Garut Summit 2009 Membangkitkan Ikon yang Terlupakan Dua domba dengan lincah meng-adu ketangkasan masing-masing di tengah riuh tepuk tangan dan sorak sorai penonton yang hadir di Alun-alun pendopo Kabupaten Garut siang itu. Sedikit keganjilan tampak pada adu ketangkasan itu. Selain tubuh kedua domba yang lebih besar daripada domba adu biasa, selama adu jajaten sama sekali tidak ada kontak fisik di antara keduanya. Namun entah kenapa, di akhir pertarungan salah satu domba tersungkur dan dinya-takan kalah.
Kendati demikian, penonton tampak puas menyaksikan tontonan di depan mereka. Bahkan pada saat domba pemenang menyeruduk si empunya domba yang kalah sampai terkapar di atas tanah, penonton justru malah terbahak-bahak. Tidak perlu heran, karena semua itu hanyalah skenario komedi teatrikal yang tengah dimainkan oleh para seniman Raja Dogar yang turut menyemarakkan Helar Garut Summit 2009, Minggu (19/7) lalu. Sama seperti atraksi seni tradisional pada umumnya, pertunjukan Raja Dogar diawali tarian yang disuguhkan oleh belasan ‘Kembang Desa’. Menyusul kemudian atraksi pencak silat dari enam jawara berkumis baplang yang mengenakan pangsi hitam, topi koboi hitam, dan kacamata hitam. Di tengah pertunjukan, skenario pun di mulai. Dua kubu jawara itu diceritakan mengalami pertikaian satu sama lain. Bentrokan pun tak bisa dihindari. Adu kesaktian berlangsung dalam kemasan komedi cukup menggelikan. Terlebih dengan hadirnya seorang wasit berpakaian loreng lengkap dengan peluit. Pertarungan berlangsung seimbang antara kedua kubu jawara itu. Kedua pihak sepakat menyelesaikan pertikaian dengan adu ketangkasan domba milik mereka masing-masing. Dikisahkan domba milik pihak antagonis memiliki bulu berwarna hitam, sedangkan domba protagonis berbulu putih. Keduanya bukanlah domba sungguhan, melainkan dua orang seniman yang mengenakan kostum domba layaknya barongsai. Setelah beberapa kali beradu fisik, pertarungan akhirnya pertarungan dimenangi oleh domba berbulu putih. Di akhir pertunjukan, para penonton yang puas, termasuk tamu undangan seperti Wakil Bupati Garut, Diky Chandra, tidak segan-segan memberikan saweran kepada domba putih. ** Tidak banyak hal menarik dalam acara yang mengikuti Konferensi Garut Summit 2009, sehari sebelumnya itu. Namun apresiasi seni di dalamnya cukup menarik minat pengunjung. Selain Raja Dogar, dua pertunjukan kesenian lain, Surak Ibra dan Lais juga turut meramaikan gelaran ini. Ketiganya merupakan atraksi seni khas Garut yang selama ini jarang dipertontonkan. Meski kental dengan adu ketangkasan domba yang menjadi ikon Garut, Raja Dogar ternyata belum banyak dikenal, baik oleh masyarakat luar maupun warga Garut sendiri. Wajar saja, kesenian yang memadukan empat unsur utama, musik, tarian, teatrikal, dan komedi ini baru tercipta sekitar lima tahun lalu. Sang pencipta, Entis Sutisna (52) dari Sanggar Bentang Pasundan mengatakan, Raja Dogar ia ciptakan sejak tanggal 18 Desember 2005 lalu. "Disebut Raja Dogar karena bentuk dan ukuran domba yang difigurkan lebih besar dari domba adu asli yang ada di Garut," ujarnya. Entis berharap, kesenian hasil karya dirinya itu bisa menjadi salah satu ikon Garut ke depan. "Garut kan terkenal dengan adu ketangkasan domba. Untuk mengangkat nama domba adu khas garut dan kesenian lain, saya ciptakan Raja Dogar," kata dia. Entis mengaku, konsep figur domba dalam pertunjukan Raja Dogar tidak jauh berbeda dari barongsai. "Domba divisualisasikan oleh manusia seperti barongsai. Tetapi barongsai figurnya tidak riil kalau domba itu riil," tuturnya. Ada dua pesan yang ingin disampaikan Entis dalam suguhan komedi teatrikal Raja Dogar. "Pesannya tidak semua masalah harus diselesaikan dengan adu jotos. Dalam setiap kehidupan selalu ada dua sisi, kebaikan dan kejahatan. Kejahatan yang dilambangkan domba hitam akan selalu dikalahkan oleh kebaikan yang dilambangkan domba putih," tutur dia. Raja Dogar, menurut Entis, sempat diberhentikan selama dua tahun dan baru muncul kembali tahun 2007. Dengan konsep yang semakin matang, tahun 2008 Raja Dogar dipertontonkan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan mendapat sambutan cukup baik. Entis bersama seluruh rombongan kini terus melakukan inovasi dalam segi permainan dan kostum untuk bisa berkompetisi dengan budaya masyarakat yang makin modern. "Selama ini budaya tradisional hampir ditinggalkan, lewat Raja Dogar diharapkan budaya lama bisa hidup kembali," ujar Entis. ** Sebagai acara yang bertujuan memperkenalkan potensi Kabupaten Garut, Helar Garut Summit 2009 berhasil mengapresiasi kesenian yang selama ini kurang dikenal masyarakat. Selain itu, potensi produk unggulan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) turut pula diperkenalkan. Sekitar 32 pengusaha kecil mulai dari produk kuliner hingga kerajinan meramaikan acara ini, termasuk produk andalan kerajinan akar wangi dan kulit yang sudah menjadi binaan Asgar Muda sebagai penyelenggara seluruh rangkaian acara tersebut. Garut Summit 2009 ternyata dinantikan para penggerak UMKM. Betapa tidak, selama ini promosi dan pemasaran menjadi kendala. Hal ini diakui hampir seluruh pengisi stand yang hadir. Salah satu stan yang menarik adalah produk kerajinan akar wangi yang memiliki potensi cukup besar untuk dijadikan andalan. Layaknya beras pandanwangi Cianjur, akar wangi hanya bisa tumbuh di tiga negara, Haiti, Jamaika, dan di Indonesia hanya bisa tumbuh di beberapa kecamatan di Garut. Salah seorang praktisi kerajinan akar wangi, Joana (38) mengatakan, sebelumnya akar wangi banyak dibuat kerajinan di Yogya. Sementara Garut hanya sebagai penghasil bahan mentah saja. "Saya lalu berpikir, kenapa Garut sebagai tempat asal akar wangi tidak memanfaatkan potensi ini," kata Joana yang memulai usaha kerajinan akar wangi Zocha sejak 1999 itu. Berkat ketekunannya, Joana kini membina sekitar seratus perajin. Meski awalnya terbentur masalah promosi dan pemasaran yang harus ia perjuangkan sendiri. Produk kerajinan Akar Wangi Joana kini sudah merambah ke seluruh Indonesia dan mancanegara seperti Singapura, Malaysia dan Arab Saudi. ** Menilik esensi dan tujuannya, acara sebesar Helar Garut Summit 2009 terbilang sepi pengunjung. Alun-alun pendopo Garut yang menjadi lokasi acara, tidak terlalu ramai dipadati pengunjung. Jumlah orang yang datang lebih sedikit dari pasar dadakan di Gasibu atau Sumber Sari, Kota Bandung. Ketua Panitia Helar Garut Summit, Shifa Mirandari mengatakan, promosi acara ini sebenarnya sudah maksimal. "Kita sudah membuat spanduk dan leaflet yang disebar sampai ke lokasi-lokasi strategis di Kota Bandung. "Mungkin kami kurang koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Garut, karena belum lama ini sudah ada Garut Festival 2009", kata Shifa. Kurangnya promosi memang sangat dirasakan. Di tempat strategis di Kota Garut seperti bunderan Tarogong atau jalan-jalan menuju pendopo Garut tempat acara itu digelar, tidak satu pun tampak spanduk besar terpampang sebagai penunjuk waktu dan lokasi acara tersebut. Bahkan, beberapa polisi dan masyarakat, saat ditanya mengaku tidak tahu ada acara tersebut. (Handri Handriansyah/"PR")*** Cite: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=90163 2009/7/29 mh <[email protected]>: > Karnaval Ribuan Domba Laga Dilirik MURI > Rabu, 29 Juli 2009 | 02:16 WIB > > GARUT, KOMPAS.com--Karnaval yang melibatkan 1.709 ekor domba laga di > Garut, Jawa Barat, Sabtu mendatang (15/8), dilirik Museum Rekor Dunia > Indonesia (MURI) untuk dicatat dalam buku rekor lembaga itu. >

