Ngabungbang bersama Nyi Ronggeng
Jum'at, 14 Agustus 2009

SELASA malam (11/8) Dusun Cimanggu Desa Batulawang. Pataruman, Banjar,
riuh rendah oleh suara bubunyian tradisional. Pertama yang terdengar
adalah upacara adat penyambutan gegeden yang menghadirkan Mang
Lengser, selanjutnya bebunyian lainnya yang beraroma tradisional.

“PR” mencatat bebunyian tradisional yang terdengar selanjutnya adalah
calung, pencak silat, dan gondang. Bebunyian itu terdengar bergantian
dengan dipandu pembawa acara yang mengaku bernama Ki Demang
Wangsafyudin, SH. Dalam “hajatan” itu beberapa kali terdengar Ki
Demang menyebut nama pupuhu Banjar dr. H. Herman Sutrisno, MM bersama
rombongan.



Sedang ada apakah gerangan? Tepat. Pada malam itu, di halaman Madrasah
Al-Ikhlas, juga depan rumah Ki Demang, tepatnya di RT 01 RW 01 Dusun
Cimanggu Desa Batulawang, Pataruman Banjar, berlangsung acara budaya
tahunan, “Ngabungbang”. Ngabungbang adalah kebiasaan orang Sunda buhun
beraktifitas di malam hari dalam sorotan sinar bulan.



“Ngabungbang adalah sebuah budaya Sunda  yang sudah dilupakan oleh
orang Sunda sendiri. Dalam rangka melestarikan seni itu kami sengaja
menyelenggarakan acara ngabungbang tiap tahun,” kata Ki Demang   di
sela-sela pagelaran yang ditonton ratusan warga Batulawang itu.

Ki Demang malam itu tampak sumringah. Bisa dipahami karena Walikota
Banjar di tengah kesibukannya hadir di tengah-tengah acara. Padahal
semula ada keraguan Walikota Banjar hadir, mengingat padatnya jadwal
yang bersangkutan di siang hari.



“Saya senang karena pengersa Walikota hadir. Terimakasih Pak Wali,
juga terimakasih politisi Banjar Pak Ganda,” katanya. Walikota Banjar,
malam itu memang didampingi tokoh Golkar Ganda selain sejumlah kepala
dinas Banjar. Mereka datang menggunakan bus milik Pemkot Banjar.



Semakin senang lagi hati Ki Demang karena Walikota Banjar dr. Herman
Sutrisno justru memberikan apresiasi positif terhadap acara
Ngabungbang tersebut. “Saya senang dengan acara ini dan memberikan
penghargaan kepada Ki Demang yang telah berusaha melestarikannya,”
katanya.

Herman bahkan meminta jajarannya untuk membantu Ki Demang agar pada
pelaksanaan Ngabungbang tahun depan Ki Demang tidak mengeluarkan biaya
sendiri. Harapannya, acara yang dimaksudkan untuk melestarikan seni
budaya itu tidak sampai mati.



Ia mengatakan, budaya Sunda sebenarnya ada, tapi jika dilihat budaya
itu seperti tidak ada. “Nah melalui acara ini, diharapkan kebesaran
budaya Sunda bisa terlihat kembali. Ya, mari kita bersama-sama
melestarikan budaya Sunda itu,” kata Herman.

Ditegaskannya, Kota Banjar saat ini sedang berupaya mencari cirri khas
budaya atau daerah. Jika menurut semua pihak acara Ngabungbang layak
jadi khas Banjar, boleh saja budaya itu diusulkan ke provinsi agar
disahkan menjadi cirri khas Kota Banjar.

Walikota Banjar itu tampak terpesona menyaksikan suguhan-suguhan
budaya tradisional Sunda itu. Beberapa kali ia bahkan memberikan tepuk
tangan tanda senang usai menyaksikan pagelaran seperti gondang, pencak
silat dan calung.



Ia juga tampak senang ketika pejabatnya yang juga “berdarah’ seniman
Bayu Soe membacakan sajak di tengah temaram lampu minyak dan petromak.
Dengan mengenakan pakaian serba hitam dan totopong, Bayu Soe yang juga
staf di Humas Pemkot Banjar itu berhasil membacakan beberapa sajak,
termasuk sajak yang menarik, “Paguneman Aki jeung Incuna.”

                                                        **

ACARA ngagondang terdiri dari beberapa tahapan yang menarik. Pertama
adalah menyambut menak nagara (Walikota Banjar dr. Herman Sutrisno dan
rombongan) dengan acara Payung Agung dan Lengser. Setelah acara
penyambutan, Walikota Banjar “diharuskan”  “nyawer” atau melemparkan
uang ke warga di tempat Ngabungbang. Masyarakat tampak antusias
menyambut saweran pimpinan Banjar itu.

Sebuah kidung selanjutnya disenandungkan Ki Demang, dilanjut dengan
cerita tentang Hikayat Batulawang dan berbagai  petuah yang disebut
“Sabda Kanjeng Dalem Pergaulan”.

Usai itu, barulah dilaksanakan pintonan-pintonan tradisional seperti
Gondang Buhun, musikalisasi puisi, pencak silat  dan pembacaan sajak
Sunda. Di tengah tengah acara Ki Demang juga berhasil menghidupkan
suasana dengan membacakan sajak spontan humor tentang kematian Mbah
Surip dan lagunya yang kesohot, Tak Gedong serta Tidur Lagi. Anak anak
yang memadati acara ngagondang di luar dugaan menimpali guyonan Ki
Demang itu.

                                                      **

ACARA puncak Ngabungbang adalah menonton Ronggeng Ibing. Sejatinya
Walkot Banjar akan sampai pada acara puncak. Namun karena Walikota
Banjar harus menyiapkan fisik untuk  acara pada Rabu (12/8), usai
acara makan,  dr. Herman dan rombongan sekira pukul 22.00 pulang ke
Banjar, menggunakan bus.

Ada rona kecewa pada wajah Ki Demang mengetahui pupuhu Banjar tidak
hadir pada cara puncak. Namun ia memahami kesibukan pupuhu Banjar itu.
Akhirnya ia merelakan acara ronggeng ibing tidak dihadiri Walkot
Banjar.

Semula, menurut “rundayan” acara, Walkot Banjar  akan  “diiringkeun”
oleh ratusan masyarakat menuju tempat ronggeng. Di tengah perjalanan,
akan dipintonkan musikalisasi puisi dari Engang, Kujang Yk, anak-anak
Banjar Yk, Galuh Rahayu dan  KPM Tasikmalaya. “Namun apa daya,” kata
seorang seniman.



Namun demikian, acara ronggeng gunung tetap dilaksanakan. Puluhan
bahkan ratusan masyarakat Batulawang turun ke arena menari, bergoyang
bersama para ronggeng. Ceria, senang dan mengasyikan. Acara
berlangsung sampai lewat tengah malam.

Hanya sayangnya, pada acara Ngabungbang itu bulan sedang tidak ada.
“Malam ini memang tidak ada bulan. Seharusnya acara digelar beberapa
waktu lalu yakni pada malam Nisfu Syaban saat bulan sedang purnama,”
katanya.

Tapi taka pa Ki Demang. Acara tetap asik kok. Tidak ada bulan lebih
baik. Ya, karena ada ronggeng, hehehehe….(Aam Permana S)***

Cite: http://iklan.pikiran-rakyat.com/?mib=pradd.artikel.detail&id=165

Kirim email ke