http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/07/11541548/studi.teknis.dilakukan. akhir.2009
Situs Jatigede Studi Teknis Dilakukan Akhir 2009 Selasa, 7 Juli 2009 | 11:54 WIB Bandung, Kompas - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat akan melakukan studi teknis terhadap 40 situs dengan 74 obyek benda cagar budaya di Sumedang yang keberadaannya terancam pembangunan Waduk Jatigede. Studi teknis dimulai akhir tahun 2009 dan ditargetkan selesai tahun 2011. "Peninggalan di Situs Jatigede beragam. Ada yang berasal dari zaman prasejarah dan sejarah. Bentuknya makam-makam, candi, punden berundak, serta di beberapa tempat ditemukan arca-arca. Lokasinya ada di lima kecamatan, yaitu Darmaraja, Jatigede, Jatinunggal, Wado, dan Cisitu," kata Ketua Satuan Tugas Penanganan dan Percepatan Relokasi Situs Cagar Budaya Nunun Nurhayati di Bandung, Senin (6/7). Waduk Jatigede adalah proyek besar pemerintah pusat yang dirintis sejak tahun 1970, tetapi pembangunannya baru dimulai tahun 2008. Waduk ini akan menggenangi lima kecamatan dan 30 desa. Waduk diharapkan mengairi 100.000 hektar sawah di daerah sekitarnya, termasuk menjadi daerah penyangga dan pencegah banjir di wilayah Cirebon dan Indramayu. Nunun mengatakan, studi ini dilakukan untuk mencari alternatif pemindahan situs ke daerah relokasi seluas 3 hektar di Trisi, Linggajaya, Cisitu, Sumedang. Tak melanggar Dikatakan, situs yang bisa dipindahkan kemungkinan besar tidak ada kendala. Hal terpenting adalah membuka dialog dengan warga di sekitar situs. Namun, situs yang tidak bisa dipindahkan kemungkinan besar hanya dibuat replika di tempat relokasi. Situs itu antara lain di Tembong Agung dan mata air di Situs Cipawenang. "Hal ini tidak melanggar aturan. Mengacu Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, situs yang terkena dampak pembangunan selayaknya diupayakan tindakan penyelamatan, di antaranya pencarian data lengkap dan pembuatan replika beserta miniaturnya," katanya. Studi teknis juga dilakukan untuk mengidentifikasi bentuk situs dan pendekatan ritual masyarakat di lokasi itu. Alasannya, saat ini belum banyak penelitian yang dilakukan terhadap situs-situs di Jatigede. Sejarawan Universitas Padjadjaran, Nina Herlina Lubis, mengatakan, bila benar-benar ingin dipindahkan, hendaknya berhati-hati. Di antaranya melakukan kajian mendalam tentang motif pembangunan dan kedekatan situs dengan masyarakat. (CHE)

