Punten.....

Pami raribut wae masalah udud,kunaon atuh lain pabrik uduna wae anu di tutup 
kupamarentah?
Kunaon ngan raribut dihandap wae,sanes ngusulkeun ka pamarentah menta eta 
pabrik teh ditutup teu meunang produksi udud deui?
Saderek sadayana nu ku abdi di hormati....
Lamun ceunah pabrik pabrik udud eta di tutup,kumaha atuh nasib baraya baraya 
urang nu gawe di pabrik udud eta?
Saha nu arek peduli ka maranehna.....? 
Ayeunamah ulah pasini masalah udud,karna masalah udud teh nyangkut kana 
patuangan baraya baraya urang oge.
Aya anu nyararien jeung gawe di pabrikna,aya nu tukang ngirimna,aya anu 
dagangna,kumaha coba lamun teu aya nu ngarudud?
Sabaraha rebu jalema nu teu tiasa ngisi patuanganna?
Punten iyeu mah...punten...

  ----- Original Message ----- 
  From: mh 
  To: Urang Sunda 
  Sent: Thursday, July 02, 2009 5:01 AM
  Subject: [Urang Sunda] Fwd: Re: Udud surudud deui bae?





  ---------- Forwarded message ----------
  From: Rahman <[email protected]>
  Date: 2009/7/2
  Subject: [Baraya_Sunda] Re: Udud surudud deui bae?
  To: [email protected]

  Rokok
  70 Persen Perokok Menengah Bawah
  Rabu, 1 Juli 2009 | 03:48 WIB

  Jakarta, Kompas - Saat ini lebih dari 70 persen dari 60 juta perokok
  di Indonesia adalah mereka yang berasal dari golongan ekonomi menengah
  ke bawah.

  "Ada lingkaran setan antara merokok, kemiskinan, malanutrisi, dan
  kebodohan. Anak-anak juga menjadi korban. Rokok itu pintu gerbang
  kehancuran bangsa," kata mantan Menteri Kesehatan Prof Farid Anfasa
  Moeloek saat peluncuran buku berjudul Tembakau: Ancaman Global di
  Jakarta, Selasa (30/6).

  Buku yang diterjemahkan dari karya John Crofton dan David Simpson ini
  disunting oleh Muherman Hasan, dokter ahli paru- paru. John Crofton
  adalah tutor dari Muherman Hasan selama 20 tahun untuk upaya
  pemberantasan tuberkulosis (TB).

  Kini konsumsi rokok di Indonesia menduduki peringkat ketiga dunia
  setelah China dan India. Semula Indonesia nomor lima. Tidak heran jika
  lebih dari 60 juta orang membelanjakan uangnya untuk membeli rokok.
  Mereka rata-rata menghabiskan 11 batang rokok per hari.

  Secara nasional belanja bulanan untuk rokok pada keluarga perokok
  menempati urutan terbesar kedua (9 persen) setelah beras (12 persen).

  Yang lebih memprihatinkan, dari Survei Sosial Ekonomi Nasional
  (Susenas) 2006, kelompok keluarga miskin terbukti mempunyai proporsi
  belanja rokok yang lebih besar (12 persen) daripada kelompok terkaya
  yang hanya 7 persen.

  "Belanja bulanan rokok pada keluarga miskin tahun 2006 setara dengan
  15 kali biaya pendidikan dan sembilan kali biaya kesehatan. Jumlah
  tersebut setara dengan 17 kali pengeluaran untuk daging, dua kali
  lipat untuk membeli ikan, serta lima kali lipat untuk beli susu dan
  telur," kata Tulus Abadi, anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga
  Konsumen Indonesia (YLKI).

  Survei tahun 1999-2003 pada lebih dari 175.000 keluarga miskin di
  perkotaan menunjukkan, tiga dari empat kepala keluarga (78,8 persen)
  adalah perokok aktif. Belanja mingguan membeli rokok menempati
  peringkat tertinggi (22 persen), jauh lebih besar daripada pengeluaran
  makanan pokok beras (19 persen). Sementara itu, pengeluaran untuk
  telur hanya 3 persen dan ikan hanya 4 persen.

  Perilaku merokok kepala rumah tangga berhubungan erat dengan gizi
  buruk, yaitu prevalensi anak sangat kurus, berat badan rendah, dan
  anak sangat pendek.

  "Studi sejenis pada 2000-2003 pada lebih dari 360.000 rumah tangga
  miskin di perkotaan dan pedesaan membuktikan kematian bayi dan anak
  balita lebih tinggi pada keluarga yang orangtuanya merokok daripada
  yang tak merokok," ujar Tulus. (LOK)

  Share on Facebook

  ------------------------------------

  http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
  http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda

  [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]Yahoo! Groups Links



  

Kirim email ke