salam
nuhun tos posting ieu tulisan.
dibaca nepi ka beres, meuni waas nyawang mangsa baheula.
tuluy ngalamun, ari barudak ayeuna masih keneh resepa mintonkeun kaulinan 
kampung?
nu karasa ku didieu... nalika maenkeun kaulinan lembur. karas tingkat kreative 
jeung imajinasi uing maen dina eta kaulinan...

sugan we panggih deui ... mun balik ke lambur. hhehhe
da didieu mah moal bisa oray-orayan,,,,

salam
ti nu jauh

--- On Fri, 5/22/09, mh <[email protected]> wrote:

From: mh <[email protected]>
Subject: [Urang Sunda] KAULINAN - Kaulinan Barudak
To: "Ki Sunda" <[email protected]>, "Baraya Sunda" 
<[email protected]>, "Urang Sunda" <[email protected]>
Date: Friday, May 22, 2009, 7:30 PM











    
            
            


      
      Etnopedagogi Dalam "Kaulinan Barudak"



Arus globalisasi laksana air bah, terus menggerus dan menjebol

langsung pada perubahan perilaku dan kebiasaan masyarakat. Akibatnya,

masyarakat kita termasuk salah satu yang tidak bisa berbuat banyak,

terutama menimpa dunia anak-anak. Anak-anak kita sedang kehilangan

dunianya.



Lontaran keprihatinan itu muncul dari para orang tua, pendidik serta

pemerhati dunia anak-anak, setelah mengamati perilaku kehidupan

anak-anak sekarang dalam bermain, sangat lain dengan pola kehidupan

orang tua mereka semasa kanak-kanak. Menurut pengamatan dan

penilaiannya, permainan anak-anak sekarang ini tidak mendidik dan

cenderung ke arah sikap yang konsumtif dan individualistis.



Anak-anak tempo dulu sangat tertantang oleh alam dan lingkungan

hidupnya berada. Mereka mampu memanfaatkan apa yang ada di

lingkungannya. Sebagai akibatnya, mereka harus kreatif, selalu siap

menghadapi tantangan dan rintangan yang muncul setiap saat.



Menurut Abdulah Mustafa ("PR",24/4/97) , dunia anak-anak, termasuk

fantasi, imajinasi, serta tantangan-tantangan kreativitasnya,

merupakan modal yang sangat vital terhadap kemungkinan terbentuknya

suatu kepribadian seorang manusia secara utuh. Jika kepribadian

seorang manusia nantinya diterima sebagai hasil sebuah proses, maka

bahan dasarnya adalah dunia anak-anak itu. Bagaimana format yang akan

terbentuk nanti, sangatlah bergantung pada bahan dasarnya. Maka,

jangan sepelekan dunia anak-anak.



Bagi anak-anak yang dibesarkan dalam kultur Sunda tempo dulu, sangat

banyak tersedia sarana bermain bagi mereka. Bahkan sejak pagi hingga

malam hari, anak laki-laki dan anak perempuan memiliki jenis permainan

sendiri-sendiri. Ada gatrik dan sorodot gaplok untuk anak laki-laki,

dan congkak dan bekles untuk anak perempuan, semua itu umumnya

dimainkan pada siang hari.



Di malam hari pun, terutama jika bulan sedang purnama, anak-anak masa

lalu tidak pernah melewatkan diri dengan tidur sore-sore. Mereka

sangat terbiasa dan antusias untuk bermain dan bernyanyi dengan penuh

kegembiraan hingga larut malam di halaman. Ada yang bermain ucing

kalangkang, galah, pakaleng-kaleng agung, dan sebagainya, tanpa

khawatir berisik dan mengganggu orang tua. Orang tua masa lalu juga

biasanya tidak tidur sore-sore karena mereka juga terus bekerja dan

berkarya atau mengobrol sampai larut malam.



Umumnya dalam permainan (kaulinan barudak) yang sifatnya rekreatif itu

sangat bertautan dengan kakawihan barudak. Antara kaulinan dan

kakawihan itu merupakan dwitunggal. Kaulinan dan kakawihan barudak

Sunda, selanjutnya disebut KKBS, ternyata memiliki kearifan lokal yang

luar biasa. Dalam KKBS itu terkandung hal-hal positif, seperti

pemupukan sifat kebersamaan, kreativitas ataupun kecintaan terhadap

alam dan lingkungan. Permainan oray-orayan, misalnya, yang erat dengan

kakawihan itu ternyata sarat dengan nilai-nilai kebersamaan karena

dalam bermainnya harus melibatkan lebih dari lima orang.



Dalam permainan ini anak-anak berbaris, masing-masing anak memegang

ujung baju temannya dan berjalan meliuk-liuk sambil mendendangkan

lagu: "Oray-orayan. Orang naon? Orang bungka! Bungka naon? Bungka

Laut! Laut naon? Laut dipa! Dipa naon? Di pandeuri!

kok...kok... kok...!" Setelah berakhir lagu ini maka riuh rendahlah

suara anak-anak. Ada yang tertawa cekikikan, menjerit, dan sebagainya

karena dalam permainan ini, sang kepala ular harus menangkap ekornya

atau anak pada barisan paling belakang.



Contoh lain bagaimana pautan antara kaulinan dan kakawihan, dalam

konteks folklor yang disebut dengan play rhyme, adalah huhuian (ucing

hui). Permainan ini dilakukan oleh sejumlah anak, biasanya lebih dari

lima orang. Pertama-tama harus menentukan "ucing", yang bertugas

mencabut hui (ubi), dengan cara hompimpah atau cingciripit. Melalui

hompimpah, anak-anak mengayunkan tangan sambil melantunkan sebuah

lagu: "Hompimpah kaliwahon dodol jebréd, saha nu éléh, éta jadi

ucing!" Ketika suku kata -cing, anak-anak mengangsurkan tangan

bersamaan. Tahap pertama dicari mana yang terbanyak, apakah tangannya

tertelungkup atau terbuka. Pihak yang terbanyak lulus dalam tahap

pertama, sisanya kembali kembali mengayunkan tangan, lalu kembali

bersama mengangsurkan tangan ke depan. Sampai akhirnya tinggal satu

tangan yang berbeda, maka dialah yang menjadi ucing.



Selain dengan hompimpah, bisa dilakukan dengan cara lain, yaitu

cingciripit. Semua anak meletakkan telunjuknya pada telapak tangan

salah seorang anak yang juga ikut undian, sambil menyanyikan lagu:

"Cingciripit tulang bajing kacapit, kacapit ku bulu paré, bulu paré

méméncosna, jol pa Dalang mawa wayang jék-jrék nong!" Ketika akhir

lagu, telapak tangan yang terbuka itu akan menangkap/menjepit, maka

hap! Anak-anak harus terampil menarik telunjuknya. Bila telat, akan

tertangkap/terjepit tangan si pengundi itu, dialah yang menjadi ucing.



Setelah terpilih ucing, permainan huhuian ini dilanjutkan dengan

menentukan seorang "pamingpin". Anak yang lainnya saling berebutan

berbaris di belakang sang pamingpin sambil memeluk erat pinggang sang

pamingpin. Tangan sang pamingpin memegang sebuah pohon atau sebuah

tonggak kuat sambil jongkok atau duduk. Setelah semua anak-anak

berpegangan pada pinggang temannya, kemudian si ucing yang berperan

sebagai "pencabut hui (ubi)" mulailah bernyanyi sambil mencolek dengan

telunjuk atau memukul (secara halus) kepala anak yang berbaris dengan

kepalan tangan.



"Kelenang-kelené ng samping konéng, keledat-keledut samping butut/

Kurusak-korosak samping ruksak, kuruwak-korowé k samping sowék"



Selesai mendendangkan lagu tersebut, terjadilah dialog antara ucing

dengan sang pamingpin.



+ "Heey, urang lembuuuur, aya nini jeung aki? (ucing)



- "Euweuh! Keur nyaba ka kota!" (ujar sang pamingpin)



+ " Ari éta naon nu tingjarentul?



- "Hui!!!!!!!! !!!"



+ "Meunang diala?"



- "Hempék wé alaaa, ari butuh mah!"



Ketika anak (barisan bagian ekor/belakang) akan dicabut/ditarik oleh

ucing, maka ramailah suara jeritan anak-anak dengan penuh kegembiraan.

Akan lebih seru lagi manakala si ucing "pencabut ubi" dengan sekuat

tenaga mencoba menarik anak-anak dengan sekuat tenaga mempertahankan

pelukannya, agar tidak terlepas dari ikatan teman-temannya. Nah, jika

sudah terlepas dari barisan, anak-anak itu kemudian berlari menjauh si

ucing sambil tertawa dengan suka ria. Anak-anak berteriak kepada

temannya:"linghasan euy ucingna, ulah dilindeukaaa. .......n! "



Meskipun jenis maupun bentuk permainan di atas sangat sederhana,

tetapi secara tidak langsung mengandung makna yang sangat berguna

terutama bagi pemupukan sikap mental anak-anak. Dengan jenis permainan

tersebut, anak-anak bisa menikmati kegembiraan hidup tanpa harus

dibeli oleh nilai rupiah. Selain itu, tampak pula sikap kebersamaan

dan rasa solidaritas anak-anak dalam bermain, hampir dapat dipastikan

jauh lebih komunikatif satu sama lainnya.



Dunia Anak yang Hilang



Dunia seperti itulah yang sekarang sudah berangsur-angsur hilang dan

mungkin hanya menyisakan beberapa permainan yang kini terseok-seok

dalam mempertahankan eksistensinya.



Maka bisa dipastikan bahwa faktor-faktor hilangnya KKBS pada saat

sekarang ini disebabkan oleh ketidaktahuan si anak, sehingga menjadi

penghambat berkembangnya permainan tradisional baik di kalangan

masyarakat atau anak itu sendiri. Selain itu, kurangnya peran serta

generasi sebelumnya terhadap anak-anak di masa sekarang. Orang tua

cenderung tidak mau ambil pusing. Kalaupun ada perhatian, orang tua

memilih permainan yang lebih praktis, instan, dan serba dibeli.



Dunia anak-anak sekarang ini umumnya merupakan dunia yang pasif.

Sebagian waktu senggang mereka yang seharusnya dipakai untuk bermain

bersama (bersosialisasi) , banyak dihabiskan dengan bermain PS2, game

watch, video game, atau hanya nongkrong berlama-lama di depan TV.



Ketika seorang anak bermain game, biasanya jika dihampiri oleh

temannya akan merasa terganggu karena dalam bermain alat itu

memerlukan konsentrasi. Akibatnya anak-anak lebih egois dan

individualistis. Mereka benar-benar menjadi objek, dalam arti bukan

sebagai pelaku yang aktif (subjek).



Melihat kondisi semacam itu, besar kemungkinan tercerabutnya anak-anak

dari dunianya yang asli, bahkan bisa dikatakan sebagai ancaman yang

sangat serius. Dalam transformasi budaya bisa menimbulkan konflik

kepribadian berupa ancaman kultural yang tidak bisa dianggap enteng.

Relakah kita membiarkan anak-anak kita generasi mendatang ditelan

begitu saja oleh kultur baru yang akan menjadi dunianya nanti?



Di antara fungsi-fungsi yang paling menonjol dari KKBS itu adalah

fungsi pedagogis yang mendidik seorang anak menjadi orang yang berjiwa

sportif. Misalnya permainan bertanding yang bersifat siasat berfungsi

untuk mengembangkan daya berpikir, atau yang bersifat keterampilan

fisik berfungsi mengembangkan kecekatan gerakan otot-otot (saraf

motorik).



Fungsi lainnya yakni fungsi rekreatif, sehingga dapat pula menjadi

semacam pelipur lara, atau untuk melepaskan diri dari segala

ketegangan perasaan, sehingga dapat memperoleh kedamaian jiwa.



Dari semua fungsi-fungsi KKBS itu, dapat diperas menjadi satu, yaitu

fungsi untuk menyiapkan anak-anak agar kelak dapat berpartisipasi

aktif dalam kehidupan masyarakat. (Dede Kosasih, Lektor Kepala pada

Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FPBS UPI Bandung)***



cite: http://www.pikiran- rakyat.com/ prprint.php? mib=beritadetail &id=76603


 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke