Orang Sunda tidak Pegang Kendali
Kamis, 20 Agustus 2009 , 03:46:00

TASIKMALAYA, (PRLM).- Peran politik orang Sunda sekarang ini sangat
memprihatinkan karena nyaris tidak ada tokohnya yang memegang kendali
atau peran penting di lembaga pemerintahan maupun lembaga politik.
Kondisi itu jangan sampai terus berlanjut karena pada akhirnya orang
Sunda hanya menjadi penonton dalam konstelasi politik secara nasional,
sekalipun secara jumlah warga Sunda cukup besar.

Hal itu mengemuka dalam diskusi yang diselenggarakan Komite Nasional
Pemuda Indonesia (KNPI)  Kabupaten  Tasikmalaya, Rabu (19/8). Tampil
sebagai pembicara pengamat politik Jabar Tjetje Hidayat Padmadinata,
Rektor Art International Prof. Dr.  Ahman Sya, dan pemerhati masalah
sosial Iip D. Yahya.

“Harus ada perubahan. Jika tidak, orang Sunda tak mampu mewarnai
kebijakan pembangunan secara luas,” kata Prof. Ahman Sya.

Menurut Tjetje, saat ini mau tidak mau generasi Sunda harus berani
mengubah paradigma Sunda yang selama ini hanya menunggu "Uga" atau
misi yang telah digariskan para pendahulu Sunda. Justru sebaliknya
sekarang ini "Uga" itu yang harus dilakukan masyarakat Sunda dan
berpandangan maju ke depan yang berpatokan pada cita-cita yang tinggi.

Menurut dia, orang Sunda  harus bersifat konservatif modernis yakni
lebih banyak nyawang ka hareup daripada nyoreang ka tukang.

Sementara itu, Iip D. Yahya mengatakan, belakangan ini orang Sunda
memiliki harapan baru untuk bisa maju. Ditandai dengan lahirnya Tim
Independen Organisasi Kasundaan (TIOK) yang diketuai oleh Prof. Dr.
H.M. Ahman Sya.

"Fenomena TIOK ini bisa jadi arus besar terhadap perubahan paradigma
orang Sunda ke depan. Kita melihat munculnya perubahan cara berpikir
orang Sunda dari individualis menjadi organisatoris," katanya.
(A-97/A-147)***

Cite: http://pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=93433

Kirim email ke