Tradisi Menyambut Ramadan BULAN suci itu datang lagi, Ramadan. Sebagai bulan istimewa, Nabi Muhammad saw., bahkan perlu memberi sambutan khusus menjelang datangnya Ramadan dengan berpidato di tengah umat Islam waktu itu. Isi pidato tersebut mengabarkan keistimewaan bulan Ramadan dengan berlimpah pahala yang dijanjikan Tuhan bagi orang-orang yang melaksanakan puasa sepanjang bulan tersebut. Ibadah puasa memang istimewa. "Setiap perbuatan anak Adam adalah miliknya, kecuali ibadah puasa, karena ia milik-Ku, dan Aku yang akan menghitungnya" demikian diisyaratkan Nabi dalam Hadits Qudsi.
Beberapa komunitas di tanah Sunda memiliki cara yang unik menyambut hadirnya Ramadan. Tradisi tersebut hingga kini tetap lestari dan dipraktikkan masyarakat untuk menyambut kedatangan Ramadan tahun ini. Ramadan adalah sayyidusuhur (tuannya bulan-bulan). Pada bulan itu Allah menjanjikan beribu pahala bagi para hambanya yang beribadah. Jika Allah saja mengistimewakan bulan ini, apalagi manusia sebagai hambanya, demikian landasan logis dan teologis tradisi itu dilakukan masyarakat. Rasa suka cita menyambut Ramadan itu ditunjukkan masyarakat Sunda jauh sebelum bulan tersebut memasuki hari pertamanya. Adalah sebagian masyarakat Sunda di Kampung Sukamandi, Kabupaten Garut, dan mungkin sebagian masyarakat Muslim di negeri ini, melakukan tradisi menyambut Ramadan dengan cara yang unik. Tradisi menyambut Ramadan dimulai dengan pengajian malam nisyfu Sya`ban. Sebagaimana tersirat pada maknanya, ritual malam nisyfu Sya`ban yang berupa pengajian ini dilaksanakan pada separuh bulan Sya`ban atau bulan ke delapan dalam kalender Hijriah. Tahun ini, 1429 Hijriah, malam nisyfu Syaban jatuh pada Sabtu (16/12). Kesibukan mulai terlihat di rumah-rumah sejak siang dan sore menjelang malam nisyfu Sya`ban tiba. Ibu-ibu dan remaja putri sibuk ngisikan (mencuci) beras di dapur. Sejumlah bumbu khusus untuk membuat sangu tumpeng sudah disiapkan. Sangu tumpeng yang berbentuk kerucut menyerupai aseupan, dihiasi bakakak hayam dan hiasan dari daun-daun yang berderet di pinggirnya. Nasi tumpeng pun siap dibawa ke masjid. Usai salat Maghrib, tidak seperti biasanya, jemaah tidak langsung bubar meninggalkan masjid. Malam itu adalah malam yang istimewa, mereka akan berkumpul di masjid hingga acara selesai. Jemaah yang terdiri dari segala usia dan kalangan masyarakat: orang tua, muda-mudi, anak-anak, laki-laki dan perempuan. Mereka duduk menyandar di dinding masjid membentuk lingkaran besar. Tangan mereka menggenggam Alqur’an. Di tengah lingkaran jemaah, terhidang makanan istimewa, sangu tumpeng yang mungkin dijumpai hanya pada hari-hari istimewa, seperti malam nisyfu Sya`ban ini. Malam nisyfu Syaban memang istimewa. Pada malam itu sebagaimana diyakini masyarakat, Allah akan menganugerahkan pahala lebih bagi setiap amalan manusia. Untuk itu kaum Muslimin merasa perlu secara khusus melakukan kebajikan pada malam tersebut. Caranya dengan memanjatkan doa dan melantunkan secara berjemaah Surah Yasin tiga kali dipimpin seorang kiai kampung. Bagi masyarakat yang memiliki rezeki lebih, mereka akan menyumbangkan nasi tumpeng untuk dibagikan kepada masyarakat. Pada malam itu juga disampaikan tausyiah (ceramah) yang secara khusus membahas datangnya bulan suci Ramadan. Tausyiah tersebut, tidak lain adalah untuk memberi persiapan mental dan spiritual bagi para jemaah dalam menghadapi Ramadan. ** MENJELANG Ramadan tiba, atau tepatnya di pengujung hari terakhir Sya`ban, masyarakat melakukan satu tradisi lagi, yaitu tradisi kuramas. Tradisi ini dilakukan dengan cara adus (mandi). Tradisi yang sama juga dilakukan masyarakat Jawa, dan disebut dengan tradisi padusan. Zaman dulu sebelum kamar mandi dan WC menjadi tempat privat di rumah-rumah, tradisi kuramas ini dilakukan secara massal, beramai-ramai di pemandian umum yang waktu itu banyak tersebar di kawasan pedesaan di Jawa Barat. Anak-anak pada hari terakhir Sya`ban disuruh orang tuanya untuk kuramas. Caranya dengan mengguyur seluruh tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bahan-bahan yang digunakannya sangat sederhana, cukup dengan potongan genteng kecil untuk menggosok bagian kaki, atau menggunakan daluang sejenis daun padi muda sisa memanen. Daun padi itu digosokan pada seluruh badan. Fungsi daun padi tadi sama seperti sabun pada zaman serba pabrik seperti sekarang ini. Tradisi kuramas bertujuan membersihkan tubuh fisik manusia dari segala kotoran. Pada waktu mandi ikut dibersihkan pula kuku-kuku, bahkan kalau perlu kuku yang panjang akan di potong, serta gigi digosok. Bagi kaum adam, jenggot dan kumis pun ikut di babat. Bahkan semua jenis rambut-rambut akan dicukur pendek. Ritual kuramas juga dimaksudkan guna menghilangkan hadats (halangan untuk melakukan ibadah) baik yang disebabkan oleh hadats besar seperti bersetubuh, maupun hadats kecil yang disebabkan oleh aktivitas yang membatalkan wudu seperti buang angin dan kencing. Dengan meng-kuramas seluruh badan, maka tubuh akan jadi bersih dan siap memasuki bulan suci dengan kondisi yang suci pula. Setelah acara kuramas, warga masih melanjutkan satu tradisi terakhir, yaitu bersilaturahmi. Tradisi ini dilakukan biasanya pada sore hari. Warga berkeliling mendatangi rumah-rumah kerabat dan tetangga. Kunjungan tersebut untuk menyampaikan maaf dan minta pembebasan dari segala kesalahan yang terjadi di antara mereka. Ketiga tradisi itu, pengajian malam nisyfu Sya`ban, kuramas, dan silaturahmi, menggenapkan hubungan kosmis manusia Sunda dalam lingkaran teologis (hablum min Allah) dengan cara nisyfu Sya`ban dan kuramas, dan lingkaran kosmologi sosial-profan (hablum minanaas) untuk menegaskan eksistensi manusia Sunda sebagai makhluk sosial melalui kunjungan silaturahmi menyambangi kaum sejawat dan kerabat. Malam pun perlahan mulai luruh di Kampung Sukamandi, Kabupaten Garut. Dengan tubuh bersih dan jiwa yang lapang, warga berbodong-bondong menuju masjid. Malam nisyfu Sya`ban, kuramas dan tradisi silaturahmi berkeliling, telah membuat jiwa dan raga mereka membumbung penuh harap dapat menuai pahala pada setiap bulan suci tiba. Marhaban, Ya Ramadahan.*** DEDE SYARIF Peneliti dan Dosen Sosiologi Agama UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Cite: http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=30433

