Ceuk cenah, lamun ngajar di kelas hayang gancang kaharti ku murid, kudu loba mere conto ulah ukur teori wungkul. Sigana Ibu R, Guru agama SMP Pasundan 7 Bandung, oge boga pikiran kitu dina nerangkeun seuneu naraka nu kacida panasna ka muridna. Manehna make korek api nu dihurungkeun bari disundut-sundut ka muridna, tepi ka aya muridna nu kasundut pipina. Atuh jadi geunjeung, jadi warta dimana-mana.
Nyanggakeun wartosna: Contohkan Neraka, Guru Agama SMP Sundut Murid Rabu, 26 Agustus 2009 - 12:02 wib BANDUNG (okezone) - Di bulan Ramadan yang suci ini, kegiatan tidak terpuji dilakukan oleh seorang guru kelas 3 SMP Pasundan 7 Bandung. Pendidik itu tega menyulut korek api ke sejumlah murid. Kejadian tersebut berlangsung kemarin Selasa (25/8/2009), saat itu tengah berlangsung kegiatan belajar mengajar pelajaran Agama.Pengajar yang bernama Rosnida (48) saat itu tengah mengajar Agama dengan materi tentang Salat. Saat itu, dirinya mencontohkan kepada murid sekelas tentang panasnya api neraka. "Dia mencontohkan dengan menggunakan korek api yang ditempelkan ke tangan dengan jarak beberapa centimeter untuk mencontohkan api neraka lebih panas dibandingkan yang dirasakan api didunia," ungkap Kepala Sekolah SMP Pasundan 7 Bandung, Erik Sudeni di temui di SMP Pasundan 7 Bandung, Rabu (26/8/2009). Hampir seluruh murid ketakutan ketika guru tersebut mempraktikan korek api tersebut. Salah satu yang menjadi korbannya ialah Tantri Agustrianti (14), yang terkena korek api tepat di pipinya. Sehingga meninggalkan luka bakar dan kulitnya mengelupas sedikit. Korban mengaku kejadian itu seperti disengaja. "Saat itu korek dinyalain terus dia bilang nih rasakan panasnya di dunia ini seperti ini sedangkan di neraka lebih-lebih," ungkap Tantri menirukan ucapan guru tersebut. Hampir semu murid merasakan "sundutan" korek tersebut dengan sasarannya tangan. "Mereka banyak yang menghindar dengan alasan panas," jelasnya. Hingga saat ini pihak sekolah pun sudah menegur secara keras guru yang bersangkutan dan dikenai sanksi yang tegas. "Kami sudah tegur keras bahkan sanksinya bisa diskorsing beberapa waktu dan tidak diperbolehkan mengajar," jelas Erik. Namun pihaknya pun hingga masih menyelidiki dan mengkonfrontir kasus tersebut baik kepada murid maupun guru yang bersangkutan. "Memang guru itu mengaku tidak disengaja hanya untuk mencontohkan saja, tetapi tetap kami nilai itu tidak pantas," tegasnya. (Yugi Prasetyo/Koran SI/fit)

