Nya ari soal kesan kana hiji perkara kaasup kota mah kumaha hulu masing-masing. 
bebas merdeka we. bisa dumasar kana pangalaman, selera, jeung sajabana.

yen SBY kitu nya mangga teh teuing. kaci. yen doel sumbang kitu, mangga. nu 
jelas uing cicing hirup neangan kipayah di bandung. hade goreng kota nu geus 
ngadidik uing bisa aya gunana keur nu lian. 

ngan soal ngadu-ngadu pendapat nu sipatna subjektif pribadi kitu tangtu ngan 
ukur waduk angsa.

keur pamungkas, ieu tulisan si uing ngeunaan bandung di muat kompas 

 20 September 2006

 --------------------------

Kota Tentara, Julukan Lain Bandung

Selama ini kota Bandung hanya dikenal dengan berbagai julukan standar seperti 
Kota Kembang atau Parijs van Java lengkap dengan pengertian positif dan 
negatifnya akibat pembangunan yang kurang terkendali. Bila dilihat dari tata 
kota sesungguhnya dan melihat sejarah perencanaan dan pembangunan kota Bandung 
oleh pemerintah kolonial Belanda, ada yang juga dapat ditambahkan, yaitu bahwa 
Bandung juga adalah Kota Serdadu.

          Dalam tata kota buatan Belanda yang masih tampak sekarang, yang 
justeru sangat dominan di kota Bandung adalah fasilitas atau instalasi militer. 
Berbagai instalasi militer terserak dari kawasan Lembang turun ke Gegerkalong 
lalu Hegarmanah di Utara sampai Gatot Subroto yang tembus ke Martanegara di 
Selatan. Sementara dari Barat, mulai dari Batujajar, Cimahi sampai kawasan 
Ujung Berung dan Cicalengka.

          Hampir seluruh instalasi militer sekarang di Bandung adalah 
peninggalan militer kolonial Belanda. Ciri khas desain kawasan militer adalah 
bentuk jalan yang serba lurus. Hal ini tampak di kawasan Gudang Utara, Aceh, 
Patrakomala, Gatot Subroto, yang  relatif berbeda dengan sekitar Gedung Sate 
yang konon mengikuti model tata kota renaisans seperti Paris.

 

Calon Ibukota Negara

Semua itu bermula dari rencana pemindahan ibukota Hindia Belanda dari Batavia 
atau Jakarta sekarang ke kota Bandung. Menurut Haryoto Kunto dalam Wajah 
Bandoeng Tempo Doeloe (1985), untuk mendukung pelaksanaan rencana Bandung 
sebagai ibukota kolonial Belanda, berbagai fasilitas vital pemerintah kolonial 
mulai dipindahkan seperti kantor pusat pos dan telekomunikasi (dahulu PTT), 
jawatan kereta api (dahulu SS), serta beberapa bagian dari departemen dan 
lembaga. Kepindahan ini juga diikuti oleh pihak perusahaan swasta.

          Sebagai calon ibukota negara (Hindia Belanda) tentu diperlukan 
dukungan militer. Untuk itu departemen peperangan (Departement van Oorlog) juga 
mulai melakukan pemindahan berbagai instalasi dan personil sejak tahun 1816 
sampai tahun 1920. Pabrik senjata Artillerie Constructie Winkel (sekarang 
Pindad) yang semula berada di Surabaya turut dipindahkan ke Kiaracondong dari 
tahun 1889 sampai 1920. Kepindahan pabrik senjata ini juga disertai dengan 
kepindahan pegawainya hingga di Bandung kemudian lahir komplek hunian baru yang 
diberi nama Babakan Surabaya.

          Stadion Siliwangi sekarang sangat boleh jadi dulunya juga adalah 
lapangan olahraga tentara kolonial Belanda, mengingat di kawasan itulah pusat 
berbagai instalasi militer termasuk perumahan tentara di sebelah timurnya yang 
masih dipakai sampai sekarang. Kawasan militer sekitar stadion Siliwangi 
memanjang hingga ke markas Kodam III Siliwangi sekarang.  Gedung bergaya Art 
Deco itu dulunya hanyalah rumah dinas panglima tentara Hindia Belanda (Paleis 
van den Legercomandant).   Adapun kantor Departement van Oorlog-nya sendiri 
adalah gedung yang sekarang gedung Kodiklat AD di depan taman Lalu Lintas Ade 
Irma Suryani Nasution. Gedung Jaarbeurs yang dahulu adalah gedung pameran 
tahunan, karena lokasinya yang satu komplek dengan gedung Kodiklat, sekarang 
menjadi bagian dari instalasi militer.

          Instalasi militer yang kemudian juga dibangun dan makin melengkapi 
julukan Bandung sebagai Kota Militer antara lain adalah Sekolah Staf Komando 
Angkatan Darat (Seskoad) di Gatot Subroto, kawasan yang sebelumnya hanya 
menjadi markas Kavaleri yang dibangun pemerintah kolonial Belanda. Angkatan 
Udara tentu berdekatan dengan bandara Husen Sastranegara dan Sulaeman di Kopo. 
Karena Bandung terletak di tengah pulau, angkatan laut hanya memiliki satu 
kantor saja di Ariajipang dengan nama khas angkatan laut yaitu pangkalan.

          Barangkali karena kelengkapan fasilitas dan instalasi militer itu 
-selain faktor sumberdaya manusia- ketika Indonesia merdeka, Bandung dapat 
dengan segera menjadi kota utama kelahiran kesatuan militer republik yang 
pertama dibangun dan kemudian menjadi  kodam Siliwangi.

 

Kondusif

Perkembangan kota Bandung yang pesat ke berbagai penjuru membuat seluruh 
instalasi militer yang di bangun zaman kolonial Belanda menjadi berada di 
tengah kota. Dengan dominannya instalasi militer dan berada di tengah kota 
dengan sendirinya membuat  kota Bandung relatif berada dalam kondisi yang 
senantiasa terkendali dan kondusif bagi segi keamanan dalam arti luas-tanpa 
menghambat pertumbuhan poleksosbud Bandung. Salah satu buktinya adalah pada 
masa awal reformasi. Ketika kota-kota lain dilanda berbagai kerusuhan, kota 
Bandung relatif aman. Kondisi kota Bandung demikian oleh sebagian pihak 
dianggap sebagai barometer terakhir stabilitas nasional. Bila Bandung masih 
aman, secara nasional negeri ini masih baik-baik saja. Sementara untuk keamanan 
kota sehari-hari -termasuk mengamankan pawai bobotoh Persib- polisi tetap 
berperan dominan.

          Kondisi yang harus dibenahi antara lain pengendalian perubahan 
lingkungan seperti dari pemukiman menjadi kawasan bisnis sebaiknya tidak 
membuat posisi instalasi militer menjadi terpinggirkan atau tampak tidak layak 
lagi berada di lokasi itu. Jalan di kawasan militer sebaiknya juga tidak 
menjadi jalan umum karena tentunya sedikit banyak akan mengganggu suasana. 
Meskipun mungkin sekali masyarakat merasa senang melewati kawasan kavaleri di 
sekitar Turangga karena dapat melihat kuda dan puluhan tank diparkir.

          Hal yang menarik dari keberadaan instalasi militer di kota Bandung 
adalah selain menciptakan kondisi yang relatif aman, juga hubungan dengan 
masyarakat terjalin dengan baik sesuai dengan fakta sejarah bahwa tentara lahir 
dari rakyat. Setiap musim kegiatan ospek di luar kampus, belasan truk militer 
dipenuhi mahasiswa berbagai kampus menuju kawasan kebun teh atau kawasan 
berkemah (camping ground) seperti Ranca Upas di Ciwidey. Selain sarana 
transportasi, perlengkapan militer lainnya seperti tenda peleton dan alat 
memasak juga dipakai dalam kegiatan itu. Sebuah contoh nyata hubungan mesra 
militer dan mahasiswa yang seharusnya juga dicontoh oleh seluruh eksponen 
bangsa. Kerjasama dalam bentuk bisnis juga tampak terjadi: beberapa gedung yang 
semula rumah dinas atau wisma milik tentara berubah jadi factory outlet, 
membuat kota Bandung menjadi kian semarak. Semoga itu semua tidak membuat 
tentara menjadi kekurangan fasilitas untuk tetap menjadi tulang punggung bangsa 
menjaga negara.

           


 


Kirim email ke