Dua taun ieu, kuring geus ngiluan milih opat kali, taun tukang, milih walikota 
Bandung jeung gubernur Jabar, taun ieu Pileg jeung Pilpres. Ngalaman suasana 
kampanye oge opat kali. Anehna, kuring lain tambah sumanget ku suasana ieu teh, 
tapi malah beuki "frigid" alias "dingin" ...hehehe, bakating ku bosen meureun. 
Dina palah-pilih oge sangeunahna we, teuing milih sacara emosional atawa milih 
sacara rasional, nu penting ngiluan we.

Sigana nu ngarasa bosen lain kuring wae, da geuning aya artikel Putu Setia dina 
kolom Tempo interaktif, nu nyaritakeun soal kabosenan ieu:

Jenuh
Putu Setia
Tempo Interaktif, Sabtu, 11 Juli 2009 | 22:53 WIB

Hasil hitung cepat pemilihan presiden membuat saya kaget. Bukan karena 
SBY-Boediono menang, melainkan lantaran JK-Wiranto kalah telak. Sebelumnya, 
saya mengira suara JK-Wiranto tak buruk amat. Ini karena dukungan gencar 
tokoh-tokoh bisnis, pimpinan organisasi keagamaan, sampai budayawan.

Saya tak tahu apa yang salah. Maklum, bukan peneliti. Dalam ranah agama, 
hubungan umat dengan tokoh agamanya biasanya erat banget. Kalau ulama atau 
pendeta menyebut sesuatu itu menyimpang dan jangan dilakukan, umat mengikutinya 
dengan patuh. "Tapi tidak dalam politik praktis," kata sahabat saya, yang 
menyebut dirinya peneliti masalah sosial. "Begitu agama dikaitkan dengan 
politik, yang hancur bukan hanya tokoh itu, tapi apa yang disarankan tokoh itu 
juga langsung dicurigai dan ditolak. Padahal boleh jadi saran tokoh itu 
sebelumnya sejalan dengan umat."

Saya tak berkomentar ketika sahabat saya itu menghubungkan hal ini dengan 
kecilnya suara JK-Wiranto. Namun, saya setuju, agama hendaknya jangan dibawa ke 
masalah politik. Berdasarkan pengalaman selama ini, partai politik yang 
berbasis agama tak pernah menang mutlak. Mungkin karena sejarah bangsa ini 
dibangun berdasarkan kebinekaan etnis serta keberagaman agama, dan masyarakat 
masih ingin mempertahankan sejarah. Jadi sebaiknya pemimpin ormas keagamaan 
tetap dalam wilayah netral. Kasihan umatnya dan kasihan pula partai politik 
yang didukung itu--baik dukungan nyata maupun "bisa diduga"--yang hanya 
mendapat "pepesan kosong".

Yang saya ketahui dari hasil pemilihan presiden kali ini adalah ada kejenuhan 
yang tinggi di masyarakat pedesaan terhadap "pemilihan". Ini bukan penelitian 
ilmiah, hanya pengamatan dari ngobrol kanan-kiri karena keseharian saya lebih 
banyak di pedesaan. Masyarakat jenuh dengan "pemilihan". Ada pemilihan kepala 
desa, pemilihan umum legislatif, pemilihan bupati, pemilihan gubernur, 
pemilihan presiden. Di setiap pemilihan bertabur bendera, umbul-umbul, dan yang 
paling membuat orang jenuh--ditambah muak--adalah janji-janji. Suara bising ini 
membuat masyarakat terganggu.

Pemilihan presiden yang lalu bisa jadi puncak kebisingan. Dalam gaduh 
kebisingan, masyarakat melecehkan janji-janji, termasuk yang disebut "kontrak 
politik". Bahan pokok murah, pupuk gratis, petani langsung sejahtera, nelayan 
jadi kaya, pedagang diberi modal, uang semiliar rupiah untuk satu desa, laptop 
untuk mahasiswa. Semuanya belum dicerna, masyarakat sudah mencibir duluan: "Itu 
lagu lama minta dukungan. Kalau saja janji itu dilaksanakan, masyarakat sudah 
sejahtera, bukankah bupati dan gubernur sudah terpilih?"

Semakin banyak tokoh mengumbar janji, semakin ditolak, karena kepercayaan 
terhadap tokoh politik sudah runtuh. Tentu, ini bukanlah kesalahan sang tokoh 
yang baru, melainkan kesalahan beruntun tokoh-tokoh sebelumnya. Dari sudut ini 
bisa dimengerti kenapa SBY-Boediono menang mutlak. Masyarakat sepertinya tak 
ingin ada tokoh "yang coba-coba". Kepopuleran SBY sudah tertanam jauh di hati 
masyarakat, ditambah lagi negeri yang "aman-aman saja tanpa gejolak". Bagi 
orang desa, semakin SBY diserang, semakin mantap didukung karena para 
penyerangnya juga sudah dikenal. Ada komentar yang saya dengar, maaf, berbau 
kampungan: "Dipasangkan dengan sandal jepit pun SBY pasti menang."

Meski saya juga yakin SBY menang--saya tak mencontreng karena bepergian--saya 
tak menduga suaranya begitu besar. Jika betul menang satu putaran, ini bisa 
mencairkan kejenuhan di masyarakat. Yang jelas, JK tetap saya kagumi, beliau 
kesatria sejati: kalah tanpa dendam.


Kirim email ke