*Jumat, 29 Mei 2009 pukul 02:20:00*
Gunung Api Raksasa Ditemukan di Barat Bengkulu

JAKARTA -- Keluarga gunung berapi di Indonesia bertambah satu dengan
ditemukannya gunung api raksasa (*giant volcano*) di bawah laut. Gunung api
yang terdeteksi secara tak sengaja itu berada di perairan barat Pulau
Sumatra, sekitar 330 kilometer ke arah barat dari Kota Bengkulu di Samudra
Hindia.

Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam (PTISDA) Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Yusuf S Djajadihardja,
memperkirakan, gunung api ini memiliki ketinggian kurang lebih 4.600 meter
pada kedalaman 5.900 meter.

Puncak gunung api ini berada pada kedalaman 1.280 meter dari permukaan air
laut. ''Gunung api ini sangat besar dan tinggi, dengan lebar sekitar 50
kilometer,'' kata Yusuf saat jumpa pers di Jakarta, Kamis (28/5).

Tidak mustahil, terang Yusuf, gunung yang berlokasi di Palung Sunda itu
merupakan gunung tertinggi yang dimiliki Indonesia. Sebagai perbandingan,
pegunungan Jayawijaya di Papua hanya berketinggian sekitar 4.000 meter.

Menurut Yusuf, gunung ini memiliki kaldera, yang menandakan gunung tersebut
sebagai gunung api. Kendati, dia belum bisa memastikan tingkat keaktifannya.
''Bagaimanapun, gunung api bawah laut sangat berbahaya jika meletus,''
katanya.

Namun, bagaimana data lebih rinci gunung tersebut, Yusuf mengaku belum bisa
berkomentar banyak. ''Kami belum dapat memberi keterangan lebih lanjut,
karena perlu kajian lebih jauh.''

Gunung api bawah laut itu terdeteksi tanpa sengaja, ungkap Yusuf, ketika
BPPT, LIPI, Departemen ESDM, CGGVeritas, dan IPG (Institut de Physique du
Globe) Paris melakukan survei 'Studi Risiko Kegempaan dan Tsunami' di
perairan barat Sumatra.

Riset kelautan itu dilakukan dengan menggunakan metode Seismik Refleksi.
Survei dilakukan sepanjang Mei 2009 selama 20 hari menggunakan kapal seismik
Geowave Champion canggih milik CGGVeritas.

Selain mendeteksi adanya gunung api baru, survei juga berhasil memperoleh
gambaran profil struktur geologi dalam (*deep geological structures*) di
daerah perairan barat Sumatra. Salah satunya ditemukan sebuah patahan yang
amat luas di cekungan busur muka (*fore-arc basin*) di daerah perairan
Sumatra.

''Para peneliti memprediksi, mungkin saja patahan ini berpotensi tsunami
bila terjadi gempa dengan hanya enam skala Richter. Tapi, ini masih perlu
penelitian lebih lanjut,'' kata Yusuf.

Namun, dia mengakui, wilayah di perairan Sumatra memang rentan terjadinya
tsunami. Bahkan, katanya, terdapat sebuah ramalan ilmiah yang memperkirakan,
pada sekitar tahun 2030, di wilayah ini kemungkinan besar bakal terjadi
sebuah patahan mega besar.

Luas patahan di bawah laut itu, diprediksi, sebesar kota Padang. Walaupun
demikian, lanjutnya, sejatinya tidak ada satu orang ahli pun dapat
memastikan, kapan waktu terjadinya mega patahan itu.

''Semua ahli sepakat, dalam jangka panjang, mega patahan yang ditakutkan ini
pasti terjadi, suatu hari nanti,'' ungkapnya.

*Pertama di dunia*
Survei itu merupakan yang pertama di dunia karena menggunakan
*streamer*terpanjang yang pernah dilakukan oleh kapal seismik. Kapal
milik CGGVeritas
itu memang dilengkapi peralatan *multichannel* seismik refleksi dengan
panjang *streamer sercel sentinel solid* mencapai 15 kilometer.

''Ini merupakan survei pertama di dunia yang menggunakan streamer terpanjang
yang pernah dilakukan kapal survei seismik,'' ungkap Yusuf.

Tujuan dari survei tersebut, jelasnya, adalah untuk mengetahui struktur
geologi dalam, meliputi Palung Sunda, Prisma Akresi, Tinggian Busur
Luar (*Outer
Arc High*), dan Cekungan Busur Muka (*Fore Arc Basin*) di perairan Sumatra.

Berkenaan dengan metode survei, Yusuf menjelaskan, kurang lebih 1.700
kilometer *multichanel* seismik refleksi data dengan penetrasi mencapai
kedalaman 50 kilometer (*deep seismic*). Survei ini dilakukan selama Mei
2009, dengan menggunakan kapal seismik Geowave Champion.

Profesor dari IPG Paris, Satish Singh, menambahkan, tujuan dari survei ini
juga sebagai panduan untuk membuat peta risiko kegempaan dan tsunami.
Pemilihan wilayah perairan Sumatra, ungkapnya, memiliki alasan lantaran
wilayah Mentawai merupakan daerah yang terkunci secara tektonik.
''Wilayah ini, berpotensi besar untuk terjadinya gempa besar yang berujung
pada terjadinya tsunami,'' jelasnya.

Sejak kejadian gempa dan tsunami pada akhir 2004 dan gempa-gempa besar
susulan lainnya, banyak perubahan struktur di kawasan perairan Sumatra yang
menarik minat banyak peneliti asing.

Tim ahli dari Indonesia, Amerika Serikat, dan Prancis kemudian bekerja sama
memetakan struktur geologi. Bentuk penelitiannya untuk memahami secara lebih
baik, sumber dan mekanisme gempa pemicu tsunami menggunakan citra seismik
dalam (*deep seismic image*).

Indonesia memang sebagai salah satu negara pemilik gunung api terbanyak.
Gunung-gunung api di Indonesia adalah gunung-gunung api teraktif di *Pacific
ring of fire* atau cincin api Pasifik.

Daerah ini berbentuk seperti tapal kuda dan mencakup wilayah sepanjang 40
ribu kilometer. Daerah ini juga sering disebut sebagai sabuk gempa Pasifik.
Sekitar 90 persen dari gempa bumi yang terjadi dan 81 persen dari gempa bumi
terbesar, terjadi di sepanjang cincin api ini. eye





-- 
Aldo Desatura ® & ©
================
Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan Adalah pelaksanaan kata kata

Kirim email ke