupan masyarakat Sunda, peranan seorang ibu sangat
besar, di antaranya sebagai pengatur ekonomi rumah tangga, pembimbing
anak-anak, dan pendamping/pendorong bagi kemajuan suaminya. Oleh
karena itu, dalam konsep pemikiran orang Sunda, kedudukan seorang ibu
sangat dihormati, dan karena kedudukannya ini maka perempuan
dimitoskan sebagai "penguasa" seperti tampak pada mitos Dewi Sri dan
Sunan Ambu.

Masyarakat Sunda lama (pramodern) yang mata pencahariannya berladang
memiliki pola berpikir dualisme secara paradoks. Dari pola berpikir
dualisme yang paradoks ini melahirkan konsep berpikir pola tiga yang
dapat dibuktikan melalui artefak-artefak budaya Sunda, seperti tampak
pada bentuk kujang, bangunan rumah, letak sungai, dan sebagainya.
Melihat fenomena seperti ini, penulis merasa tertarik untuk mencoba
melihat apakah kacapi indung khususnya, dan tembang sunda cianjuran
umumnya, juga dapat mencerminkan pola tiga?

Silogisme

Sebagaimana telah disampaikan di muka bahwa kacapi indung (dulu
disebut kacapi pantun atau kacapi parahu) adalah produk budaya lama
yang pada awalnya digunakan dalam pantun Sunda. Pantun Sunda dapat
diperkirakan sudah lahir sebelum abad ke-15 M. Dalam naskah kuno
Sanghiyang Siksa Kandang Karesian (1518) yang dikutip oleh Nia Dewi
Mayakania, istilah pantun sudah disebutkan, yaitu dengan ungkapan
sebagai berikut: "hayang nyaho di pantun ma: Langgalarang,
Banyakcatra, Siliwangi, Haturwangi: prepantun tanya" (bila ingin
mengetahui pantun: Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi, Haturwangi:
tanyalah juru pantun) (Mayakania, 1993: 62). Dapat diduga jenis
kesenian ini sudah ada sebelum abad ke-15 Masehi.

Oleh karena pantun Sunda sudah lahir sejak sebeum abad ke-15 Masehi,
maka kacapi parahu termasuk produk budaya Sunda lama yang kelahirannya
tidak jauh berbeda dari pantun. Pada masa sekitar abad ke-15,
masyarakat Sunda hidup dengan cara berladang. Masyarakat ladang hidup
dengan menanam, memelihara, dan mengembangkan padi dan tanaman
lainnya. Menurut Jakob Sumardjo, obsesi masyarakat ladang yaitu
"menghidupkan".

Bagaimana kehidupan dapat terus dipelihara? Mereka berusaha
mengawinkan pasangan kembar oposisi yang saling bertentangan, tapi
saling melengkapi. Dari perkawinan, kehidupan yang baru bisa muncul.
Tanaman padi dapat terus hidup kalau ada "perkawinan" antara langit
dan bumi. Langit mencurahkan hujannya kepada tanah yang kering. Basah
itu asas perempuan dan kering asas lelaki. Perkawinan antarkeduanya
akan menciptakan entitas ketiga, yakni kehidupan di muka bumi. Langit
di atas, bumi di bawah, dan kehidupan muncul di tengah-tengah langit
dan bumi. Ketiga dunia ini merupakan satu kesatuan yang membuat
kehidupan ini tetap ada (Sumardjo, 2006: 72).

Dasar kepercayaan kosmologi manusia peladang ini menjadi landasan cara
berpikirnya untuk semua hal, yakni pola tiga. Untuk lebih jelasnya,
lihat kutipan berikut ini menurut hasil penelitian Jakob Sumardjo.

Pola tiga bertolak dari kepercayaan dualisme antagonistik segala hal.
Misalnya, langit di atas, bumi di bawah; langit basah, bumi kering;
langit perempuan, bumi laki-laki; langit terang, bumi gelap. Keduanya
terpisah dan berjarak. Pemisahan itu tidak baik karena akan
mendatangkan kematian. Pemisahan segala hal yang dualistik
antagonistik harus diakhiri, yakni dengan mengawinkan keduanya. Hidup
itu dimungkinkan karena adanya harmoni. Syarat hidup adalah adanya
harmoni dari dua entitas yang saling bertentangan tetapi saling
melengkapi (Sumardjo, 2006: 73).

Untuk memperjelas fokus tulisan ini, maka perlu dibangun silogisme
sebagai berikut.

Premis 1: Masyarakat ladang adalah masyarakat pramodern yang memiliki
dasar pemikiran kosmologis pola tiga.

Premis 2: Kacapi pantun atau kacapi indung adalah produk budaya dari
masyarakat ladang.

Simpulan: Kacapi pantun atau kacapi indung mengandung dasar pemikiran pola tiga.

Berdasarkan silogisme di atas, maka apakah "pola tiga" sebagai dasar
pemikiran masyarakat Sunda pramodern masih tercermin dalam wujud
kacapi indung, atau tidak ada.

Pandangan mitologi

Kacapi indung adalah jenis alat musik berdawai (chordophone) berbentuk
bar zither yang digunakan untuk mengiringi vokal tembang sunda
cianjuran. Kacapi indung memiliki delapan belas utas dawai. Pada
bagian ujung sebelah kanan dan kiri kacapi indung terdapat bentuk
setengah lingkaran yang menyerupai sanggul (gelung). Pada bagian bawah
kacapi indung terdapat lubang resonator yang berfungsi sebagai
pengeras bunyi. Di samping itu, lubang resonator juga berfungsi
sebagai jalan masuk untuk mengikatkan dawai ke bagian ujung pureut.
Sementara di tengah-tengah bagian depan kacapi indung terdapat delapan
belas pureut untuk menyetem nada dengan cara memutarkan pureut
tersebut ke arah kanan atau kiri. Berdasarkan seluruh uraian di atas
maka dapat dinyatakan bahwa silogisme sebagaimana yang telah
disampaikan sebelumnya dapat dibuktikan kebenarannya. Dengan demikian,
kacapi pantun atau kacapi indung sebagai produk budaya masyarakat
ladang yang mencerminkan pola tiga dapat terbukti kebenarannya. (Heri
Herdini, Jurusan Karawitan STSI Bandung)***

cite: http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=76604

Kirim email ke