Baraya, nu resep maca carita jaman bulukan, ieu aya situs nu
ngakhususukeun maneh,
ngabahas sajarah jaman Walanda di lembur urang. Ceuk nu ngokolakeunana cenah,
ieu situs ngahaja dijieun pikeun noong ulang sajarah Indonesia make
kacamata dua
pihak (Indonesia jeung Walanda).

Diantara eusina loba nu pakait jeung sajarah lembur urang, diantarana
dongeng Jalan
Braga.

Tong situsna di dieu: http://www.nederlandsindie.com/
mh
===========

Navigasi: Beranda / Java Bali Madoera / Jalan Braga, Dulu Karrenweg
Jalan Braga, Dulu Karrenweg

Redaksi | Maret 4, 2009
Jl Braga

Jl Braga

Sampai 1882 nama jalan ini adalah Karrenweg (jalan gerobak), merujuk
pada gerobak-gerobak kerbau yang membawa sayur-mayur dan kopi dari
desa-desa sekitarnya.

Gerobak-gerobak kerbau tersebut banyak berjejer di jalan yang saat itu
selalu becek, untuk menyetor sayur-mayur dan kopi di gudang-gudang
pengepakan kopi (koffiepakhuis) di sepanjang jalan itu. Karena
banyaknya gerobak-gerobak kerbau itulah orang Belanda terbiasa
menyebut Karrenweg (karren = gerobak-gerobak, weg = jalan). Sebagian
orang Belanda yang menguasai bahasa Melayu menyebutnya Pedatiweg.

Jalan tersebut merupakan salah satu jalan tertua di Bandoeng, kedua
sisinya banyak rumah-rumah dengan arsitektur gaya Belanda.

Awal abad 20 dimulailah modernisasi. Gemeentebestuur (pemerintah
kotapraja) Bandoeng mengeluarkan aturan bahwa setiap rumah dan toko di
jalan itu harus didisain dalam gaya Barat termoderen era saat itu.

Jadilah Bragaweg (Jalan Braga), dengan pertokoan bergaya Eropa paling
moderen di seluruh Nederlands-Indiƫ. Bukan hanya itu, toko-toko di
sana saat itu juga menyediakan produk-produk impor bermerk dari
luarnegeri sangat berlimpah. Di jalan itu terdapat antara lain
distributor Chrysler, Plymouth dan Renault. Toko juwelier (perhiasan)
dengan arloji bermerk, rumah mode, toko buku, dan restauran.

Semuanya selera kelas tinggi di masa kolonial saat itu. Di situlah
para pengusaha perkebunan yang umumnya tinggal di luar kota Bandoeng
turun belanja. Juga para ningrat dan bangsawan Soenda yang kaya.

Di sisi jalan itu juga berdiri bangunan-bangunan karya arsitek R.A. de
Waal, Benink, Brinkman, Gmelig Meyling, Bel-Kok, Piso dan Schoemaker
Bersaudara (Wolff Schoemaker dan Richard Schoemaker).

Pada beberapa sisi muka bangunan itu karya Schoemakers mudah dikenali
dengan ciri khas Kalakop. Masa lalu yang elegan itu hingga kini masih
unjuk gigi di beberapa bagian.

Namun Jalan Braga bukan lagi pusat pertokoan utama di Bandoeng. Kini
jalan ini tidak terlalu ramai, dengan toko-toko buku dan pertokoan
kecil di kedua sisinya. Di kedua ujungnya ada restauran dan tempat
hiburan yang agak kurang terawat. (Instituut voor Nederlandse
Geschiedenis en Onderwijsbank)

Cite: http://www.nederlandsindie.com/2009/03/04/jalan-braga-dulu-karrenweg/

Kirim email ke